.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      800x600 Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

      REPUBLIKA, 8 AGUSTUS 2009

      Geografi Pendidikan Tinggi


      Amich Alhumami

      Penekun Kajian Pendidikan

      Globalisasi ditandai oleh interaksi yang makin intensif di antara bangsa-bangsa di dunia yang mencakup hampir semua aspek kehidupan. Di era global, interaksi paling dominan terutama bidang ekonomi, politik internasional, seni, dan budaya, yang ditopang oleh kemajuan teknologi informasi yang begitu spektakuler. Pendidikan tinggi pun tak bisa dilepaskan dari proses globalisasi; banyak negara mulai menjalin kerja sama dalam pengembangan universitas. Kerja sama dilakukan melalui, antara lain, membangun cabang universitas di suatu negara, pertukaran tenaga akademik (dosen, peneliti), program sandwich, kegiatan riset dan pengembangan, pertukaran mahasiswa, dan lain-lain. Kerja sama antar universitas dunia ini lazim dila­kukan antara negara-negara Eropa dan Amerika dengan negara-negara sedang berkembang, karena Ero­pa/Amerika dipandang sebagai pusat kemajuan dan keunggulan di bidang pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan/teknologi.

      Secara tradisional, Amerika/Eropa selalu menjadi kiblat pendidikan tinggi bagi para pencari ilmu dari berbagai penjuru dunia. Menurut UNESCO, sampai tahun 2005, sekitar 138 juta mahasiswa dari berba­gai negara sedang belajar di universitas-universitas terkemuka di negara-negara Barat (belum termasuk Australia). Angka ini meningkat 40 persen dalam 10 tahun terakhir, seperti dicatat oleh The Center for Observatpry on Borderless Higher Education, London. Namun, negara-ne­gara fearat mulai mendapat pesaing baru dengan kemunculan pusat-pusat pendidikan tinggi di luar wilayah Amerika/Eropa.

       

      Kiblat pendidikan tinggi perlahan mulai bergeser ke negara-negara Teluk dan Asia, terutama Asia Timur. Amerika/Eropa tidak lagi menjadi destinasi tunggal untuk melanjutkan pendidikan tinggi, karena sejumlah universitas berkelas dunia juga dibangun di kedua kawasan non-Barat itu.

      Negara-negara Teluk, seperti Abu Dhabi, Qatar, dan Dubai dengan mengadopsi strategi dunia bisnis mencoba mengembangkan pola joint venture dengan universitas-universitas prestisius Amerika/Eropa da­lam membangun lembaga pendidik­an tinggi. Abu Dhabi telah 'memindahkan' Universitas Sorbonne ke negara makmur ini dan segera mem­bangun cabang MIT, NYU, dan Johns Hopkins. Qatar sedang bernegosiasi dengan top-tier American universi­ties Cornell, Carnegie Mellon, Geor­getown, Texas A&M, Northwestern, untuk melakukan hal serupa. Komitmen membangun pendidikan tinggi berkelas dunia tercermin pada belanja publik yang mencapai 1,5 miliar dolar AS per tahun untuk pendidik­an dan riset, padahal jumlah penduduk Qatar kurang dari 1 juta jiwa. Bahkan, Dubai sudah lebih dulu bermitra dengan universitas-universitas masyhur dunia, seperti Har­vard, Boston, Michigan, dan London Business School.

      Penguasa Dubai, Mohammed Al-Maktoum, mendonasikan dana senilai 10 miliar dolar AS untuk mendirikan yayasan pendidikan guna me­ngembangkan world-class higher edu­cation centers (lihat Newsweek 18-25/08/08). Jelas, negara-negara Teluk yang kaya minyak itu menyadari pentingnya pendidikan, teknologi, dan riset ilmiah sebagai syarat mutlak untuk meraih keunggulan di pentas dunia, Uang yang melimpah dibelanjakan untuk kepentingan membangun peradaban baru yang dilukiskan oleh Daniel Balland, pimpinan Universi­tas Sorbonne kampus Abu Dhabi sebagai a modern-day Andalusia.

      Istilah ini merujuk pada zaman keemasan Islam pada abad ke-8 sampai ke-15 yang berpusat di Spanyol, yang ditandai oleh pencapaian cemerlang di bidang filsafat, ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan kebudayaan, yang mengilhami kelahiran Aufklaurung Eropa.

      Negara-negara Asia Timur, seperti Cina, Korea Selatan, Singapura, dan Hong Kong juga saling berlomba mengalihkan supremasi pendidikan tinggi Amerika dan Eropa ke wilayah mereka. Pada awal 2000-an, lebih dari 400 ribu mahasiswa internasional yang berasal lebih dari 160 negara belajar di Cina, mulai dari jenjang sarjana, master, sampai doktoral. Dari jumlah tersebut, sekitar 90 ribu orang mendapat beasiswa dari Pemerintah Cina, yang bertujuan untuk memikat sebanyak mungkin mahasiswa asing. Mayoritas mahasiswa internasional berasal dari kawasan Asia (74,85 persen), sementara kawasan lain mencakup Eropa (11,16 persen), Amerika (9,86 persen), Afrika (2,66 persen), dan Oseania (1,47 persen).

      Sebagai upaya meningkatkan kualitas perguruan tinggi, Pemerintah Cina mengucurkan dana sebesar 4 miliar dolar AS untuk universitas-universitas riset terkemuka, yang berhasil menembus peringkat terbaik dunia. Bahkan, menurut laporan World Bank (2006), banyak perguru­an tinggi Cina yang menjalin kemitraan dengan universitas-universitas asing untuk mengembangkan lebih dari 700 program akademik berstandar internasional. Korea Selatan pun tak mau ketinggalan langkah dengan meningkatkan public expenditure untuk pendidikan tinggi sebesar 2,6 persen dari GDP, hanya sedikit lebih rendah dari Amerika (2,8 persen). Bahkan, dalam lima tahun mendatang, Pemerintah Korea Selatan sudah menyiapkan dana lebih dari 2 miliar dolar AS untuk memperkuat program riset ilmiah bagi universi­tas-universitas domestik serta membangun pusat pendidikan dan bisnis seluas 20 ribu hektare, bekerja sama dengan dua universitas Amerika: State University of New York-Stony Brook dan North Carolina State
      University.

      Universitas-universitas Singapura juga menempuh langkah yang sama dengan menjalin kerja sama dengan University of Chicago dan sekolah-sekolah bisnis terkemuka Perancis. Bahkan, Pemerintah Singapura memasang target, tahun 2015 nanti uni­versitas-universitas terpandang, seperti National University of Singa­pore, Nanyang Technological Univer­sity, mampu menarik 150 ribu maha­siswa internasional untuk belajar di negara-kota ini dengan menawarkan aneka beasiswa. Dengan strategi pengembangan perguruan tinggi yang demikian itu, negara-negara Asia Timur berhasil mengantar sejumlah universitas menjadi lembaga elite dunia. Menurut Times Higher Edu­cation Supplement (2008), dari 200 universitas terbaik dunia beberapa berasal dari Asia Timur: Cina (6), Hong Kong (4), Korea Selatan (3), dan Singapura (2).

      Meskipun London, Paris, Boston, New York, atau Chicago tidak serta-merta dapat digantikan oleh Abu Dhabi-Qatar-Dubai, Beijing, Shang­hai, Seoul, atau Singapura sebagai centers of excellence, namun arah pergerakan geografi pendidikan ting­gi jelas menuju ke wilayah-wilayah tersebut. Dengan kata lain, negara yang menjadi pilihan untuk menem­puh pendidikan tinggi pun menjadi lebih beragam dan tidak terkonsentrasi di salah satu kawasan saja: Eropa dan Amerika. Pertanyaan yang patut diajukan adalah: di manakah posisi Indonesia dan apa yang sedang dilakukan untuk membangun pusat-pusat keunggulan berkelas dunia? Siapkah Indonesia bersaing di pentas global untuk menjadi salah satu kiblat pendidikan tinggi, setidaknya untuk kawasan Asia? Jika tidak segera berbenah untuk meningkatkan kualitas perguruan tinggi, Indonesia hanya akan menjadi halaman belakang bagi negara-negara Asia, yang menyimpan ambisi besar menjadi kiblat baru pendidikan tinggi dunia. •

      Comments
      Kim  - Re     |2012-04-02 09:12:29
      Your blog was very good, i was very much impressed.
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Thursday, 30 May 2013 17:38  

      Items details

      • Hits: 1821 clicks
      • Average hits: 22.8 clicks / month
      • Number of words: 1225
      • Number of characters: 10135
      • Created 6 years and 8 months ago at Friday, 02 March 2012 by Administrator
      • Modified 5 years and 6 months ago at Thursday, 30 May 2013 by Suherman

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 151
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091494
      DSCF8794.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC