.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Fasilitas
E-mail

 

KOMPAS 29 Agustus 2006

 

Melihat Buku Pelajaran dari Kacamata Lain

Kreativitas Guru Jadi Tumpuan

Buku pelajaran menjadi sorotan lagi. Ini adalah drama ulangan yang kesekian kalinya. Dan mungkin masih untuk berapa kalinya lagi. Kita memang senang melakukan sesuatu kekeliruan pada lubang yang sama.

Oleh: AGUS LISTIYONO

Tulisan ini tidak mengupas tentang pemborosan ma-syarakat untuk membjeli buku pelajaran yang setiap ta-hunnya membeli buku pelajar­an. Juga bukan untuk memba-has mengenai berapa persen ke-untungan dari penjualan buku pelajaran yang diperoleh pener-bit dan oknum di sekolah. Juga bukan mengenai betapa tidak efektifnya keputusan pemerin-tah untuk memberlakukan masa lima tahun bagi berlakunya bu­ku pelajaran. Bukan pula menyangkut beratnya tas sekolah siswa di SD yang dianggap favorit dan mapan dibanding tas seorang mahasiswa di Indonesia akibat banyaknya buku pelajar­an yang harus dibawa oleh siswa SD ke sekolah.

Last Updated on Friday, 24 February 2012 10:13 Read more...
 
E-mail

KOMPAS, 21 AGUSTUS 2008

Relevankah Sekolah Menengah?

Okeh DEWI SUSANTI

Selama beberapa dasawarsa pendidikan for­mal merupakan bagian alami kehidupan masyarakat modern dan kita melihat sekolah sebagai prasyarat menjalani kehidupan yang produktif. Mereka yang tak bersekolah hampir dapat dianggap akan tersisih dari ta­tanan masyarakat modern. Tak ada pilihan lain. Tak ada keberuntungan bagi yang tak bersekolah.

Bagaimana sebenarnya kontri­busi pendidikan formal, terutama sekolah menengah? Dua berita di Kompas (5/8/2008) melaporkan bahwa hanya 17,2 persen dari 28 juta penduduk Indonesia usia 19-24 tahun dan 6,2 persen dari 306.749 murid di SMP Terbuka yang dapat meneruskan sekolah ke jenjang pendidikan tinggi. Padahal kebanyakan SMA, ter­utama SMAN, masih menekan­kan hafalan terhadap lebih dari selusin mata pelajaran setiap minggunya dan mempersiapkan siswa untuk ujian nasional, de­ngan harapan kebanyakan dari lulusan sekolah akan melanjut­kan ke jenjang pendidikan tinggi. Namun, ternyata upaya ini hanya mencakup 17,2 persen pemuda-­pemudi Indonesia. Lalu, apakah fungsi pendidikan di sekolah me­nengah bagi 82,8 persen 'sisa' nya?

Read more...
 
E-mail

PIKRAN RAKYAT, 14 JULI 2008

 

Mutu Rambu-rambu Sekolah

Bertaraf Internasional

Oleh TATAT HARTATI

 

Keberadaan sekolah bertaraf internasional (SBI) de­wasa ini merupakan respons dari kesadaran masyarakat akan pen­tingnya sekolah berkualitas untuk mempersiapkan generasi masa depan yang berakhlak mulia, cerdas, mandi­ri, kreatif, inovatif, dan demokratis se­jalan dengan percepatan perubahan sosial sebagai bagian dari rekayasa era global. Fenomena ini selayaknya dija­dikan modal dan ajang unjuk kinerja terbaik untuk menata SBI sepatut-patutnya sehingga kelak berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Untuk itu, di­perlukan sikap optimistis dan rasa tanggung jawab yang tinggi sebab me­ngelola sekolah merupakan institusi paling kompleks di antara institusi so­sial yang ada. Kompleksitas tersebut bukan saja dari masukannya yang ber­variasi, melainkan dalam proses pem­belajaran yang berlangsung di dalam­nya (Hanson, 1985; Mc Pherson,1986).

Sayangnya, banyak sekolah SBI atau yang masih dalam taraf perintisan ti­dak menyiapkan rambu-rambu dan bagaimana implementasi yang riil di lapangan. Depdiknas sendiri baru me­ngeluarkan "Pedoman Penjaminan Mutu Sekolah/Madrasah Bertaraf Internasional pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah" pada perte­ngahan 2007. Hal ini agak terlambat dibandingkan dengan bermunculan­nya SBI di kota-kota besar. Walau bagaimanapun, seyogyanya pedoman ter­sebut menjadi rujukan bagi sekolah dan Dinas Pendidikan dalam penye­lenggaraan SBI agar tidak salah ka­prah dan salah arah. Bagi orangtua pedoman itu dapat menjadi referensi dalam memasukkan putra-putrinya ke SBI selain untuk menjalin kemitraan dan sinergi dengan sekolah.

Last Updated on Thursday, 23 February 2012 09:05 Read more...
 
E-mail

MEDIA INDONESIA, 2 JUNI 2008

 

Manajemen Konflik di Sekolah

Oleh Rizal Panggabean

Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada. Praktisi Sekolah Sukma Bangsa, Aceh

 

Bisakah sekolah menjadi tempat siswa mempelajari bagaimana menyelesaikan masalah dengan cara damai? Apakah praktik dan tradisi bertengkar, tawuran, penerapan aturan disiplin yang ketat, dan bullying dapat dihilangkan dari lingkungan pendi­dikan anak-anak Indonesia?

Sekolah adalah tempat siswa yang ber­asal dari berbagai latar belakang sosial dan ekonomi, bertemu dan bergaul sambil me­nuntut ilmu. Selain mereka, ada guru, pe­ngurus, dan karyawan, dengan peran dan tanggungjawab masing-masing. Selain itu, bila dilihat dari sudut fisik dan interaksi sosial, sekolah juga tertanam dalam ekologi sosial yang lebih luas.

Di luar pagar sekolah, ada keluarga dan masyarakat yang semakin lama semakin majemuk dan kompleks. Pusat-pusat kegiatansehari-hari, seperti jalan raya yang sibuk, pasar, dan pertokoan sering kali hanya berjarak beberapa meter dari kom­pleks sekolah. Kantor pemerintahan, ru­mah sakit, organisasi, dan lembaga masya­rakat dengan fokus kegiatan yang berbeda juga bagian dari lingkungan sekolah selain perkampungan warga yang sering kali padat.

Last Updated on Thursday, 23 February 2012 08:00 Read more...
 


Page 2 of 3

Selamat Datang Sahabat ^_^
Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

Kemiskinan

Literasi Sains & Teknologi

Artikel Pilihan


Artikel Utama

Statistik Anggota

  • Total Anggota 10,794
  • Sedang Online 202
  • Anggota Terakhir CECEP ABDUL AZIS HAKIM

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterTotal9103032
DSCF8761.jpg

Kalender & Agenda

March 2019
S M T W T F S
24 25 26 27 28 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31 1 2 3 4 5 6

Contoh Proposal

Contoh Proposal

Google+ Facebook Twitter mail SC