.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      KOMPAS, JUMAT, 19 FEBRUARI 2010

      Epidemi Plagiarisme

      Oleh JANIANTON DAMANIK

      Konon, nama besar tak selalu ditopang kejujuran., Tidak jarang kejujuran harus dikorbankan demi merajut popularitas, entah itu berbentuk gelar, jabatan, pangkat atau kekayaan. Bahkan, nama besar acap digunakan untuk membebat borok kebohongan sehingga publik mudah terlena dan enggan bersikap kritis. Lantas, pemilik nama besar pun bebas melenggang di dunia simulacra (baca: keseolah-olahan), tetapi sampai kapan?

      Toh, akhirnya, nama besar yang disangga pilar ketidakjujuran runtuh juga. Mungkin inilah yang menimpa James B Twit-chell, profesor sastra bidang romantika gotik sekaligus yang fokus pada isu budaya komersialisme di University of Florida, Amerika Serikat, beberapa tahun lalu. Namanya sempat melejit di kalangan ilmuwan berkat buku laris yang ditulisnya.

      la disebut-sebut sebagai guru besar Sastra Inggris terproduktif di universitas itu karena sukses menerbitkan belasan buku favorit. Sebutlah salah satu di antaranya, Living it Up: Our Love Affair with Luxury, terbitan Columbia University Press, 2002, yang mengupas budaya pop dan konsumtif masyarakat Amerika Seri­kat (AS).

       

      Apa pasal? Tak lain adalah tindakan penjiplakan yang dilakukan sang profesor. Aksi tak terpuji itu ternyata telah berlangsung lama. Adalah Thomas Barlett (2008), seorang jurnalis yang getol mewartakan wabah penjiplakan yang menulari kaum akademisi AS, yang merilis berita bahwa Profesor Twitchell menjiplak sebagian ar-tikel di Harvard Business Review untuk mengisi paragraf penting di buku Living It Up karangannya. Lebih lanjut dilaporkan, bahwa aksi penjiplakan oleh Twitchell terendus ketika Roy Rivenburg, mantan re­porter lepas koran The Los Angeles Times, menemukan tulisannya dijiplak mentah-mentah oleh Twitchell di dalam buku larisnya yang lain, Shopping for God.

      Tak pelak lagi, pihak universitas segera turun tangan. Penyelidikan terhadap konduite akademik profesor pun dilakukan sebuah tim khusus. Memang tidak jelas sanksi akademik apa yang dijatuhkan ke pundak Twitchell, tetapi otoritas keilmuannya jelas runtuh di mata publik. Kecam-an pun mengalir deras kepadanya.

      Salah satu datang dari Margaret Soltan. Lewat website-nya, Soltan mengusung tajuk bernada sindiran kepada Twitchell, "His Love Affair with Plagiarism". Di sana Soltan menurunkan testimoni Roy Rivenburg tentang bagaimana terkejutnya membaca salah satu tulisan di buku Shopping for God yang tak lain adalah tulisan Rivenburg sendiri. Ketika hal itu diklarifikasi kepada Twitchell, ia pun mengaku dan meminta /maaf seraya mengatakan tak ingin lagi menulis buku.

      Bukan  hanya itu. Vonis yang lebih menggetarkan dijatuhkan oleh penerbit Simon & Schuster. Penerbit buku-buku best-seller (versi koran  The New  York Times tahun 2009) itu menyatakan akan menunda peluncuran buku Shopping for God edisi sampul lunak. Biasanya reaksi penerbit seperti ini bisa berujung pada pencantuman pengarang di daftar hitam. Jika demi-kian, berakhirlah sudah nama be­sar dan kredibilitas Twitchell sebagai profesor sekaligus penulis kondang.

      Sudah mewabah

      Tentu Twitchell tidak sendirian untuk urusan yang satu ini. Sebab, tidak sedikit pro­fesor di AS yang terjerat kasus penjiplakan. Ada rektor yang ditengarai kuat terlibat kegiatan itu ketika menulis disertasi puluhan tahun sebelumnya. Ada ketua jurusan, juga dengan jabatan pro­fesor, yang terbukti membimbing penulisan karya mahasiswa yang diketahuinya sarat penjiplakan. Tak ketinggalan pula sejumlah ilmuwan yang melakukan pen­jiplakan untuk publikasi di jurnal ilmiah.

      Profesor Lee S Simon, misalnya. Guru besar  kedokteran  di  Harvard  Medical School itu dilaporkan menjiplak karya orang lain ketika ia menulis artikel ilmiah yang dimuat di jurnal biomedis setempat. Se­perti diwartakan  The Chro­nicle   of  Higher   Education (15/03/2009), aksi yang berseberangan dengan etika il­miah itu terdeteksi oleh tim redaksi jurnal  yang  cermat membaca    naskah    kiriman Profesor Simon. Dengan bantuan alat pelacak teks di komputer, akhirnya ditemukan kesamaan isi tulisannya dengan karya orang lain sebelumnya. Tiada maaf, artikel tersebut ditarik kembali oleh pengelola jurnal. Mungkin karena tidak tahan dengan sorotan publik, lalu Profesor Simon pun mengundurkan diri dari jabatannya. Epidemi penjiplakan juga menjalar kekalangan  mahasiswa  di  Inggris.   Tidak tanggung-tanggung, wabah ini merebak di

      University of Cambridge, salah satu perguan The    Chronicle   of   Higher   Education

      (20/1/2009) merilis hasil survei yang menemukan 49 persen dari 1.014 responden

      mahasiswa universitas tersebut terlibat penjiplakan. Bentuknya beragam, mulai dari sekadar menuliskan ide orang lain di dalam tulisan sendiri    tanpa    menyebut    sumbernya, mengopi      dan      lalu      menempelkan (copy-paste) tulisan orang. lain di dalam tulisan sendiri, hingga mengopi hasil riset orang lain kemudian dimuat di laporan penelitian sendiri. Tidak sedikit pula yang mengajukan karya sejenis untuk tugas mata kuliah yang berbeda dengan mengutak-atik judul dan paragraf. Lebih serius lagi, ada yang mengambil jalan pintas dengan cara membeli esai dari penyedia jasa di internet.

      Bagaimana dengan kita? Memang belum ada studi tentang seberapa luas penyebaran epidemi penjiplakan karya ilmiah di negeri ini Ini adalah pekerjaan besar bagi pihak yang berkepentingan   meski   harus diakui bahwa Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen

      Dikti) sudah membuat rambu-rambu sanksi. Yang jelas, kasus yang menimpa seorang guru besar di Universitas Parahyangan, Bandung (Kompas, 10/2/2010), dan skandal sejenis yang melibatkan beberapa akademisi sebelumnya ataupun sesudahnya (berita utama Kompas, 18/2/2010) menunjukkan wabah penjiplakan menjadi ancaman serius bagi in-tegritas alrademik ilmuwan dan calon ilmuwan kita saat ini.

      Repotnya, epidemi penjiplakan karya ilmiah tidak mudah diberantas. Tindakan menjiplak karya orang lain sudah terjadi ratusan tahun silam. Di situs Wikipedia (ensiklopedia bebas) edisi bahasa Inggris, misalnya, kita dapat mengunduh daftar penjiplakan kontroversial yang dilakukan oleh orang-orang ternama di bidangnya sejak Abad Pertengahan. Aksi itu merasuki karya-karya akademik, jurnalistik, sastra, dan musik. Bahkan, sejumlah artikel yang dimuat di Wikipedia itu sendiri pernah diklaim sebagai karya jiplakan.

      Sumber penyebab Tentu tidak terlalu sulit mencari alas an melakukan penjiplakan. Dalam konteks masyarakat kita, ada tiga penyebab yang diduga kuat menggiring orang terjerumus,ke perbuatan aib itu. Pertama,     meminjam     istilah Koentjaraningrat   (1986),   adalah mentalitas meneraba dalam arti ingin cepat tenar dengan cara yang   cemar masih   bercokol

      kuat di masyarakat. Di zaman persaingan tak sehat ini, daya tahan orang untuk mengikuti

      proses kian tergenis dan lalu digantikan     oleh     semangat mengutamakan hasil. Demi hasil, apa pun halal. Maka, prinsip asal-jadi (sarjana, protesor, tokoh populer) dengan cara menjiplak pun jadi acuan bertindak.

      Kedua, budaya simulacra yang bukannya terkikis habis oleh eskalasi rasiona-litas, tetapi justru cenderung kian mengental. Persisnya, ada semacam sindrom megalomania alias "pantang tidak disebut hebat" yang mendera akal sehat banyak orang. Kaum terdidik tidak luput dari sindrom ini. Hal itu terpapar lewat potret kinerja akademik: publikasi ilmiah. Karena takut tidak disebut pakar yang hebat, mereka lalu memproduksi banyak karya Omiah dalam tempo sesingkat-singkatnya. Di titik rawan inilah kemudian aksi pen-jiplakan terlihat begitu seksi sehingga orang tergoda untuk melakukannya.

      Ketiga, minimnya sanksi hukum. Penjiplakan sebagai tindakan mengambil karya orang lain tanpa pemberitahuan secara terbuka, lalu menerbitkannya sebagai karangan sendiri (KBBI, 1994), sesungguhnya mengandung unsur pidana. la bisa disamakan dengan korupsi atau minimal pembajakan. Namun, sejauh ini belum ada sanksi hukum bagi plagiator, kecuali mungkin sanksi administratif belaka.

      Tentu ada kondisi lain yang bisa memuncaki gairah menjiplak. Pertama, fakta bahwa tidak semua anggota redaksi jurnal ilmiah serius menelisik keaslian naskah yang akan diterbitkan, apalagi penulisnya punya nama besar. Kedua, dosen penguji tak mau repot-repot memeriksa baris de-mi baris karya ilmiah yang diajukan mahasiswa. Jadi, selama kedua pilar ini keropos, sulit membasmi epidemi penjiplakan.

      JANIANTON DAMANIK

      Guru Besar Jurusan Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Wednesday, 29 February 2012 07:28  

      Items details

      • Hits: 308 clicks
      • Average hits: 3.3 clicks / month
      • Number of words: 1601
      • Number of characters: 12924
      • Created 7 years and 10 months ago at Wednesday, 29 February 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 10 months ago at Wednesday, 29 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,798
      • Sedang Online 73
      • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9127022
      bacalah.jpg

      Kalender & Agenda

      December 2019
      S M T W T F S
      1 2 3 4 5 6 7
      8 9 10 11 12 13 14
      15 16 17 18 19 20 21
      22 23 24 25 26 27 28
      29 30 31 1 2 3 4

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC