.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      Mengelola Warung Pasinaon

      Ada apa saja di Warung Pasinaon? "Semuanya ada. Mau minta apa saja di sini, kalau dapat memenuhinya, akan kami penuhi. Makanya, kami menamai tempat ini warung. Bedanya, ini warung untuk siapa saja belajar banyak hal," kata Tirta Nursari menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya.

      OLEH AMANDA PUTRI NUGRAHANTI

      Tirta Nursari adalah pendiri Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Warung Pasinaon di Desa Bergas Lor, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Diberi nama warung agar banyak orang tertarik datang ke tempat itu dan pulang dengan "kenyang" ilmu pengetahuan. Sedangkan "pasinaon" dalam bahasa Jawa berarti pembelajaran. Siapa saja yang ingin belajar boleh datang ke warung ini.

      Berawal tahun 2007, Tirta melihat banyak anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya kurang mendapat perhatian orangtua. Sejak daerah itu tumbuh menjadi kawasan industri, sebagian besar warga bekerja sebagai buruh pabrik, terutama kaum perempuan.

      Waktu seorang ibu berada di rumah justru minim. Para ibu pergi bekerja pagi dan pulang pada malam hari. Peran mereka di sektor do-mestik digantikan kaum bapak Anak-anak yang kurang mendapat perhatian, pergaulannya pun tak ter-kontrol. Beberapa anak bahkan mengalami kekerasan dalam rumah tangga.

      Kondisi tersebut membuat Tirta memutuskan berhenti mengelola lembaga bimbingan belajar (bimbel) miliknya Alasannya, pengelolaan bimbel yang profesional tak mampu menjangkau anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu.

      "Saya putuskan bergerak di bidang sosial saja supaya anak-anak itu bisa memiliki tempat belajar. Saat itu saya niembayangkan, anak-anak butuh tempat untuk menyalurkan energi mereka dengan hal-hal yang positif," kata Tirta yang kemudian membuka bimbel Bahama Inggris gratis untuk Keberadan Bahasa Inggris itu ditawarkan kepada warga melalui pengumuman di masjid. Proses pembelajaran pun dimulai di masjid. Berawal dari 14 anak yang tertarik mengikuti bimbel, dalam tempo sebulan, jumlahnya bertambah men­jadi 40 orang.

      Namun, sebagian warga merasa terganggu dengan keberadaan bimbel tersebut. Saat itu Tirta tinggal di rumah orangtuanya di Desa Talun, Kecamatan Bergas. Jadilah proses belajar-mengajar dilakukan di rumah orangtuanya. Tirta menyertai bimbel itu dengan membuka perpustakaan dengan koleksi buku-bukunya sendiri.

      Meski   kegiatan   sosial   tersebut sempat tidak disetujui sang ayah, saat Tirta mengadakan pengobatan gratis atas bantuan berbagai pihak, hati ayahnya / pun luluh. JadOah kegiatan / belajar-mengajar ini dina-makan "TBM Warung Pasinaon". Maksudnya, di mana saja dan siapa saja dapat mempelajari sesuatu dan berbagi dengan yang lain.

      "Anak-anak di kampung ini biasanya meminta sesuatu kepada orangtua mereka. Nah, kalau orang­tua mereka terlalu sibuk, anak-anak bisa memintanya di tempat ini," ujar Tirta. Tahun 2009, Tirta dan suaminya, Hermawan Budi Sentosa, bisa mem-bangun rumah sendiri. TBM Warung Pasinaon pun pindah ke rumah me­reka. Teras rumah menjadi ruang terbuka bagi siapa saja, dan dipenuhi rak dengan buku-buku yang dapat dipinjam siapa pun.

      Jumlah anak yang belajar di TBM Waning Pasinaon bisa mencapai 200 anak, dari usia taman kanak-kanak hingga SMA. Mereka umumnya datang setelah jam sekolah usai, sekitar pukul 12.30 dan berakhir hingga malam hari.

      Merangkul kaum ibu

      Tak hanya anak-anak, tetapi kaum ibu pun belajar di TBM Waning Pasinaon. Mereka adalah ibu-ibu yang mengikuti program Keaksaraan Fungsional guna memberantas buta aksara. Tirta pun menggagas lahirnya sebuah media untuk para ibu agar mereka dapat terus mengasah kemampuan baca tulisnya.

      Kebetulan, kata Tirta, saat itu ada program dari Departemen Pendidikan Nasional (kini Kementerian Pen-didikan dan Kebudayaan) untuk pembuatan Koran Ibu. Maka, Tirta dan seke'lompok ibu membuat media berbentuk buletin dan menamai-nya Koran Ibu Pasinaon. Koran itu terbit setiap bulan dengan oplah 1.000 eksemplar dan disebarkan ke sekolah-sekolah ataupun komunitas ibu-ibu di Kabupaten Semarang.

      Sekitar 20 ibu yang sebelumnya buta huruf atau tak lancar baca tulis Mni rajin membaca dan membuat tulisan    untuk    dimuat Koran   Ibu   Pasinaon. Dari tiap tulisan yang masuk, sebagian dipindai dan dimuat apa adanya, se­bagian  diedit  dan  diketik ulang.

      Isi koran itu adalah hal-hal yang dekat dengan kehidupan ibu-ibu, seperti tips kesehatan, resep masakan, dan persoalan kehidupan . sehari-hari, misalnya kenaikan harga bahan pokok dan mahalnya biaya pendidikan.

      "Ibu-ibu memiliki pemikiran yang lebih terbuka Pola pikir mereka pun berubah. Ibu-ibu memilih membaca buku daripada bergosip," kata Tirta. Sayang, karena biaya penerbitan setelah dua edisi ditanggung sendiri, koran tidak bisa terbit secara rutin. Kadang koran ini terbit dua bulan sekali, tergantung dananya. Dalam perjalanan, ternyata banyak pihak yang membantu hingga Koran Ibu Pasinaon bisa terbit hingga kini.

      Percaya diri

      Sukses dengan Koran Ibu Pasi­naon, TBM Waning Pasinaon mencoba menerbitkan media untuk anak-anak berjudul Ekspas singkatan Ekspresi Pasinaon. Penerbitan buletin ini juga diawali bantuan Kemente­rian Pendidikan dan Kebudayaan un­tuk penerbitan dua edisi.

      Ekspas berisi tulisan anak-anak yang aktif di TBM Waning Pasinaon. Mereka menulis pengalaman sehari-hari, kita belajar dengan mudah, pu-isi, dan cerpen. Media itu juga memiliki tiras 1.000 eksemplar sekali terbit "Sekarang yang menata gran's masih orang lain. Kami ingin semuanya dikerjakan anak-anak supaya betul-betul dari dan untuk anak. Beberapa anak sedang dilatih untuk menguasai program tata letak," ujarnya.

      Setelah mengikuti berbagai kegiatan di TBM Waning Pasinaon, anak-anak Man mandiri. Mereka yang se­belumnya tak yakin akan kemampuannya menjadi lebih percaya diri. Tirta mengatakan, anak-anak hanya niembutuhkan ruang untuk mengekspresikan apa yang ada dalam pikiran mereka.

      Oleh karena itu, Tirta tetap ter­buka jika anak-anak meminta sesuatu, sepanjang hal itu baik dan memungMnkan dipenuhi. Ada anak yang minta berenang, misalnya, Tirta akan segera mengusahakan. Dia menghubungi teman-teman dan donatur untuk berpartisipasi memban­tu mewujudkan hal itu.

      "Ternyata masih banyak orang yang peduli. Saya yakin, kalau Mta melakukan hal yang benar, selalu ada jalan terbuka untuk mewujudkannya," tuturnya.

      Comments
      lita widya   |2012-06-10 03:03:54
      suatu usaha yang amazing buat saya. atas memberantas orang2 yang buta aksara.
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 90422 clicks
      • Average hits: 1027.5 clicks / month
      • Number of words: 4254
      • Number of characters: 34766
      • Created 7 years and 4 months ago at Tuesday, 08 May 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,795
      • Sedang Online 86
      • Anggota Terakhir Eka Evriza

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9119650
      DSCF8803.jpg

      Kalender & Agenda

      September 2019
      S M T W T F S
      1 2 3 4 5 6 7
      8 9 10 11 12 13 14
      15 16 17 18 19 20 21
      22 23 24 25 26 27 28
      29 30 1 2 3 4 5

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC