.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

       

       

      Kompas 4 Juni 2009

       

      Malu Aku jadi Guru Indonesia


      Oleh : Drajat


      Belum terlalu"lama" rasanya penulis lulus di sebuah perguruan tinggi keguruan: 20 tahun lalu! Saat itu pula penulis menancapkan kaki di dunia pendidikan sebagai guru. Antara percaya dan tidak, apakah pantas menjadi guru yang digugu dan ditiru?

      Entahlah, yang pasti penulis mempunyai kebanggaan yang ti­dak terkira sebagai guru. Guru, predikat yang tentunya, kata orang, akan memberikan cahaya kehidupan.Hari-hari pertama, minggu, bulan, hingga tahun dilalui dengan penuh aneka warna. Tidak sedikit warna yang dilalui itu menjadi catatan tersendiri yang tidak bisa dilupakan hingga kini. Suatu ketika penulis mengajar di sebuah seko-lah swasta yang cukup baik. Di sekolah tersebut keran keterbukaan mengalir apa adanya. Bagaimana hubungan yayasan dengan guru, guru dengan siswa ataupun de­ngan orangtua.

      Pendek kata, hubungan harmonis ini memunculkan citra positif bagi dunia pendidikan saat itu. Hal output yang dihasilkan bisa dika-takan hampir 100 persen baik. Betapa tidak? Kami mempunyai "tim sukses" bagaimana menyiapkan peserta didik menjadi sosok yang siap menempuh ujian. Mereka dididik tidak hanya mampu menyelesaikan persoalan akademik. Hal mental dan spiritual tidak ketinggalan. Maka, tidaklah aneh manakala uj ian tiba, mereka bisa melaksanakan dengan tenang dan perca­ya diri.

       

      "Saya jujur, Pak"

      Suatu ketika penulis diberi ke-sempatan untuk mengawasi Eva-luasi Belaj ar Tahap Akhir Nasional (Ebtanas) di sebuah sekolah. Di si­tu pula pengalaman baru bertambah, baik bagaimana mengawasi ujian maupun silaturahim dengan sekolah lain.

      Anak-anak begitu anggun melaksanakan tugas suci yang diem-bannya. Satu, dua, tiga, dan beberapa anak mulai kegerahan! Pada-hal, udara di dalam ruangan tidak , begitu panas. Penulis berusaha mencari angin kesegaran dengan memberikan falsafah kepercayaan diri kepada mereka. Selanjutnya penulis berjalan ke belakang dan mendapati seorang anak dengan selembar jawaban "ajaib" di tangannya, dan secarik kertas lagi dari seorang anak yang polos.

      Penulis juga mendapati seorang anak sedang merobek-robek ker­tas. "Sedang apa, Nak?" tanya pe­nulis sambil membelai rambut-nya. "Ah, enggak," jawabnya lirih. "Besok jangan begitu, ya!" "Kok, Bapak tahu?" tanya anak itu de­ngan wajah memerah.Hari itu adalah hari terakhir ujian. Saat itu juga penulis menceritakan cawan kejujuran di depan anak-anak bangsa. Mereka tam-pak serius menampungnya dalam lubuk hati yang paling dalam. Per-jumpaan itu ditutup dengan sebait doa, "Semoga kau menjadi anak yang saleh."

      Dilangkahkan kaki keluar ru­angan setelah mengucapkan kata perpisahan. Kemudian berjalan menuju seorangteman yangsudah siap dengan motornya. Namun, ketika kaki diangkat ke jok, seketika terhenti. Sebab, beberapa anak berlarian menuju penulis sambil mengucapkan, "Bapak, hari ini saya benar-benar jujur. Betul Bapak, saya jujur," kata seorang anak de­ngan terbata-bata.

      Seketika penulis mematung. Ti­dak terasa air mata berlinang. En-tah apa yang harus diucapkan. Yang jelas secara reflek tangan ini mengacungkan jempol.Cerita itu adalah pengalaman 12 tahun lalu. Kini penulis masih menjadi guru, ya menjadi guru. Melalui pendidikan diharapkan akan menghasilkan manusia Indo­nesia berkualitas. Kita pun sudah mafhum, ciri-ciri manusia Indo­nesia berkualitas adalah beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, disiplin, beretos kerja, profesional, bertanggung jawab, produktif, se-hat jasmani dan rohani, berjiwa patriot, cinta tanah air, menghar-gai jasa pahlawan, berorientasi masa depan, serta mempunyai se-mangat kebangsaan, kesetiaka-wanan sosial, dan kesadaran pada sejarahbangsa.

      Anennya, duma pendidikan kita terjebak dengan sebuah "nilai" besar yang sering diidentikkan de­ngan keberhasilan dan gengsi. Akhirnya, segala cara dilakukan, bagaimana memperoleh nilai besar tanpa memerhatikan kualitas. Tidak sedikit orangtua malu ma-nakala anaknya tidak memperoleh nilai yang diinginkan. Demikian juga pihak sekolah sepertinya kebakaran jenggot. Yang lebih ironis lagi, para pembuat keputusan di lingkungan dinas sepertinya menganggap bahwa bila di lingkungannya ada yang tidak berhasil hal itu merupakan aib. Padahal, jelas yang namanya ujian pasti ada yang lulus dan tidak.

      Tampaknya dalam dunia pendi­dikan kita harus dibuat kurikulum "kejujuran" yang di dalamnya mengajarkan arti kehidupan yang sebenarnya sehingga akan muncul pasukan pembela kebenaran yang tidak takut akan ancaman kecuali kepada Sang Khalik. Simaklah puisi Anak karya Kahli lGibran:

      la adalah milik zamannya, sejarahnya, tantangannya! Jangan biarkan la menje/ma menjadi kamu

      Biarkan ia memilikisemuajawaban bag! semua pertanyaan zamannya Ajar/ ia berkata "Ya" untuk setiap panggilan kebesaran

      Ajari ia berkata "Tidak" untuk setiap godaan kekerdi/an Lepaskan ia se/epas-lepasnya agar ia menjadi ielaki, Sebe/um hukum kele/akian mencam-pakkannya

      ke dalam rimba kehidupan Tiupkan nafas kehendak dalam akal batinnya

      agariakuat, menapaki langitketing-gian..."

       

      Mudah-mudahan aku masih bangga menjadi guru Indonesia, bukan sebahknya malu menjadi guru Indonesia.

       

      DRAJAT

      Mantan Kepala Sekolah

      SMP SalmanAl-Farisi, Bandung;

      Kini Guru SMPN1 Cangkuang

      Banjaran

       

       

      Comments
      nita pani  - dede   |2012-04-30 22:36:54
      fisika itu asyik
      nita pani   |2012-04-30 22:38:00
      I like it
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Friday, 24 February 2012 10:52  

      Items details

      • Hits: 66962 clicks
      • Average hits: 787.8 clicks / month
      • Number of words: 3447
      • Number of characters: 30456
      • Created 7 years and ago at Friday, 24 February 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and ago at Friday, 24 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,794
      • Sedang Online 120
      • Anggota Terakhir CECEP ABDUL AZIS HAKIM

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9103229
      DSCF8798.jpg

      Kalender & Agenda

      March 2019
      S M T W T F S
      24 25 26 27 28 1 2
      3 4 5 6 7 8 9
      10 11 12 13 14 15 16
      17 18 19 20 21 22 23
      24 25 26 27 28 29 30
      31 1 2 3 4 5 6

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC