.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      PIKRAN RAKYAT, 14 JULI 2008

       

      Mutu Rambu-rambu Sekolah

      Bertaraf Internasional

      Oleh TATAT HARTATI

       

      Keberadaan sekolah bertaraf internasional (SBI) de­wasa ini merupakan respons dari kesadaran masyarakat akan pen­tingnya sekolah berkualitas untuk mempersiapkan generasi masa depan yang berakhlak mulia, cerdas, mandi­ri, kreatif, inovatif, dan demokratis se­jalan dengan percepatan perubahan sosial sebagai bagian dari rekayasa era global. Fenomena ini selayaknya dija­dikan modal dan ajang unjuk kinerja terbaik untuk menata SBI sepatut-patutnya sehingga kelak berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Untuk itu, di­perlukan sikap optimistis dan rasa tanggung jawab yang tinggi sebab me­ngelola sekolah merupakan institusi paling kompleks di antara institusi so­sial yang ada. Kompleksitas tersebut bukan saja dari masukannya yang ber­variasi, melainkan dalam proses pem­belajaran yang berlangsung di dalam­nya (Hanson, 1985; Mc Pherson,1986).

      Sayangnya, banyak sekolah SBI atau yang masih dalam taraf perintisan ti­dak menyiapkan rambu-rambu dan bagaimana implementasi yang riil di lapangan. Depdiknas sendiri baru me­ngeluarkan "Pedoman Penjaminan Mutu Sekolah/Madrasah Bertaraf Internasional pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah" pada perte­ngahan 2007. Hal ini agak terlambat dibandingkan dengan bermunculan­nya SBI di kota-kota besar. Walau bagaimanapun, seyogyanya pedoman ter­sebut menjadi rujukan bagi sekolah dan Dinas Pendidikan dalam penye­lenggaraan SBI agar tidak salah ka­prah dan salah arah. Bagi orangtua pedoman itu dapat menjadi referensi dalam memasukkan putra-putrinya ke SBI selain untuk menjalin kemitraan dan sinergi dengan sekolah.

       

      Hal-hal mendasar yang hams diper­hatikan dalam penyelenggaraan SBI, antara lain, pendidik dan tenaga ke­pendidikan, sarana dan prasarana, pe­ngelolaan, kurikulum, dan pembiaya­an. Standar pendidik dan tenaga ke­pendidikan menurut Depdiknas 2007: (1) semua guru mampu memfasilitasi pembelajaran berbasis TIK; (2) guru mata pelajaran sains, matematika dan inti kejuruan mampu mengampu pem­belajaran berbahasa Inggris; (3) minimal 10% guru berpendidikan S-2/S-3 dari PT yang program studinya berak­reditasi A untuk SD/MI dan 20% un­tuk guru SMP/MTs, 30% untuk guru SMA/SMK/MA/MAK; (4) kepala seko­lah selain berpendidikan minimal S-2, mampu berbahasa Inggris secara aktif, bervisi internasional, mampu memba­ngun jejaring internasional, memiliki kompetensi manajerial, serta jiwa ke­pemimpinan dan kewirausahaan kuat.

      Dalam hal sarana dari prasarana SBI diharuskan memenuhi standar sa­rana dan prasarana sekolah nasional (SSN) dilengkapi ruang kelas berbasis TIK, digitalisasi perpustakaan yang da­pat mengakses sumber pembelajaran dari seluruh dunia; ruang multimedia, ruang unjuk seni budaya, fasilitas olahraga, klinik, dsb. Untuk manajemen sekolah, SBI diharapkan menerapkan manajernen berbasis sekolah yang me­menuhi standar pengelolaan Depdik­nas dan diharapkan dapat mencapai indikator kinerja kunci tambahan seperti: (1) meraih sertifikat ISO 9001 versi 2000 atau sesudahnya dan ISO 14000; (2) merupakan sekolah/madra­sah multikultural; (3) menjalin hu­bungan sister school dengan SBI di lu­ar negeri; (4) bebas narkoba dan rokok; (5) bebas kekerasan; (6) menerapkan prinsip kesetaraan gender; (7) diharap­kan meraih medali tingkat internasional pada kompetisi: sains, matematika, telmologi, seni, olahraga, dsb.

      Mengenai kurikulum, pembiayaan dan sistem penyelenggaraan SBI, pe­merintah menetapkannya : (1) mene­rapkan KTSP (kurikulum tingkat satu­an pendidikan); (2) menerapkan sistem satuan kredit semester di SMA/SMK/MA/MAK; (3) memenuhi standar isi; (4) memenuhi standar kompetensi lulusan. Pembiayaan SBI dijamin sekurang-kurangnya tiga je­nis: biaya investasi, biaya operasional, dan biaya personal. Untuk sistem penyelenggaraannya dapat dipilih model-model terpadu: satu atap-satu sistem, model terpisah: tidak satu atap-satu sistem, model terpisah: tidak satu at­ap-beda sistem, dan model entry-exit: mengelola kelas regular dan kelas in­temasional (seperti yang banyak diselenggarakan akhir-akhir ini sebagai SBI rintisan).

      Walaupun demikian, masyarakat dan pendidik banyak yang belum jelas tentang keberadaan dan konsep SBI, apalagi siswa dan calon siswa. Ada yang menerjemahkannya sekolah ber­standar internasional, sekolah interna­sional, sekolah unggulan, sekolah glo­bal, sekolah bilingual, dsb. Di jenjang sekolah dasar kita mengenal kualifika­si atau kategori SD Imbas (SD regu­lar), SD Inti (kepala gugus SD), SD Standar (mendekati Standar Nasional Pendidikan), SD — SSN (sesuai Standar Nasional Pendidikan), SD-SBI ( Sekolah Bertaraf Intemasional = SSN Plus) dan SD Berstandar Intemasional (SSN Plus dan Standar Intemasional). Pemerintah sendiri merumuskan se­kolah/madrasah bertaraf intemasional adalah sekolah/madrasah yang sudah memenuhi seluruh Standar Nasional Pendidikan dan diperkaya dengan mengacu pada standar pendidikan sa­lah satu negara anggota OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) dan atau negara maju lainnya yang mempunyai keung­gulan tertentu dalam bidang pendidik­an sehingga memiliki daya saing di fo­rum intemasional (Depdiknas, 2007).

      Agar SBI mencapai sasarannya yang antara lain menyejajarkan kualitas pendidikan dengan negara maju dan mampu bersaing di tataran global, se­kolah perlu menaati rambu-rambu pe­nyelenggaraan yang diatur pernerin­tah. Di samping itu, aspirasi orangtua seyogyanya diperhatikan. Banyak orang tua yang merniliki respons yang cukup kritis dan saksama ketika akan menyekolahkan anaknya ke sekolah intemasional, misalnya, apakah di se­kolah tersebut pelajaran agamanya cu­kup baik, adakah pelajaran PPKn, apa­kah ada kesenian daerah? Pertanyaan tersebut mengindikasikan agar siswa memperoleh landasan moral, kebang­saan, dan budaya yang sesuai agar me­reka memiliki jati diri sebagai orang Indonesia yang mumpuni.

      Yang tak kalah penting bagaimana upaya SBI menciptakan iklim yang kondusif baik secara internal dan elcs­ternal. Secara internal bagaimana sis­wa juga guru SBI berinteraksi dengan baik dengan sesama rekan di suatu se­kolah yang seatap demikian pula inter­aksi dengan sekolah-sekolah di sekitarnya. Kekhawatiran berbagai pihak akan terjadi ekslusivisme, diskrimina­tif dan kecemburuan sosial lainnya dapat dicegah melalui program-prog­ram sekolah yang memberikan manfa­at bagi siswa-siswa di linglcungannya. Misalnya, piknik bersama, English Club, bazar bersama, riset kolaboratif bahkan sesekali mengundang siswa­siswa sekolah-sekolah lokal datang un­tuk belajar bersama semisal pelajaran kesenian dan olahraga.

      Untuk SBI yang masih dalam tahap rintisan, selain harus berkoordinasi dengan dinas pendidikan provinsi, ko­ta/kabupaten, juga selayaknya bekerja sama dengan LPMP, LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan). Tentunya pengalaman perguruan ting­gi dapat dimanfaatkan dalam bentuk "forum kemitraan", yaitu hubungan kerja sama yang ideal yang dibangun atas dasar profesionalitas, kesetaraan, kepercayaan, dan saling, menghormati baik sebagai individu maupun masing­-masing lembaga.

      Demikian pula kerja sama dengan instansi lain. Contoh, di Australia ada SD yang bekerja sama dengan Dinas Perhubungan, sehingga tiap semester siswanya dapat naik kereta api dan pe­sawat terbang berkeliling kota dengan gratis. Namun, yang harus dicontoh dari sekolah di luar negeri, bukan ha­nya manajemen, fasilitas, kurikulum, model-model pembelajaran; melain­kan tanggung jawab stakeholder-nya. Pemilis melihat bagaimana kepsek dan guru melayani siswa secara maksimal (dagdag-degdeg istilah Sundanya). Demikian pula orangtua siswa, tidak peduli kaya atau miskin, berlomba membantu sekolah, kalau tidak mate­ri mereka membantu dengan tenaga (mengapur, menata taman, dsb.). Tampaknya orangtua di Indonesia pun sudah siap, terbukti ada kegiatan Parent Supporting Group, Parent and School Board, dsb. Demikian pula pe­merintah siap mengucurkan dana ratusan juta rupiah bagi setiap SBI dan rencananya dikembangkan 112 unit SBI (SD, SMP, SMA, dan SMK).

      Pada akhirnya masyarakat hanya bi­sa berharap semoga rintisan SBI seba­gai salah satu upaya mengatasi keter­tinggalan dengan bangsa-bangsa lain dapat mencapai sasarannya, dijauhkan dan malapraktik pendidikan yang membodohi dan menyengsarakan rak­yat, sambil kita pun tetap berusaha dan berdoa agar sekolah-sekolah nun jauh di sana, baik sekolah terapung di laut, sekolah reyot di pelosok, maupun sekolah kumuh perkotaan dapat sege­ra diperbaiki nasibnya, ditingkatkan mutu dan martabatnya.

      Penulis, dosen Universitas Pendi­dikan Indonesia-Bandung & Peneliti di Universiti Sains Malaysia — Pe­nang.

       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Thursday, 23 February 2012 09:05  

      Items details

      • Hits: 3036 clicks
      • Average hits: 35.7 clicks / month
      • Number of words: 1516
      • Number of characters: 11870
      • Created 7 years and ago at Thursday, 23 February 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and ago at Thursday, 23 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,794
      • Sedang Online 109
      • Anggota Terakhir CECEP ABDUL AZIS HAKIM

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9103599
      Dialog_Peradaban.jpg

      Kalender & Agenda

      March 2019
      S M T W T F S
      24 25 26 27 28 1 2
      3 4 5 6 7 8 9
      10 11 12 13 14 15 16
      17 18 19 20 21 22 23
      24 25 26 27 28 29 30
      31 1 2 3 4 5 6

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC