.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      KOMPAS, 21 AGUSTUS 2008

      Relevankah Sekolah Menengah?

      Okeh DEWI SUSANTI

      Selama beberapa dasawarsa pendidikan for­mal merupakan bagian alami kehidupan masyarakat modern dan kita melihat sekolah sebagai prasyarat menjalani kehidupan yang produktif. Mereka yang tak bersekolah hampir dapat dianggap akan tersisih dari ta­tanan masyarakat modern. Tak ada pilihan lain. Tak ada keberuntungan bagi yang tak bersekolah.

      Bagaimana sebenarnya kontri­busi pendidikan formal, terutama sekolah menengah? Dua berita di Kompas (5/8/2008) melaporkan bahwa hanya 17,2 persen dari 28 juta penduduk Indonesia usia 19-24 tahun dan 6,2 persen dari 306.749 murid di SMP Terbuka yang dapat meneruskan sekolah ke jenjang pendidikan tinggi. Padahal kebanyakan SMA, ter­utama SMAN, masih menekan­kan hafalan terhadap lebih dari selusin mata pelajaran setiap minggunya dan mempersiapkan siswa untuk ujian nasional, de­ngan harapan kebanyakan dari lulusan sekolah akan melanjut­kan ke jenjang pendidikan tinggi. Namun, ternyata upaya ini hanya mencakup 17,2 persen pemuda-­pemudi Indonesia. Lalu, apakah fungsi pendidikan di sekolah me­nengah bagi 82,8 persen 'sisa' nya?

      Dalam sebuah kunjungan ke SMAN 1 di Desa Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, saya meng­amati murid pada mata pelajaran Kimia sedang mempelajari letak atom pada tabel periodik untuk mengidentifikasi jenis zatnya. Se­kolah tersebut tak memiliki dana melangsungkan eksperimen di la­boratorium kimia sehingga pelajaran kimia menjadi abstrak. Walaupun sebagian dari lulusan SMAN 1 berencana melanjutkan ke universitas, lebih ba­nyak yang akan mencoba me­masuki dunia kerja dengan menggunakan ijazah SMA me­reka sebagai satu-satunya modal. Di desa yang berpenduduk 22.117 orang itu, hanya 7 persen lulusan SMA dan 1,2 persen lulusan dip­loma dan sarjana. Dengan kata lain, hanya sekitar 14,6 persen lulusan SMA yang melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjut­nya (Kecamatan Marangkayu, 2008). Lalu apakah gunanya ke­mampuan mengidentifikasi jenis zat sebuah atom untuk kehidup­an dan masa depan kebanyakan murid di sana? Nyaris tidak ada.

      Ijazah SMA telah dianggap se­bagai paspor untuk memasuki dunia kerja, padahal Survei ang­katan Kerja Nasional menunjuk­kan, dari 10 juta penganggur usia kerja, 55 persen berpendidikan sekolah menengah (BPS, 2008). Jelas, lulusan sekolah menengah tak dipersiapkan dan tak me­miliki keterampilan memasuki dunia kerja.

      Pendidikan menengah di In­donesia sangat terfokus pada pe­ngembangan kemampuan akade­mik menuju universitas dan ka­rena itu tidak atau lebih tepat­nya belum relevan bagi mayo­ritas pemuda-pemudi Indonesia. Pertanyaan yang berikutnya muncul adalah pendidikan me­nengah seperti apa yang lebih relevan?

      Mengambil Desa Marangkayu sebagai contoh kasus, 78 persen perekonomian di Kabupaten Kutai Kartanegara datang dari bi­dang pertarnbangan dan peng­galian, serta 11 persen dari per­tanian (Pro Visi Education, 2007). Adapun di Desa Marangkayu 28,4 persen bekerja di bidang per­tanian dan perkebunan karet, 5 persen karyawan, 1,7 persen wiraswasta, dan 2,8 persen bekerja di bidang pertukangan, nelayan, dan jasa, sementara sisanya tidak terdata.

      Dengan kata lain, sedikitnya 78 persen sumber perekonomian ti­dak melibatkan peran dan belum menyejahterakan kebanyakan warga Desa Marangkayu. Dapat­kah pendidikan menengah men­coba mengatasi kesenjangan an­tara kualitas sumber daya ma­nusia dengan kemampuan meng­olah sumber alam lokal? Bukan­kah pekerjaan kebanyakan pen­duduk di bidang pertanian dan perkebunan karet seharusnya dapat dijadikan sumber pembela­jaran?

       

      Saya tidak menyarankan agar sernua sekolah menengah di Ka­bupaten Kutai Kartanegara berbondong-bondong memfokuskan perhatian pada bidang pertambangan, penggalian, dan perta­nian. Namun, dari pemahaman yang lebih mendalam tentang sumber daya alam lokal, pem­belajaran di sekolah dapat ber­sifat lebih kontekstual dan ber­makna bagi keberlangsungan ke­hidupan dan kemajuan komu­nitas lokal.Misalnya, dalam pelajaran Se­jarah, Sosiologi, dan Ekonomi, siswa dapat meneliti asal usul keberadaan Desa Marangkayu, latar belakang sosial ekonomi, je­nis pekerjaan, dan permasalahan sosial. Dalam pelajaran Geografi siswa dapat mendatangi lahan-la­han pertambangan, perminyak­an, pertanian, dan perkebunan untuk mengkaji perbedaan an­tarlahan. Kegiatan tersebut dapat dikaitkan dengan pelajaran Biologi yang mengkaji kondisi dan masalah lingkungan, ekosistem, jenis tanaman, binatang lokal, dan lain-lain.

      Kemampuan siswa dalam me­wawancara, menganalisis, dan membuat laporan mengasah ke­terampilan interpersonal, berpi­kir, dan berbahasa Indonesia. Pe­ngetahuan tentang sumber daya lokal, dari rumput-rumput ila­lang, berbagai jenis daun, dan batu-batuan dapat dijadikan bahan dasar untuk pelajaran Ke­senian dan Teknik Keterampilan, yang hasilnya dapat dijual ke kota terdekat untuk menjajaki ke­mampuan berwiraswasta. Kegiatan-kegiatan tersebut bertujuan memberikan keteram­pilan dan pengetahuan lokal yang memungkinkan sebagian besar siswa untuk langsung terjun ke dunia kerja, tanpa mengesam­pingkan pengetahuan akademik bagi mereka yang mampu dan memiliki kesempatan untuk me­lanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

      Dari pembahasan contoh kasus di atas, tersirat bahwa solusi un­tuk permasalahan pendidikan menengah yang lebih relevan membutuhkan kajian mengenai kondisi lokal sehingga solusinya bersifat kontekstual terhadap ko­munitas. Kondisi komunitas yang berbeda membutuhkan solusi yang berbeda pula.

      Pendidikan menengah yang ki­ta kenal sekarang baru mem­berikan tawaran solusi yang di­seragamkan dengan mengguna­kan sebagian kecil penduduk In­donesia sebagai tolak ukur. Sementara untuk mayoritas pen­duduk, masih perlu dikaji dan dirumuskan bentuk-bentuk pendidikan yang lebih relevan, yang kemungkinan besar belum kita kenal sekarang.

      DEWI SUSANTI
      Peneliti di Pro Visi Education,
      Mahasiswi di Harvard Graduate
      School of Education


      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 216 clicks
      • Average hits: 2.3 clicks / month
      • Number of words: 1595
      • Number of characters: 12825
      • Created 7 years and 8 months ago at Friday, 24 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,796
      • Sedang Online 73
      • Anggota Terakhir Dr. Ahmad Syawqi, S.Ag, S.IPI, M.Pd.I

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9121755
      DSCF8754.jpg

      Kalender & Agenda

      October 2019
      S M T W T F S
      29 30 1 2 3 4 5
      6 7 8 9 10 11 12
      13 14 15 16 17 18 19
      20 21 22 23 24 25 26
      27 28 29 30 31 1 2

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC