.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      800x600 Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

      SENIN,13 JULI 2009 MEDIA INDONESIA

      Global School dalam Timbangan Teori Globalisasi Pendidikan


      Oleh Fuad Fachruddin

      Direktur Indonesian Institute for Society Empowerment (Insep) - Jakarta

      AKHIR-AKHIR ini sekolah global atau berstandar internasional bermunculan. Sebagian seko­lah berlabel seperti itu menggunakan konsep dan sistem yang memenuhi syarat standar internasional. Se­bagian lainnya baru memenuhi tampilan fisik, sedangkan unsur-unsur substansial yang menunjuk mutu internasional masih belum terpenuhi Kita tidak tahu apakah pemahaman terhadap konsep global sama dengan pendidikan global. Kita juga tidak tahu apakah konsep dan strategi pembelajaran yang dipergunakan untuk mencapai predikat sekolah berstandar internasional atau sekolah global tersebut sudah tecermin dalam budaya akademik. Otoritas pendidik­an kita juga rajin dalam mengampanyekan dan menargetkan berdirinya ratusan sekolah atau madrasah berstandar internasional. Ada kesan gamang di tingkat Otoritas untuk mewujudkan sekolah berstandar internasio­nal. Hal ini dapat ditelusuri dari praktiknya yang dominan diwarnai dengan label atau nama dan orientasi formalitas. Untuk itu, kita perlu mengkaji secara cermat substansi sekolah global atau sekolah berstandar internasional.

      Pendidikan global dan sekolah global

      Apakah SBI/sekolah global sama dengan pendidikan global? Pendidikan global muncul sebagai upaya mempersiapkan generasi muda agar mereka siap menghadapi kehidupan dunia yang sarat dengan persoalan dan ada saling keterkaitan satu bangsa de­ngan bangsa lain, satu dimensi kehidupan dengan dimensi lainnya. Sekolah atau insti­tusi pendidikan menyiapkan generasi muda untuk dapat hidup kreatif dan bekerja sama dalam menghadapi problematika global. Interkoneksi kehidupan membuat dunia seakan kampung global, sebagai implikasi dari pertumbuhan penduduk dan kemajuan teknologi komunikasi. Pada sisi lain, kondisi global ini telah mendorong perkembangan disiplin ilmu yang memberi kekuatan untuk keluar dari pakem menuju pema­haman sistem dan dinamika global (Gau­delli, 2003).

       

      Sekolah global sesungguhnya sedang akan meneladani dan menjadikan sikap saling memahami, saling menerima dan memberi dan kerja sama sebagai budaya sekolah. Problema global telah menumbuhkan iklim yang subur atau sangat mendukung pengembangan kurikulum global. Kurikulum global merupakan proses kajian terhadap interkoneksi, perspektivitas, alternatif, dan perhatian terhadap persoalan global. Kuriku­lum global menyiapkan peserta didik dapat hidup dalam kehidupan dunia yang ber-interkoneksi secara progresif tempat nilai manusia, institusi, perilaku secara kontekstual dikaji melalui pedagogi yang dapat meningkatkan keterlibatan peserta didik se­cara kritis dalam kehidupan yang kompleks, dengan memanfaatkan atau memilih informasi yang melimpah ruah sebagai bahan untukmenentukan tindakan sosial (Gaudelli, 2003).

      Pendidikan global memberi peluang terha­dap keragaman perspektif dalam konteks materi ajar dan keragaman perspektif peserta didik. Untuk mendorong tumbuhnya berbagai perspektif, pendidikan global tidak hanya menekankan apa yang dipelajari, namun juga tentang bagaimana kita belajar (how we learn atau learn how to learn). Guru dalam sebuah proses pendidikan global bertugas melakukan advokasi pembelajaran berbasis peserta didik (learner centred learning), dengan pendekatan yang interaktif dan partisipatori (Khan, 2008).

      Pendidikan global juga rajin mengampanyekan perubahan cara pembelajaran yang tradisional, rote pedagogy, ke konsep dan mo­del pembelajaran konstruktif dan multidisiplin. Perubahan pemahaman pedagogi ini diperlukan untuk memberi bekal peserta didik keterampilan dan kemampuan (apti­tude) yang diperlukan dalam kehidupan global yaitu learning is self-motivated and di­rected; yang menekankan pada pemenuhan kebutuhan peserta didik dalam berbagai dimensi seperti estetika, moral, emosi, fisik, dan spiritual dalam kehidupan global, intelektualitas, membangun pengetahuan dalam proses pembelajaran yaitu interaksi dinamis antara guru-pendidik, murid dan sumber informasi yang berlimpah ruah (Gaudelli, 2003).

      Guru juga harus mampu menanamkan pesan (kesadaran) yang terkandung dalam setiap

      materi ajar seperti nilai-nilai pemerataan, keadilan, menghargai hak-hak orang lain, kerja sama, dan saling ketergantungan. Guru dengan demikian dapat dan akan terus member peserta didik untuk peluang membangun pengetahuan dan perspektifnya tentang topik atau area kajian yang menjadi minatnya.

      Oleh karena itu, peserta didik harus dibekali de­ngan cara pandang atau orientasi kurikulum yang terbuka. Tujuannya antara lain untuk (1) mem­bangun kesadaran dan perspektif siswa tentang keragaman budaya; (2) kesadaran tentang kelangsungan planet atau dunia dalam perspektif yang luas demi menjaga keberlangsungan hidup setiap makhluk di muka bumi ini; (3) kesadaran lintas budaya, yaitu keragaman gagasan atau pemikiran serta praksis yang akan mereka temukan dalam kehidupan sehari-hari. De­ngan demikian para siswa akan memiliki cara pandang yang lebih terbuka dan mau berbagi pandangan sekaligus pengalaman; (4) adalah kesadaran pengetahuan tentang dinamika global bahwa dunia merupakan sistem yang berhubungan, dan oleh karena itu para siswa dapat memiliki kesediaan dan kesiapan bergabung dalam sebuah kehidupan. Dengan kesadaran ini siswa diharapkan akan men­jadi sadar tentang pilihan dan tindakan pribadi dan kolektif yang dapat memengaruhi dunia kini dan akan datang; serta (5) adalah tumbuhnya kesadaran tentang pentingnya sebuah proses. Process mindedness (berpikir berproses) adalah sebuah pilihan manusia bahwa orang secara individu atau kelompok selalu dihadapkan ke persoalan yang selalu harus dapat dipecahkan (Gau­delli, 2003 dan Hick, 2003).

      Untuk itu, guru harus dibekali dengan beratus gagasan tentang bagaimana mengajarkan dimensi globalitas, termasuk kemajemukan manusia (human diversity) yang me­rupakan ide pokok pendidikan global seka­ligus pendidikan multikultural (Gaudelli, 2003).

      Sekolah global dan pendidikan internasional

      Banyak pendapat tentang pendidikan internasional. Ada pihak melihat pendidikan internasional dari perspektif hubungan internasional. Internasionalisasi pendidikan adalah memasukkan dimensi internasional dalam sistem pendidikan nasional, yaitu agenda peningkatan pemahaman internasional atau 'international-mindedness' dalam pendidikan. Sekolah mempunyai peran meningkatkan etos internasional yakni menyiapkan pe­serta didik menjadi warga dunia yang dibangun berdasarkan prinsip toleran, kerja sama internasional, keadilan dan perdamaian. Pendidikan internasional dipandang sebagai sarana mengubah dunia melalui peningkatan pemahaman internasional de­ngan mempertemukan orang dari berbagai negara. Pendidikan internasional adalah diskursus transformatif yang meletakkan semua kajian dalam frame supranasional dan untuk memelihara perdamaian (Cambridge; Thomson, 2001).

      Dalam, perspektif relasi internasional, internasionalisasi pen­didikan juga dapat dilihat dari pendekatan sebagai berikut. Pertama, pendi­dikan dilihat dari pendekatan unilateral. Internasionalisasi pendidikan adalah upaya untuk meningkatkan internasionalisme dalam pengertian sempit, karena interna­sionalisasi pendidikan membawa pengembangan sekolah dengan misi yang terkandung dalam kurikulum suatu negara yang dicangkokkan ke dalam konteks atau sistem nasional. Kedua, internasionalisme bilateral yaitu internasion­alisasi pendidikan yang menciptakan kesempatan untuk saling tukar atau kunjungan antar pelajar atau mahasiswa dari berbagai negara. Ketiga, internasionalisme multilateral yaitu internasionalisasi pen­didikan diwujudkan dalam program kerjasama antardua atau lebih pemerintah atau kelompok nasional lainnya. Misalnya, sekolah internasional bekerja sama dengan PBB atau sekolah Uni Eropa sebagai hasil kesepakatan (Cambridge; Thompson, 2001).

      Ada beberapa model pendidikan interna­sional, yaitu (a) sistem nasional yang dicangkok (a transplanted national system) dimaksudkan untuk memberikan layanan pada emigran dari suatu negara di negara lain, (b) sistem nasional yang dicangkokkan untuk melayani mahasiswa dari negara lain, (c) a simulacrum sistem pendidikan nasional yang dicangkokkan, misalnya program IBO (In­ternational Baccalaurate Organization), memberikan layanan pendidikan untuk expatriate client dan atau warga negara host country. Kesemuanya terkandung dalam pendidikan internasional dalam konteks meningkatkan fastabiqul khairat dengan sistem pendidikan nasional. Penjaminan mutu pendidikan internasional dilakukan melaku akreditasi internasional dan berdasarkan standar kualitas internasional untuk memfasilitasi peserta didik menghadap keadaan global. Pendidikan interna­sional berfungsi melayani pasar yang memerlukan sertifikasi global terhadap kualifikasi pendidikan (Cambridge; Thompson, 2001).

      Comments
      dewi   |2012-05-23 05:06:49
      makasih banget tulisannya sangat bermanfaat lho...
      dewi   |2012-05-23 05:07:37
      makasih banget tulisannya sangat bermanfaat lho...
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Thursday, 30 May 2013 17:27  

      Items details

      • Hits: 3047 clicks
      • Average hits: 38.1 clicks / month
      • Number of words: 1509
      • Number of characters: 12706
      • Created 6 years and 8 months ago at Friday, 02 March 2012 by Administrator
      • Modified 5 years and 6 months ago at Thursday, 30 May 2013 by Suherman

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 153
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091492
      DSCF8803.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC