.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail
      Article Index
      Dua Masalah Besar
      Page 2
      Page 3
      Page 4
      Page 5
      Page 6
      All Pages

      Maka sangatlah tepat apabila ingin memustuskan lingkaran setan kemiskinan dengan pendidikan, seperti yang dikemukakan oleh Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan. Hal tersebut senada dengan pendapat Prof. Sunaryo Kartadinata, Rektor Universitas Pendidikan Indonesia, yang mengakatakan bahwa untuk memutus kemiskinan diperlukan upaya pendidikan yang mampu mengikis "budaya miskin", seperti sikap bergantung pada orang lain, berorientasi jangka pendek, bersikap "instan", dan cepat puas.Orientasi ini harus digeser ke arah pemupukan sikap dan kebutuhan untuk berprestasi berlandaskan spirit yang diwariskan sebagai nilai-nilai kebudayaan. Terapi budaya ini tidak semata-mata tanggung jawab sekolah, melainkan terlebih menjadi tanggung jawab masyarakat terutama menyangkut penampilan "contoh" perilaku keseharian yang banyak ditampilkan terutama di media elektronik yang sangat sarat dengan budaya instan dan jauh dari nilai-nilai pedagogis dan kebutuhan untuk berprestasi. Perlu ada perubahan mindset masyarakat dalam memaknai proses dan hasil pembelajaran.

      Yang menjadi persoalan kita sekarang adalah pendidikan yang seperti apa yang dapat memutus mata rantai kemiskinan tersebut. Justru yang terjadi sekarang adalah, institusi pendidikan menjadi produsen terbesar dalam menghasilkan penganggur dan penjahat. Menurut data terakhir dari BPS sebanyak 4.516.100 dari 9.427.600 orang yang masuk kategori pengangguran terbuka Februari 2008 adalah lulusan SMA, SMK, program diploma, dan universitas (Kompas, 22 Agustus 2008). Menurut pengamatan Eko Prasetyo (2006) enam puluh persen kejahatan dan kekerasan dilakukan oleh pelajar.

       

      Kemelut Pendidikan

      Dunia pendidikan nasional kini sedang menunjukkan aneka drama ironis, absurd, bahkan tragis: tawuran antarpelajar dan mahasiswa, siswa bunuh diri karena tidak mampu membayar uang sekolah, penyerangan sekolah oleh masyarakat atau aparat, pencurian soal ujian nasional (UN), pembocoran dan jual beli kunci jawaban oleh oknum panitia, dan terakhir para guru yang membetulkan jawaban ujian siswa, education absurdity.” (Yasraf Amir Piliang, 2008). “Praksis pendidikan nasional kian kering dan cenderung menyesatkan. Hal itu karena terlepas dari proses kebudayaan dan lingkungan sosial yang ada. Substansi pendidikan sebagai upaya memerdekakan manusia (Ki Hadjar Dewantara) atau sebagai proses pemanusiaan manusia (Driyarkara) justru terabaikan oleh berbagai persoalan teknis, manajerial, dan birokrasi. Padahal, ketiga masalah itu seharusnya hanya menjadi penopang substansi pendidikan, bukan sebaliknya. (Darmaningtyas, 2008)”.

      Kedua kutipan di atas saya ambil dari artikel beliau berdua di “Opini” harian Kompas tanggal 2 Mei 2008 untuk mewakili gambaran kemelut pendidikan nasional. Setelah saya mengamati opini dari berbagai pakar yang dimuat di media massa dapat disimpulkan bahwa terjadinya kemelut pendidikan di Indonesia disebabkan oleh tiga faktor determinan:

      Pertama, faktor ideologi. Dalam perspektif ideologis, kemelut pendidikan terjadi karena negara telah menerapkan ideologi kapitalisme atau neoliberalisme dalam mengelola pendidikan. Jerat kapitalisasi pendidikan, menurut Darmaningtyas, telah menjadikan pendidikan bukan lagi berorientasi kepada pencerdasan dan pemanusiaan manusia, tetapi justru menjadi ajang mengeruk keuntungan finansial. Indikator lain telah terjadinya kapitalisasi pendidikan adalah dengan diterapkannya istilah-istilah manajemen industri/ekonomi dalam dunia pendidikan, seperti misalnya istilah “SDM” (sumber daya manusia) yang diadopsi mengganti kata “manusia”. Padahal menurut Fuad Hassan istilah manusia itu lebih kompleks dan multidimensi daripada SDM yang lebih bersifat ekonomis dan dapat dieksploitasi ( Darmaningtyas, 2008)

      Pendidikan menjadi sarana rekolonialisasi dan reimperialisasi neoliberal dalam menghegemoni seluruh ruang gerak manusia (Muhammadun AS, 2008). Lembaga pendidikan tengah mengembangkan diri menjadi suatu industri yang mengikuti logika kapitalisme “pasar bebas” yang memosisikan sekolah sebagai pasar dan peserta didik sebagai pembeli barang dan jasa (Haryono, 2008), serta ilmu pengetahuan semagai komoditas. Peran lembaga pendidikan bergeser dari yang semula didukung negara untuk pemenuhan hak-hak pendidikan dan mencerdaskan bangsa, menuju pada industri yang dikembangkan dan dikelola dengan sepenuhnya mengikuti logika “permintaan dan penawaran” pasar bebas (Harahap, 2008). Dalam konteks seperti ini, kegiatan mendidik tidak lagi berlangsung secara manusiawi dan ikhlas, tetapi penuh pamrih dan eksploitasi. Hilangnya peran negara dalam pendidikan ini akan berdampak pada munculnya lingkaran setan kemiskinan. Banyak anak generasi yang gagal mengembangkan potensi dirinya sehingga mereka tetap dalam kondisi msikin dan bodoh. Karena miskin, tidak bisa bersekolah atau bersekolah tapi di daerah pinggiran yang serbaberkekurangan. Tidak bisa bersekolah, lalu tidak bisa mengubah nasib. Kemiskinan dan keterbelakangan ini diturunkan dari generasi ke generasi (Najmuddin Muhamad, 2008) Korelasi antara kemiskinan dan pendidikan menjadi spiral yang terus membiak apabila tidak segera diatasi.



      Comments
      Heming w.   |2009-08-17 03:35:09
      Wah bagus artikel Anda. Kapan ya pendidikan menjadi ajang/ wadah bagi
      pembentukan karakter bangsa yang efektif dan profesional ? Apa harus nunggu
      Presiden, Mendiknas, dan anggota Parlemen yang terdidik/ terpelajar ?
      Suherman   |2009-08-18 00:35:36
      Para pemimpin kita sudah terdidik dan terpelajar, namun mungkin kurang menyadari
      betapa sangat pentingnya bukku, perpustakaan atau minat baca bagi kemajuan
      sebuah bangsa. Karena esensi pendidikan adalah membaca (Baca juga artikel saya
      "Melupakan Esensi Pendidikan). Pendidikan tanpa membaca sama dengan raga
      tanpa jiwa
      wahyu nurlela R.N  - mahasiswi (umrah)   |2010-03-26 04:19:26
      artikel anda sangat menarik dan saya setuju dengan pendapat anda,
      lola indri  - Mahasiswa     |2012-03-10 21:05:15
      Artikel yang anda buat sangat membantu untuk menambah pengetahuan.
      lola indri     |2012-03-10 21:06:37
      bagus
      yhensi   |2012-06-07 19:53:43
      basa memberikan pengetahuan
      khairil  - magister     |2012-06-07 22:39:40
      Saya sangat tertarik dengan srtikel ini
      khairil  - master     |2012-06-07 22:41:06
      Boleh mengunduh artikel ini? Alasannya cukup menarik untuk dikembangkan dan
      diinformasikan pada kelompok masyarakat pinggiran
      admin   |2012-06-08 23:24:48
      @ Khairil: silahkan, jangan lupa registrasi menjadi anggota
      khairil  - M.Pd     |2012-06-07 22:52:17
      Boleh mengunduh artikel ini?
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Monday, 01 June 2009 14:36  

      Items details

      • Hits: 15211 clicks
      • Average hits: 120.7 clicks / month
      • Number of words: 4921
      • Number of characters: 38792
      • Created 11 years and 6 months ago at Monday, 01 June 2009 by Administrator
      • Modified 11 years and 6 months ago at Monday, 01 June 2009 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,798
      • Sedang Online 71
      • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9127384
      Jantung_Sekolah1.jpg

      Kalender & Agenda

      December 2019
      S M T W T F S
      1 2 3 4 5 6 7
      8 9 10 11 12 13 14
      15 16 17 18 19 20 21
      22 23 24 25 26 27 28
      29 30 31 1 2 3 4

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC