.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail
      Article Index
      Dua Masalah Besar
      Page 2
      Page 3
      Page 4
      Page 5
      Page 6
      All Pages

      Solusi yang ditawarkan untuk kekeliruan ideologis ini menurut Darmaningtyas adalah pertama-tama mengembalikan praksis pendidikan sebagai proses kebudayaan dengan cara mengembalikan terminologi yang dipakai/dikembangkan adalah terminologi pendidikan dan kebudayaan, bukan terminologi manajemen korporasi. Praksis pendidikan juga harus dijadikan ajang praktik pembebasan dari ketidaktahuan ke pengertian, dari keteridakberdayaan ke pemberdayaan, serta dari ketidaksadaran ke kesadaran. Mengembalikan fungsi pendidikan sebagai sarana bagi penemuan jati diri manusia serta peningkatan daya pikir, nalar, ketermpilan, dan pembentukan karekater berlandaskan nilai-nilai agama dan etiika sehingga tujuan pendidikan nasional untuk menciptakan manusia utuh tidak sekadar menjadi retorika (Haryono, 2008).

      Kedua, faktor struktural. Yang dimaksud dengan faktor struktural di sini adalah menyangkut keberpihakan atau perlakuan negara dalam dunia pendidikan, termasuk didalamnya adalah masalah kebijakan atau orientasi pendidikan dan anggaran. Sudaryanto mengatakan bahwa di antara akar penyebab kemelut dunia pendidikan saat ini adalah masuknya berbagai kepentingan politik dalam dunia pendidikan.Intervensi politik tersebut bukanlah ke arah yang sesuai idealisme pendidikan, melainkan lebih cenderung ke arah kepentingan politik. Intervensi ini salah satunya seringnya berganti kebijakan tatkala berganti menteri pendidikan. Dengan kata lain pendidikan nasional lebih bergantung pada struktur kekuasaan yang ada. Implikasi dari politisasi pendidikan ini, menurut Prof Dr Sanyoto Usman, di antaranya adalah lemahnya integritas guru, rendahnya kapasitas akademik, dan lulusan yang tidak bermutu. Maka dari sinilah munculnya ketidakpercayaan publik terhadap setiap kebijakan pendidikan yang dihasilkan pemerintah.

      Ketidak percayaan masyarakat juga diakibatkan oleh tidak adanya orientasi pendidikan yang jelas dari pemerintah (Hasanah, 2008). Disorientasi ini berakibat pada gagalnya pendidikan Indonesia dalam melahirkan SDM yang memiliki daya saing kuat dan tanggung untuk bisa bersaing dalam komunitas global. Masih tingginya tingkat kemiskinan dan pengangguran, keterpurukan ekonomi, krisis kepemimpinan, tingginya tingkat korupsi, rendahnya produktivitas, rendahnya kedisiplinan, rendahnya jiwa entrepreneur, merupakan fenomena nyata yang bermuara pada ketidakmampuan pendidikan dalam menentukan arah bangsa ke depan. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional diperlukan kebijakan pemerintah yang propeningkatan mutu. Sebuah kebijakan pengendalian mutu yang mengedepankan proses pembelajaran ketimbang hasil yang instan.

      Berkaitan dengan faktor struktural juga adalah masalah anggaran. Besar- kecilnya anggaran yang dibuat dapat dijadikan indikator oleh kita untuk melihat seberapa besar komitmen pemerintah pada sektor pendidikan. Sesungguhnya masalah anggaran ini telah diamanatkan oleh UUD 45 dan diperkuat oleh UU No. 20/2003 tentang Sisdiknas, disana secara eksplisit dicantumkan bahwa besarnya aggaran untuk sektor pendidikan adalah 20% dari APBN. Akan tetapi ini baru sebatas retorika, karena pada kenyataannya alokasi ini hanya berkisar pada anggka 10-11%. Keberpihakan pemerintah terhadap pendidikan sebagai prioritas utama pembangunan menjadi syarat mutlak bangsa ini untuk bisa maju.

      Ketiga, faktor kultural. Kemelut pendidikan terjadi di Indonesia disebabkan oleh warisan pendidikan kolonial yang masih berlanjut hingga hari ini serta masih dipakainya paradigma lama dalam proses pembelajaran yang mengakibatkan rendahnya kualitas akademik peserta didik. Warisan kolonial yang masih melekat dalam dunia pendidikan saat ini adalah masih adanya diskriminasi. Reiza D Dienaputra (2008) mengatakan bahwa pada zaman kolonial Belanda pendidikan dibagai kedalam dua kategori besar, yakni pendidikan untuk orang Eropa dan pendidikan untuk orang pribumi. Pendidikan untuk orang pribumi pun dibagi lagi kedalam dua kategori, yaitu sekolah kelas satu (eerste klasse school) yang diperuntukkan bagi anak-anak priyayi, dan sekolah kelas dua (tweede klasse school) untuk anak-anak masyarakat kebanyakan. Perbedaan tersebut secara otomatis berbeda pula dalam hal sarana, prasarana, dan kualitas akademik.

      Realitas kolonial yang diskriminatif tersebut ternyata tidak hilang sampai sekarang ini, terlebih lagi setelah diterapkannya liberalisasi pendidikan, ketegorisasi pendidikan berdasarkan social exclusion antara mereka yang mampu (kaya) dan tidak mampu (miskin) semakin menggejala. Untuk keluar dari pendidikan yang ”berbingkai kolonial” ini tentu saja memerlukan sebuah langkah yang berani dan radikal dari pemerintah, diantaranya adalah komitmen untuk melaksanakan amanat konstitusi tentang anggaran pendidikan.

      Kemelut pendidikan yang tak kunjung berakhir ini juga disebabkan oleh budaya pengajaran yang teralu berorientasi pada hasil (UN) bukan pada proses. Proses pembelajaran sampai saat ini masih berpusat pada murid atau paradigma bahwa murid adalah objek pendidikan masih bertahan. Hal ini tercermin dari penyusunan kurikulum yang sangat padat, satu arah, dan sangat berorientasi hasil. Ibarat sapi karapan, peserta didik dilecut untuk sampai di garis finis walaupun harus berdarah-darah sekalipun. Mereka dipaksa untuk menguasai semua pelajaran dalam waktu singat. Tanpa memdulikan minat, kemampuan, dan keunikan peserta didik. Segala mata pelajaran dengan segala kesulitannya dijejalkan ke kepala peserta didik. Padahal, seharunya peserta didik adalah subjek dalam proses pembelajaran yang tentu saja dengan mempertimbangkan aspek psikologis mereka, yaitu dengan memberikan kepada mereka keleluasaan untuk mengembangkan diri, minat, dan kemampuan masing-masing. Jika peserta didik menjadi subjek, bukan hanya hasil, tetapi juga proses pembelajaran sangat diutamakan (”Analisis” Media Indonesia, 16 Agustus 2006). Kalau kita melihat pada sistem pendidikan negara maju, seperti Jepang misalnya, ternyata bahwa pendidikan Jepang lebih menekankan aspek moral dan spiritual serta soft skill yang dibarengi dengan penyempurnaan yang berkesinambungan (kaizen), yang dapat melahirkan pribadi seutuhnya (Astuti, 2008)



      Comments
      Heming w.   |2009-08-17 03:35:09
      Wah bagus artikel Anda. Kapan ya pendidikan menjadi ajang/ wadah bagi
      pembentukan karakter bangsa yang efektif dan profesional ? Apa harus nunggu
      Presiden, Mendiknas, dan anggota Parlemen yang terdidik/ terpelajar ?
      Suherman   |2009-08-18 00:35:36
      Para pemimpin kita sudah terdidik dan terpelajar, namun mungkin kurang menyadari
      betapa sangat pentingnya bukku, perpustakaan atau minat baca bagi kemajuan
      sebuah bangsa. Karena esensi pendidikan adalah membaca (Baca juga artikel saya
      "Melupakan Esensi Pendidikan). Pendidikan tanpa membaca sama dengan raga
      tanpa jiwa
      wahyu nurlela R.N  - mahasiswi (umrah)   |2010-03-26 04:19:26
      artikel anda sangat menarik dan saya setuju dengan pendapat anda,
      lola indri  - Mahasiswa     |2012-03-10 21:05:15
      Artikel yang anda buat sangat membantu untuk menambah pengetahuan.
      lola indri     |2012-03-10 21:06:37
      bagus
      yhensi   |2012-06-07 19:53:43
      basa memberikan pengetahuan
      khairil  - magister     |2012-06-07 22:39:40
      Saya sangat tertarik dengan srtikel ini
      khairil  - master     |2012-06-07 22:41:06
      Boleh mengunduh artikel ini? Alasannya cukup menarik untuk dikembangkan dan
      diinformasikan pada kelompok masyarakat pinggiran
      admin   |2012-06-08 23:24:48
      @ Khairil: silahkan, jangan lupa registrasi menjadi anggota
      khairil  - M.Pd     |2012-06-07 22:52:17
      Boleh mengunduh artikel ini?
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Monday, 01 June 2009 14:36  

      Items details

      • Hits: 14996 clicks
      • Average hits: 120.9 clicks / month
      • Number of words: 4921
      • Number of characters: 38792
      • Created 11 years and 4 months ago at Monday, 01 June 2009 by Administrator
      • Modified 11 years and 4 months ago at Monday, 01 June 2009 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,796
      • Sedang Online 118
      • Anggota Terakhir Dr. Ahmad Syawqi, S.Ag, S.IPI, M.Pd.I

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9122136
      DSCF8790.jpg

      Kalender & Agenda

      October 2019
      S M T W T F S
      29 30 1 2 3 4 5
      6 7 8 9 10 11 12
      13 14 15 16 17 18 19
      20 21 22 23 24 25 26
      27 28 29 30 31 1 2

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC