.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      selasa (ron) 5 MEi 2010 pikiran-rakyat

      Gizi buruk dan kemiskinan


      HAMPIR setiap hari Harian Umum Pikiran Rakyat memberitakan kasus gizi buruk di wilayah kabupaten dan kota di Jawa Barat. Sebanyak 353 balita di kabupaten Ciamis menderita gizi buruk. Selain itu, balita yang masuk kategori gi­zi kurang mencapai 1.079 orang ("PR", 27/4). Tujuh anak di sejumlah desa di Kecamatan Bojong gambir, Kab. Tasikmalaya, menderita gizi bu­ruk ("PR", 28/4). Menurut Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Barat Ny. Hj. Netty Ahmad Heryawan, jumlan penderita gizi buruk di Jawa Barat hingga saat ini, sudah mencapai 416.000 orang ("PR", 24/4).

      Kasus gizi buruk ini terjadi hampir setiap tahun. Pada 2006 terjadi kasus kematian balita gizi buruk terbanyak di Kabupaten Karawang yaitu enam balita. Kasus balita dengan gizi buruk lainnya yang meninggal terjadi di Kabupa­ten Subang, Kuningan, Majalengka, serta Kabupaten Cirebon. Sementara kasus balita gi­zi buruk terbanyak terjadi di Kabupaten Cirebon yakni 3.727 kasus, Bandung (3.653), serta Karawang (3.192). Diperkirakan masih banyak balita gi­zi buruk yang tidak dibawa ke puskesmas, dengan alasan lokasi puskesmas jauh dari tern-pat tinggal dan banyak orang tua yang malu membawa anaknya yang mengalami gizi buruk ke puskesmas. Hal ini tentu sungguh memprihatinkan.

      Sejumlah berita tadi mencuatkan persoalan kesehatan dan gizi yang lebih sering dialami pada anak-anak usia dini yang berasal dari keluarga tidak mampu dan tinggal di wilayah perdesaan. Terjadinya kasus busung lapar dan kurang gizi (gizi buruk) terhadap anak-anak yang tinggal di perdesaan memberikan dampak yang cukup memilukan bagi barigsa ini. Secara logika, bagaimana sebuah bangsa dapat bangkit jika penerus bangsanya memiliki persoalan kesehatan dan menderita gizi buruk yang berkepanjangan. Ini dapat memasung kreativitas, ide, potensi, serta kemampuan besar yang mereka miliki jika saja mereka  selalu tersangkut pada permasalahan sumber primernya dan tidak mempunyai kesempatan untuk dapat mengembangkan pendidikan dan mengubah masa depannya.

      Tragedi ini menjadi teror ketidakadilan pembangunan ketahanan pangan sekaligus pelanggaran atas Undang-Undang Pangan No.7 Tahun 1996. Kasus gizi buruk pada anak ba­lita yang meningkat akhir-akhir ini telah membangunkan pemegang kebijakan untuk melihat lebih jelas bahwa bali­ta sebagai sumber daya untuk masa depan ternyata mempu­nyai masalah yang sangat be­sar. Masalah gizi buruk dan kekurangan gizi telah menjadi keprihatinan dunia khususnya di Indonesia, sebab penderita gizi buruk umumnya adalah balita dan anak-anak yang ti­dak lain adalah generasi pene­rus bangsa. Kasus gizi buruk merupakan aib bagi pemerintah dan masyarakat karena ter­jadi di tengah pesatnya kemajuan zaman.

      Adanya kejadian gizi buruk yang hampir terjadi di setiap daerah telah mengancam kese­hatan dan kesejahteraan dan masa depan banyak anak-anak khususnya di wilayah Jawa Ba­rat. Menurut data nasional, terdapat 18,4 persen anak-anak di bawah usia lima tahun yang mengalami kekurangan berat badan dengan angka per-tumbuhan di bawah normal sebesar 36,8 persen yang me­rupakan indikator adanya ke­kurangan nutrisi yang kronis. Masalah gizi buruk ini menjadi potret buruk pemenuhan kebutuhan mendasar bagi ma­syarakat Indonesia. Gizi buruk menjadi perhatian masyarakat ketika media mengangkat ka-sus-kasus meninggalnya anak-anak di banyak daerah karena kekurangan gizi.

      Menurut catatan Dinas Ke­sehatan (Kadinkes) Jabar, di tahun 2009 ada 1,01 persen balita di Jabar menderita gizi buruk dari 3.536.981 anak ba­lita. Anak balita yang masuk dalam kategori gizi kurang mencapai 380.673 orang. Ba­gaimana pendekatan dan'pe-nanganannya oleh pemerintah dan masyarakat?

      Dalam hal ini pemerintah khususnya Dinkes Jabar telah melakukan berbagai upaya penanggulangan untuk mengurangi/mencegah tenadinya ka­sus gizi buruk di wilayah Jawa Barat melalui program-prog­ram yang riil dan sosialisasi soal pola hidup sehat. Namun, dalam pelaksanaannya masih mengalami kendala, salah satu kendalanya adalah belum maksimalnya partisipasi masyara­kat terhadap program kesehat­an pemerintah. Untuk itu, perlu adanya. partisipasi masyara­kat, baik dari kalangan pergu-ruan tinggi, LSM maupun ma­syarakat lainnya untuk ikut berpartisipasi dalam penang-gulangan dan pencegahan ka­sus gizi buruk.

      .    Malnultrisi pada anak erat kaitannya dengan kemiskinan dan kebodohan serta adanya faktor budaya yang mempengaruhi pemberian makanan tertentu meski belum layak dikonsumsi di usianya. Banyak-nya anak-anak penderita keku­rangan gizi dan gizi buruk di sejumlah wilayah di tanah air disebabkan ketidaktahuan orang tua akan pentingnya gizi seimbang bagi anak-anak me­reka karena umumnya pendi­dikan rendah dari orang tua serta faktor kemiskinan. Kurangnya asupan gizi bisa disebabkan oleh terbatasnya jum-lah makanan yang dikonsumsi atau makanannya tidak memenuhi unsur gizi yang dibutuhkan karena alasan sosial dan ekonomi, yakni kemiskinan. Alasan ekonomi ini karena ketidakmampuan atau rendahnya daya beli masyarakat miskin terhadap kebutuhan pangan sehari-hari. Jangankan ingin membeli pangan bergizi (misalnya susu yang harganya mahal) untuk makanan yang sekadar mengenyangkan saja sulit didapat. Selain itu, gizi buruk dapat disebabkan oleh rusaknya beberapa fungsi or­gan tubuh sehirtgga tak bisa menyerap zat-zat makanan secara baik.

      Anak adalah aset pembangunan dan generasi penerus bangsa. Oleh karena itu, pemerintah bersama masyarakat melakukan berbagai upaya un­tuk meningkatkan kesejahteraan anak Indonesia. Upaya ter-sebut memang belum sepenuhnya memberikan hasil sebagaimana yang diharapkan. Anak usia dini (0-8 tahun) adalah investasi bangsa, kare­na mereka adalah generasi pe­nerus bangsa. Kualitas bangsa di masa depan ditentukan kualitas anak-anak saat ini. Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia harus dilakukan sejakdini, sistematis, dan berkesinambungan. Tumbuh ber-kembangnya anak usia sekolah yang optimal tergantung pemberian nutrisi dengan kualitas dan kuantitas yang baik serta benar. Dalam masa tumbuh kembang tersebut pemberian nutrisi atau asupan makanan pada anak tidak selalu dapat dilaksanakan dengan sempurna.

      Masa depan bangsa hanya mungkin dipertahankan apabila didukung upaya pembangunan yang intinya memperbaiki dan meningkatkan kuali­tas hidup masa depan yang le­bih baik dari masa kini. Keter­sediaan pangan adalah salah satu faktor yang mendukung upaya pembangunan karena pangan termasuk kebutuhan dasar terpenting dan sangat esensial dalam kehidupan ma­nusia termasuk juga memperhatikan keamanan pangan yang dikonsumsi.

      Tak teringkari pembangun­an bangsa adalah membangun sumber daya manusia yang berkualitas, sehat, cerdas, dan produktif. Bukti empiris menunjukkan status gizi yang ba­ik menjadi parameter utama, dan status gizi yang baik amat ditentukan oleh jumlah asupan pangan bermutu yang dikon­sumsi. Eratnya keterkaitan ke-cerdasan bangsa dengan jum­lah asupan pangan bermutu menggulirkan pertanyaan publik, apakah ketersediaan pa­ngan nasional mampu mencukupi rata-rata konsumsi yang dianjurkan FAO untuk penduduk Indonesia yang kini ber-jumlah 230 juta?

      Gizi buruk dekat dengan ke­miskinan dan kebodohan, ber-kaitan dengan masalah kemis­kinan lebih disebabkan masya­rakat kurang menguasai akses-akses dalam menambah ilmu, keterampilan, modal, dan pengalaman untuk menggali sumber penghidupan yang da-pat membebaskannya dari belenggu kemiskinan. Masyara­kat yang kurang beruntung masih diselimuti dengan ketidakberdayaan (gizi dalam menggapai kesejahteraan meski untuk tingkat kesejahteraan paling dasar sekalipun. Inilah fenomena sosial-ekonomi yang bisa kita lihat secara kasat mata di berbagai daerah, termasuk Jawa Barat. Perlu adanya upaya pemberda-yaan masyarakat miskin untuk meningkatkan daya beli mere­ka terhadap pemenuhan kebu­tuhan pangan yang bergizi, kesehatan, dan pendidikan.

      Oleh karena itu, upaya pemberdayaan masyarakat miskin harus segera dilakukan secara konsisten dan terintegrasi, seperti melalui pengembangan investasi masuk desa atau lembaga ekonomi desa, karena masyarakat miskin lebih banyak tersebar di perdesaan. Hal ini dilakukan agar masya­rakat miskin dapat bertahan dalam situasi perekonomian yang serbasulit seperti saat ini. Dengan adanya pemberdayaan masyarakat miskin baik yang tinggal di perkotaan maupun di perdesaan, diharapkan me­reka dapat memenuhi kesejahteraan   hidup   keluarganya, khususnya balita mereka baik itu berupa pangan, kesehatan, dan pendidikan. Dengan terpenuhinya kesejahteraan hidup mereka, boleh dikatakan akan terhindar dari kehilangan ge­nerasi penerus bangsa (toss ge­neration). Untuk itu, perlu ke-terlibatan/kepedulian semua pihak (masyarakat) dalam me-wujudkan cita-cita bangsa In­donesia yang tercinta.

      Penulis, dosen Jurusan Teknologi Pangan, dan Pernbantu Dekan II Fakultas Teknik, Universitas Pasundan Bandung.

      Oleh WISNU CAHYADI

      Comments
      qizy   |2012-04-21 18:54:42
      sangat memprihatinkan
      qizy   |2012-04-21 18:55:44
      memprihatinkan
      qizy   |2012-04-21 19:01:01
      kasian ..
      habibi  - swasta   |2013-01-05 22:11:30
      saaadis
      tuti alawiyah   |2013-01-12 21:56:02
      Good...
      tuti alawiyah   |2013-01-12 21:56:31
      good
      jio   |2013-03-27 20:32:06
      kasian
      jio   |2013-03-27 20:32:27
      kasian
      faz   |2013-05-08 06:19:02
      prihatin
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 8158 clicks
      • Average hits: 121.8 clicks / month
      • Number of words: 3408
      • Number of characters: 26699
      • Created 5 years and 7 months ago at Monday, 16 April 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 5,595
      • Sedang Online 38
      • Anggota Terakhir jeanninezs1

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9059528
      Dialog_Peradaban.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2017
      S M T W T F S
      29 30 31 1 2 3 4
      5 6 7 8 9 10 11
      12 13 14 15 16 17 18
      19 20 21 22 23 24 25
      26 27 28 29 30 1 2

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC