.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      KOMPAS 29 Agustus 2006

       

      Melihat Buku Pelajaran dari Kacamata Lain

      Kreativitas Guru Jadi Tumpuan

      Buku pelajaran menjadi sorotan lagi. Ini adalah drama ulangan yang kesekian kalinya. Dan mungkin masih untuk berapa kalinya lagi. Kita memang senang melakukan sesuatu kekeliruan pada lubang yang sama.

      Oleh: AGUS LISTIYONO

      Tulisan ini tidak mengupas tentang pemborosan ma-syarakat untuk membjeli buku pelajaran yang setiap ta-hunnya membeli buku pelajar­an. Juga bukan untuk memba-has mengenai berapa persen ke-untungan dari penjualan buku pelajaran yang diperoleh pener-bit dan oknum di sekolah. Juga bukan mengenai betapa tidak efektifnya keputusan pemerin-tah untuk memberlakukan masa lima tahun bagi berlakunya bu­ku pelajaran. Bukan pula menyangkut beratnya tas sekolah siswa di SD yang dianggap favorit dan mapan dibanding tas seorang mahasiswa di Indonesia akibat banyaknya buku pelajar­an yang harus dibawa oleh siswa SD ke sekolah.

       

      Tulisan ini hanya akan melihat dari cara pandang lain me­ngenai buku pelajaran yang biasa di pakai di sekolah kita. Yaitu lebih kepada bagaimana penggunaan buku pelajaran di sekolah oleh guru dan cara pandang orangtua. Tulisan ini sekaligus sebagai perlawanan terhadap hegemoni yang bernama buku pelajaran!

      Dalam pandangan penulis, muara dari Msruhnya buku pel­ajaran di sekolah adalah karena kita terlalu terpaku bahwa buku pelajaran adalah segalanya dalam menentukan hasil belajar siswa. Oleh karena itu, buku pel­ajaran telah menjadi harga mati bagi proses belajar yang berkualitas. Buku pelajaran menjadi satu-satunya sumber ilmu.

      Buku pelajaran yang ditulis oleh penulisnya telah mampu membius pandangan semua konseptor dan praktisi pendidikan kita ke arah yang sama. Bah­wa buku pelajaran adalah sendi paling penting dalam menentuk­an hasil pembelajaran. Tidak peduli apakah itu dari sekolah mapan yang mengaku berbasis teknologi informasi atau teknologi kentongan. Tidak peduli apakah para konseptor dan praktisi itu adalah mereka yang lulus belajarnya dari universitas luar negeri atau dalam negeri.

      Tetapi, jika kita mau menarik esensi dari semua itu adalah: Benarkah buku pelajaran telah memberdayakan generasi kita?

      Beberapa kasus

      Lina yang baru kelas empat sekolah dasar bingung bukan alang kepalang ketika pekerjaan rumah dari gurunya adalah membaca materi pelajaran yang ada di buku pelajarannya. Se­bagai bukti membaca, semua sis­wa diminta untuk memberi garis bawah pada kata atau kalimat yang penting. Lebih bingung la­gi, ketika Lina meminta bantuan kepada ibunya, justru ibunya balik bertanya: Bagaimana ibu gu­ru di sekolah mengajarkan cara menemukan kata atau kalimat yang penting?

      Esok harinya, ketika kebingungan masih ada di benak Li­na dan teman-temannya, bu gu­ru meminta mereka untuk menyiapkan kertas ulangan, untuk kemudian nienjawab pertanyaan guru yang didiktekan. Sampai di rumah, Lina mencoba protes perlakuan guru kepada ibunya. Tetapi sang bunda jadi bingung.

      Ami yang duduk di bangku SMP mengalami sedikit berbeda dengan apa yang dialami Lina. Pada suatu hari guru mengajar di kelas Ami. Semua siswa di minta oleh guru untuk membuka bab anu, membaca dan membuat ringkasannya. Namun, selama siswa membaca dan membuat ringkasan, guru meninggalkan kelas.

      Lima belas menit sebelum pelajaran berakhir, guru datang. "Sudah selesai?" kata guru. Anak-anak serempak menjawab, "Belum". Guru mungkin tak sadar kalau ada sebagian siswanya sedang mendengarkan lagu favoritnya sedang diputar di radio yang mereka dengar dengan headset telepon genggamnya.

      Dua anekdot tersebut memang bukan gejala umum bagi praktik pembelajaran di sekolah kita. Masih ada beberapa guru kita yang menggunakan waktu kontaknya bersama siswa di ke­las dijalaninya deiigan sungguh-sungguh. Sepefti juga dalam menggunakan buku pelajaran.

      Namun demikian, dari anek­dot itu setidaknya dapat ditarik asumsi bahwa buku pelajaran menjadi panduan utama bagi guru untuk melakukan pembelajaran. Jika hal ini diteruskan maka dengan adanya buku pel­ajaran akan menumbuhkan sikap malas dan menggampangkan bagi pelaksanaan proses belajar yang dilakukan guru di se­kolah. Dan, matilah kreativitas!

      Bagaimana pula orangtua sis­wa di rumah melihat buku pel­ajaran putra-putrinya? Tidak jarang orangtua selalu menanyakan kepada buah hatinya, sudah sampai halaman berapa pelajarannya? Jika menemukan perbedaan dengan anak tetangga, ma­ka orangtua akan mengonfirmasi kepada sekolah, mengapa buku pelajaran anaknya baru sampai halaman 13. Anak tetangga yang sekolah di sekolah favorit A telah sampai halaman 23?

      Kreativitas guru

      Beberapa hal tersebut men­jadi bagian yang melekat pada penggunaan buku pelajaran. Ma­ka, bagaimana pembelajaran berlangsung jika tanpa menggu­nakan buku pelajaran?

      Pak Joni misalnya, sebagai gu­ru kelas enam SD yang mengajar dengan tema pariwisata, ia mengajak seluruh siswanya un­tuk mencari informasi tentang negara-negara dan keberhasilan pariwisatanya dari berbagai sumber. la mengajak siswanya pergi ke Kantor Sekretariat ASEAN atau kantor perwakilan negara lain di Jakarta, membuka ensiklopedi atau buku sumber lainnya, mengakses internet, mengundang orangtua yang pernah belajar atau bepergian di negeri orang dan seterusnya Informasi yang dibutuhkan kelas adalah tentang negara-negara Asia, bentuk pemerintahannya, penduduk, luas, dan kekayaan negaranya, serta pariwisatanya.

      Seluruh informasi dikumpul-kan, digolongkan, dianalisa, un­tuk kemudian dipresentasikan dalam bentuk buku laporan, brosur wisata, peta wisata, pajangan kelas, dan ekshibisi yang mengundang siswa kelas lain dan juga orangtua Saat mem­buat laporan, siswanya akan diminta mengonstruksi informasi yang telah berhasil dikumpulkan dari berbagai sumber dan cara serta dianalisa Mereka belajar tema pariwisata itu dalam kurun waktu dua setengah bulan. Penilaiari keberhasilan siswa dila­kukan Pak Joni secara on going assessment, dengan menilai semua aspek penilaian sesuai pan­duan pemerintah.

      Dengan cara seperti itu siswa Pak Joni dirangsang untuk dapat membuat konsep ilmu sesuai kompetensi yang telah dirumuskan oleh Pak Joni dan teman pararelnya Siswa Pak Joni tidak biasa dengan onggokan Umu yang telah jadi dan terasa instan sebagaimana yang disodorkan oleh buku pelajaran kita. De­ngan demikian, maka siswa Pak Joni telah dibelajarkan untuk bagaimana berpikir kritis.

      Cara belajar seperti inilah yang menjadikan rasa gembira bagi guru seperti Pak Joni dan teman-temannya. Mereka tidak lagi bergantung pada apakah pe­merintah memberlakukan lima tahun masa berlakunya buku pelajaran atau tidak Pak Joni dan teman-temannya hanya membutuhkan sumber belajar yang beragam yang dapat diorganisir olehnya Mereka sama sekali tidak bergantung hanya dari satu judul buku. Pembel­ajaran yang mereka lakukan adalah based on activities. Bukan based on test!

      AGUS LISTIYONO Mantan Kepala SD bertaraf

      Internasional di Bintaro-Tangerang, Kini Bekerja di Yayasan Tugasku, Jakarta

       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Friday, 24 February 2012 10:13  

      Items details

      • Hits: 371 clicks
      • Average hits: 4 clicks / month
      • Number of words: 1929
      • Number of characters: 14828
      • Created 7 years and 8 months ago at Friday, 24 February 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 8 months ago at Friday, 24 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,796
      • Sedang Online 87
      • Anggota Terakhir Dr. Ahmad Syawqi, S.Ag, S.IPI, M.Pd.I

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9121754
      DSCF8803.jpg

      Kalender & Agenda

      October 2019
      S M T W T F S
      29 30 1 2 3 4 5
      6 7 8 9 10 11 12
      13 14 15 16 17 18 19
      20 21 22 23 24 25 26
      27 28 29 30 31 1 2

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC