.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      REPUBLIKA 20 JANUARI 2010

      Sekolah hijau menjadi proritas utama

      suatu pagi pada 2007 silam, seorang siswa kelas 1 di sekolah dasar (SD) Alien Stevenson, New York, bicara kepada gurunya, ia ingin merayakan Hari Bumi pertama di sekolah. Keinginan itu bersambut dengan satu orang tua murid yang ingin menjadikan setiap hari adalah Hari Bumi, di mana setiap hari sekolah melakukan upaya kecil untuk menyelamatkan bumi. Satu per satu orangtersebut mengawali terbentuknya Green School Alliance, kumpulan sekolah yang bertekad ingin menjadikan sekolah sebagai tempat yang ramah lingkungan. Dipelopori oleh Sekolah Alien Stevenson, sekolah swasta khusus laki-laki yang cukup elite di New York, bergulirlah sebuah kompetisi yang menilai seberapa hijaukah sebuah sekolah. Mereka memberikan penghargaan bagi sekolah yang melakukan upaya yang nyata untuk menyela¬matkan lingkungan. Tak kalah dengan SD swasta di negara adikuasa itu, Indonesia juga memiliki Sekolah Hijau di Ujung Berung, Bandung, Jawa Barat. Sekolah nonformal yang berdiripada 2007 itu, menga-jarkan warga selutar mengenai bagaimana caranya melakukan . daur ulang, membuat kerajinan tangan dari bahan-bahan daur ulang, dan memasarkannya. Pada perkembangannya, Sekolah Hijau kemudian membangun taman kanak-kanak pada pertengahan 2009.

       

      Sekolah Hijau juga menerima sumbangan barang-barang yang sudah dianggap tidak layak dipakai oleh pemiliknya. Barang-barang inilah yang dikreasikan menjadi berbagai produk, seperti tas, dompet, sepatu, sandal, tempat pensil, dan payung yang dibuat oleh ibu-ibu setempat. Bahkan, barang-barang sisa pemilu legislatif dan pilkada, seperti spanduk dan banner didaur ulang untuk dijadikan bermacam-macam barang.

      Bukan sekadar ikut-ikutan tren, tapi sekolah bisa jadi pelopor gaya hidup yang ramah lingkungan. Sekolah dapat menjadi tempat mengajarkan siswanya bagaimana menjalani kehidupan dengan ramah pada lingkungan dengan tindakan sederhana. Menghemat penggu-naan air, tidak boros listrik, sebisa mungkin mengurangi penggunaan kantung plastik, dan menghemat kertas,Bayangkan sebuah sekolah negteri, baik tingkat sekolah dasar, menengah, maupun atas, dengan jumlah siswa dan guru yang mencapai ratusan? Jika mereka menggunakan toilet kali satu hari, berapa ratus atau ribu liter air yang digunakan per harinya? Berapa lembar kertas yang digunakan setiap harinya? Jika semangat untuk menyela-matkan lingkungan telah dita-namkansejak dini kepada anak < didik, tentunya penggunaan energi serta berbagai sumber daya bisa dioptimalkan. Tidak ada pemborosan dan sebisa mungkin memerhatikan aspek-aspek lingkungan.

      Pemerintah melalui Kemen-terian Lingkungan Hidup, bahkan sejak 2006 memiliki Program Sekolah Adiwiyata. Program yang merupakan program perlombaan sekolah di Indonesia berbasiskan lingkungan hidup. Serangkaian penilaian disiapkan untuk menyeleksi sekolah-sekolah yang mengembangkan konsep pengelolaan sekolah berwawasan lingkungan. Peng¬hargaan sekolah adiwiyata ini dilombakan dari tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional.

      OKI Jakarta berupaya membuat gebrakan. Pada akhir November 2009 lalu, Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, mene-tapkan SMA Negeri 1 Jakarta Pusat akan menjadi sekolah hijau (green school) pertama di Jakarta. Seperti dikutip dari kantor berita Antara, Foke sapaan akrab gubernur berujar, "Sekolah ini akan menjadi seko¬lah hijau pertama di Jakarta, dengan konsep menghemat energi dan menggunakan tenaga mata-hari."

      Sekolah ini akan menggunakan ari daur ulang air dengan sistem pengelolaan sampah dan limbah daur ulang. Juga, menggunakan peralatan yang tidak menambah emisi gas yang dapat menimbulkan efek rumah kaca. la berharap dari sekolah hijau ini dapat menjadi magnet yang akan menimbulkan ef ek berantai (mul¬tiply effect) agar ditiru oleh sekolah-sekolah lain di Jakarta.

      Tidak gunakan kertas

      The Green Schools Alliance yang berpusat di Kota New York sejauh ini telah melebarkan sayapnya hingga memiliki jumlah.anggota lebih dari 175 sekolah di 30 negara. Antara lain, i di daerah Kolombia, Kepulauan Virginia, dan juga di Honduras serta Rusia. Sekolah-sekolah yang tergabung dalam perhim-,punan sekolah hijau ini membuat komitmen bersama untuk me-ngurangi limbah mereka.

      Ada beberapa cara yang mereka tempuh untuk mereali-sasikannya. Cpntohnya, Discovery Charter School di Tracy, California, dan Microsoft School of the Future di Pitts¬burgh, Penn, sudah benar-benar han|pir tidak menerapkan peng-gunaan kertas. Di daerah lain, mereka mendi-rikan sekolah-sekolah yang lebih' hemat energi dengan cara memasang alat penerangan, pemanas ruangan, dan sistem air panas yang hemat energi. Juga memastikan perangkat elektron-ik yang mereka beli berdaya listrik rendah atau perangkat dengan sertifikat Energy Star.

      Pada saat yang bersamaan, mereka juga mengambil bebera-:pa langkah untuk mengurangi pemborosan. Contohnya, sekolah-sekolah mulai menghargai konsumsi air; mengurangi sampah di dalam kelas, kantin sekolah, atau kantor; mendaur ulang semua kertas, plastik, logam, dan bahan pecah belah; dan selanjutnya menerapkan kebiasaan-kebiasaan ini kepada para murid sekolah. Bagi banyak sekolah yang hendak menjadi ramah ling-kungan, namun tidak yakin di mana atau bagaimana cara me-mulainya, mereka dapat meminta petunjuk dari organisasi ling¬kungan serta perusahaan swasta yang peduli lingkungan. Kelompok ini menyediakan fasil-itas bacaan, penyuluhan, atau lokakarya bagi para guru atau    sekolah-sekolah resmi untuk membantu memberikan pandangan kepada mereka tentang sebuah strategi penghijauan.

      SMA Negeri 10 Malang, misalnya, bekerja sama dengan Sampoerna Foundation, kini membuat sekolah ini memiliki toilet yang ramah lingkungan dan ratusan spesies pohon. Sekolah mewajibkan siswanya membawa satu pohon untuk ditanam.

      Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) juga terlibat untuk mendorong pemahaman yang lebih baik mengenai lingkungan hidup di sekolah-sekolah. Mereka memberikan penghargaan bagi sekolah yang memelopori diadakannya kurikulum Pela-jaran Lingkungan Hidup (PLH) yang wajib diikuti seluruh siswa. Boleh jadi, kita baru membuat langkah-langkah kecil dalam membuat sekolah yang hijau. Namun, generasi muda yang lebih hijau akan memberikan harapan yang lebih baik untuk memperlambat kerusakan planet biru kita.

       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Wednesday, 22 February 2012 07:41  

      Items details

      • Hits: 371 clicks
      • Average hits: 3.9 clicks / month
      • Number of words: 1141
      • Number of characters: 9163
      • Created 8 years and 0 months ago at Wednesday, 22 February 2012 by Administrator
      • Modified 8 years and 0 months ago at Wednesday, 22 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,799
      • Sedang Online 69
      • Anggota Terakhir Messa Rahmania

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9133316
      DSCF8794.jpg

      Kalender & Agenda

      February 2020
      S M T W T F S
      26 27 28 29 30 31 1
      2 3 4 5 6 7 8
      9 10 11 12 13 14 15
      16 17 18 19 20 21 22
      23 24 25 26 27 28 29

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC