.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      Seputar Indonesia 24 februari 20010

       

      Aib Dunia Pendidikan

      "Dalam dunia akademis plagiarisme itu kejahatan tertinggi"

      Kasus   Banyu   ini   seakan mengingatkan   kembali para   aktor   pendidikan tinggi   Indonesia  bahwa  plagia­risme   atau   penjiplakan   karya ilmiah   seseorang   memang banya kterjadi. Plagiarisme bukan hal baru di Indonesia. Penjipiakan masih  menjadi  masalah utama dunia pendidikan..

      Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008), plagiarism atau dalam bahasa Indonesia disebut plagiarisme didefinisikan sebagai penjiplakan yang melanggar hak cipta. Daiam UU No. 19/2002 tentang Hak Cipta, definisi hak cipta yakni adalah hak eksklusif bagi Pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

      Pencipta adalah seorang atau beberapa orang melahirkan suatu ciptaan berdasarkan kemampuan pikiran, imajinasi, kecekatan, keterampilan, atau keahlian yang dituangkan ke dalam bentuk yang khas dan bersifat pribadi.

       

      Ciptaan adalah hasil setiap karya pencipta yang menunjukkan keasliannya daiam iapangan ilmu pengetahuan, seni, atau sastra. Pemegang hak cipta adalah pencipta sebagai pemilik hak cipta, atau pihak yang menerima hak tersebut dari pencipta, atau pihak lain yang menerima lebih lanjut hak dari pihak yang menerima haktersebut.

      Ciptaan yang dilindungi ada banyak yakni buku, program komputer, pamflet, perwajahan (lay out) karya tulis yang diterbitkan, dan semua hasil karya tulis lain. Ciptaan yang dilindungi termasuk pula ceramah, kuliah, pidato, alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan.

      Kesenian pun dilindungi undang-undang seperti lagu atau musik dengan atau tanpa teks, drama atau drama musikal, tari, koreografi, pewayangan, dan pantomim; seni rupa dalam segala bentuk seperti seni lukis, gambar, seni ukir, seni kaligrafi, seni pahat, seni patung, kolase, dan seni terapan; arsitektur, peta, seni batik, fotografi, sinematografi ; terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai, database, dan karya lain dari hasil pengalihwujudan.

      Dalam buku "Bahasa Indonesia: Sebuah Pengantar Penulisan Ilmiah" karangan Felicia Utorodewo dkk disebutkan, yang termasuk plagiarisme yakni mengakui tulisan, gagasan, temuan, karya kelompok sebagai pemikiran, kepunyaan, atau hasil karya sendiri.

      Plagiarisme termasuk juga menyajikan tulisan yang sama dalam kesempatan berbeda tanpa menyebut asalusulnya, meringkas dan memparafrasekan (mengutip tak langsung) tanpa menyebut sumbernya, serta meringkas dan memparafrasekan dengan menyebut sumbernya, tetapi rangkaian kalimat dan pilihan katanya masih terlalu sama dengan sumbernya.

      Sedangkan hal yang bukan tergolong plagiarisme, pertama, menggunakan informasi yang berupa fakta umum. Kedua, menuliskan kembali (dengan mengubah kalimat atau parafrase) opini orang lain dengan memberi­kan sumberjelas. Ketiga, mengutip secukupnya tulisan orang lain dengan memberikan tanda batas jelas bagian kutipan dan menulis­kan sumbernya.

      Dari beberapa definisi itu, bisa disimpulkan plagiarisme adalah penjiplakan hasil karya seseorang dan diakui sebagai hasil dan kepunyaan sendiri. Orang yang melakukan kegiatan plagiat disebut pelaku plagiat atauplagiator.

      Rektor ITS Akhmaloka menyatakan, plagiarisme adalah tindakan yang tidak bisa ditolerir dari jalan mana pun. Sebab dalam dunia pendidikan orisinalitas merupakan gambaran integritas seseorang. "Bagi saya plagiarisme tidak bisa ditolerir," katanya.

      Rektor Universitas Kristen Maranatha (UKM) Septoratno Siregar menyatakan, plagiarisme sangat haram dilakukan seorang ilmuwan. Apalagi plagiat itu dilakukan untuk kegiatan publikasi seperti menulis artikel di media massa. "Plagiarisme tidak boleh dilakukan ilrnuwan, imbuhnya.

      Pengamat pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Said Hamid Hasan menilai, terlepas dari siapa yang melakukan dan dari mana institusinya, plagiarisme merupakan kejahatan paling tinggi dalam dunia akademis. Kejujuran di mata Hamid, menempati urutan pertama dalam menilai integritas seorang ilmuwan.

      ''Dalam dunia akademis plagiarisme itu kejahatan tertinggi," ujar Hamid.

      Dalam dunia pendidikan, kejujuran merupakan hal paling utama. Seseorang tidak bisa menyebut dirinya ilmuwan jika ia sendiri tidak jujur dalam belajar. "Modal utama dan paling tinggi dari seorang akademisi adalah kejujuran," tandas Hamid.

      Keharaman plagiarisme sudah menjadi kesepakatan tak hanya ditingka tnasional, melaikan jugaditingkat internasional.Gelar akademis sarjana, magister, atau doktor seseorang bisa dicabut jika terbukti dalam mendapatkannya yang bersangkutan menjiplak karya oranglain.

      Begitu pun bagi seorang profesor atau guru besar yang mendapat predikat itu dengan cara mencontek.

      kalau terbukti dalam meraih gelar diperoleh dengan caraplagiat, maka gelar akademis seseorang bisa dicabut. Tapi kalau dilakukan setelah mendapat gelar akademik atau predikat, maka sanksi administrasi dan sanksi moral yang berlaku," jelas Hamid. Kasus Banyu membuahkan pelajaran penting yang bisa dipetik para kaum intelektual. Seorang ilmuwan hendaknya jujur pada diri sendiri dengan semua karya yang dibuat. Termasuk dalam mengutip karya seseorang ketika membuat karya pribadi. Nama orang yang karyanya dikutip harus dicantukan.

      Justru, pengutipan karya orang lain dalam karya sendiri, menunjukkan kejujuran ilmuwan dan berimplikasi orang lain menghormatinya. "Banyak mengutip karya orang lain tidak membuat nilai akademis seseorang turun kualitasnya," terang Hamid.

      Mengutip pendapat orang dengan namanya diyakini malah akan menjadikan derajat kelimuwan seseorang bertambah tinggi.

      Dengan mengutip pendapat orang lain, maka pendapat orisinal dirinya sebagai ilmuwan akan terlihat orang. "Dengan kutipan bisa kelihatan mana pendapat orang lain mana pendapat dirinya. Justru penilaian orang terletak di sana," kata Koordinator Kopertts IV Jabar Banten, Abdul Hakim Halim, menambahkan.Selain itu, pembaca pun tidak akan kehilangan sumber

      referensi awal sebuah teori ilmu. Sebab di dunia ini tidak ada yang benar-benar orisinil. Penemuan terbesar di dunia pun seperti teori relativitas milik Albert Einstein, bersumber dari temuan-temuan sebelumnya. "Dengan mengakui pendapat orang sebagai pendapat sendiri, orang tidak tahu dari mana sumber awalnya," jelas Abdul.

      Hampir semua penggiat pendidikan' sepakat plagiarisme merupakan fenomena gunung es dalam dunia pendidikan. Penjiplakan bukan hanya terjadi di Indonesia tapi juga di luar negeri, bahkan di negara barat yang mengklaim sebagai asal muasal ilmu pengetahuan dunia.

      Hanya segelintir plagiasi yang terlihat, sedangkan yang tidak terlihat diyakini sangat banyak bahkan jumlahnya mencapai ribuan.

      Menurut Abdul, kasus Banyu hanya secuil contoh plagiasi yang terungkap ke media massa. Sebenarnya masih banyak lag! kasus lain dilakukan, bark itu antarmahasiswa mau pun dilakukan dosen terhadap karya mahasiswa.Plagiasi paling banyakterungkap hanya sebatas di levelperguruan tinggi. "Plagiarisme merupakan fenomena gunung es,"sebut Abdul.    •-

      Meski plagiarisme menjadi  isu utama pendidikan, UCM Sisdiknas sama sekali tidak - membahas soal plagiarisme. Hal ini menjadi aneh lantaran undang-undang yang notabene menjadi payung hukum pendidikan Indonesia, malah tidak mengatur sanksi pelanggaran plagiarisme. Bahkan, menurut Abdul, tidak ada satu undang-undang pun yang mengatur sanksi pelaku plagiat.

      "Belum ada undang-undang yang mengatur sanksi bagi seorang plagiat. Selama ini sanksi selalu diselesaikan di tingkat perguruan tinggi," ucap Abdul. Namun, itu tidak menjadi masalah buatnya. Menurut Abdul, ada dua dimensi dalam memandang plagiarisme yakni hukum dan etika moral. Pelanggaran etika moral belum tentu melanggar hukum.

      la mecontohkan, orang yang saat mudik memborong lima kursi kereta api sekaligus di saat yang sama banyak orang membutuhkan, dinilai melanggar melanggar etika tapi tak melanggar hukum. "Tidak semua harus disertai dengan sanksi hukum," imbuh Abdul.

      Dalam konteks plagiarisme, sanksi hukum memang tidak diatur tapi ada yang lebih berat hukumannya. Sanksi itu tidak lain sanksi sosial. Sanksi ini dianggap lebih dari cukup untuk meng-hukum seorang plagiator seperti Banyu. "Sanksi sosial luar biasa dahsyatnya," kata Xbdul menandaskan.

      (rudin)


       

       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Wednesday, 29 February 2012 07:16  

      Items details

      • Hits: 735 clicks
      • Average hits: 7.8 clicks / month
      • Number of words: 2036
      • Number of characters: 16386
      • Created 7 years and 10 months ago at Wednesday, 29 February 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 10 months ago at Wednesday, 29 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,798
      • Sedang Online 56
      • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9126552
      DSCF8790.jpg

      Kalender & Agenda

      December 2019
      S M T W T F S
      1 2 3 4 5 6 7
      8 9 10 11 12 13 14
      15 16 17 18 19 20 21
      22 23 24 25 26 27 28
      29 30 31 1 2 3 4

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC