.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      KOMPAS , 20 NOVEMBER 2009

       

      Stop Ujian Nasional,Perbaiki Sekolah Rusak

       

      Mahkamah Agung menolak kasasi yang diajukan pemerintah terkait peng-hentian ujian nasional.Masyarakat sudah memenang-kan tiga kali di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, PengadOan Tinggi DKI Jakarta, dan Mahkamah Agung (Kompas.com, 25/11). Akankah Departemen Pendidikan Nasional bersikeras melak-sanakan ujian nasional (UN)?

      Standardisasi

      UN seolah menjadi wajah uta-ma Depdiknas. UN yang dilaksanakan demi memetakan mutu pendidikan dan standardisasi pendidikan di negeri ini dalam praktiknya sebatas dipahami sebagai alat penentu kelulusan. Semua energi aparat Depdiknas, guru, dan siswa hanya bermuara pada UN sehingga berbagai upaya perbaikan kualitas pendidikan nyaris tak terdengar.

      Jika sekolah tanpa UN, apakah berarti kualitas pendidikan tidak terkendali? Masyarakatlah yang akhirnya menilai mutu lulusan sekolah kita. Dengan konteks persekolahan yang beragam, kiranya ada prioritas yang lebih mendesak dilakukan Depdiknas, yakni membangun proses dan sarana pendidikan yang merata . di seluruh negeri. Di mata para guru, masalahnya menjadi seder-hana, silakan UN dilaksanakan, tetapi jangan dijadikan sebagai alat penentu kelulusan siswa Dalih, UN hanya salah satu penentu kelulusan, dalam praktik persentase terbesar ketidaklulusan di-sebabkan oleh nilai UN yang tidak memenuhi persyaratan.Yang menjadi semangat pe-nolakan terhadap UN adalah rasa keadilan. Anak-anak telah terlalu lama diperlakukan sebagai pihak yang tidak penting karena me-reka tidak dapat berhasil di dunia akademis. Anak-anak yang tidak lulus UN dianggap  tidak mampu memasuki percakapan intelektual yang didefmisikan orang-orang yang memiliki posisi dalam kendali akademis. Para guru pun merasa pahit saat melihat standar didefinisikan seluruhnya dari segi kerangka keunggulan akademis, padahal guru menge-tahui, ada banyak aspek yang dibutuhkan untuk membentuk pribadi seorang anak.

       

      Kiranya Mendiknas perlu menghentikan UN dan memfo-kuskan pada upaya-upaya perbaikan sarana pendidikan. Sela-ma gedung gedung sekolah yang rusak di seluruh Tanah Air belum mengalami perbaikan dan memadai, tidak bisa diharapkan sebuah hasil evaluasi yang standar. Standar nasional pendidikan di negeri ini mensyaratkan adanya standar isi, proses, pendidik, sarana, pengelolaan, dan pembiayaan, sebelum akhirnya berbicara tentang standar penilaian (evaluasi) pendidikan. Artinya, standardisasi evaluasi harus di dahului standardisasi tujuh aspek lain di semua sekolah di negeri ini tanpa kecuali, baik untuk sekolah negeri maupun swasta.

      Gedung rusak

      "Soal gedung sekolah yang rusak sudah saatnya diselesaikan. Kita tutup buku pada 2010 dan beralih kepada persoalan lain," kata Mendiknas Mohammad Nuh (Kompas, 28/10). Data dari Rembuknas Pendidikan, Juni 2007, menunjukkan, pada 2003 ada 531.186 ruang kelas rusak. Dari jumlah itu, 360.219 ruang sudah diperbaiki. Sisanya akan diperbaiki sebagai program 2008. Kerusakan terbesar dialami gedung-gedung SD, terutama di Pulau Jawa, 52 per-sen (276.695 unit).

      Meski Mendiknas terdahulu hingga akhir masa jabatan tak kunjung bisa mewujudkan janjinya untuk perbaikan gedung sekolah rusak, Mendiknas M Nuh telah menunjukkan pilihan prioritas persoalan pendidikan yang harus diselesaikan. Kerusakan gedung dan ruang kelas SD di berbagai pelosok negeri ini, selain mengancam program wajib belajar 9 tahun yang haras segera tuntas, rapuhnya gedung-gedung itu mengancam keselamatan sis­wa dan guru yang melakukan pembelajaran dalam keseharian.

      Tidak jarang atap sekolah am-bruk saat proses pembelajaran sedang berlangsung pun patut disyukuri karena roboh saat tidak ada aktivitas di bawahnya. Hanya dengan ketenangan sajalah proses pembelajaran dapat berlangsung dengan nyaman. Ji­ka demikian, masih relevankah membincangkan ujian nasional dan membincangkan mutu pen­didikan, standar pendidikan, atau angka-angka kelulusan, semen-tara kian hari gedung-gedung se­kolah roboh berantakan? Becermin pada pengalaman Jepang, patut ditegaskan, pen­didikan adalah sebuah hak yang harus diterima oleh semua anak dengan kualitas sama. Kondisi Indonesia saat ini sama dengan kondisi Jepang pada tahun 1960-an sampai 1970-an. Saat itu angka partisipasi SD dan SMP di Jepang mencapai 95-97 persen, sementara angka partisipasi SMA 50 persen. Yang dilakukan Peme­rintah Jepang bukan mendirikan sekolah unggul, tetapi memba­ngun sekolah dengan fasilitas sama yang bisa mendidik anak-anak tanpa ada perbedaan.

      Memang, masalah pemerataan pendidikan yang mendesak di­selesaikan Mendiknas adalah membereskan sarana fisik atau menyediakan gedung sekolah yang layak, sekaligus menghen­tikan ujian nasional.

      Oleh ST KARTONO Guru SMA Kolese De Britto, Yogyakarta

       

       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Wednesday, 22 February 2012 07:56  

      Items details

      • Hits: 389 clicks
      • Average hits: 4.1 clicks / month
      • Number of words: 1607
      • Number of characters: 13215
      • Created 7 years and 10 months ago at Wednesday, 22 February 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 10 months ago at Wednesday, 22 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,798
      • Sedang Online 88
      • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9126584
      bacalah.jpg

      Kalender & Agenda

      December 2019
      S M T W T F S
      1 2 3 4 5 6 7
      8 9 10 11 12 13 14
      15 16 17 18 19 20 21
      22 23 24 25 26 27 28
      29 30 31 1 2 3 4

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC