.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      SEPUTAR INDONESIA, JUMAT, 8 APRIL 2011

      Perang Peradaban Informasi

      Ketua Program Studi Hubungan Internasional.FISIP UI

      Jika kita tidak memiliki kesadaran strategis bahwa lawan sudah memulai perang generasi V,kita akan dikejutkan oleh kondisi di mana kita tidak lagi memiliki kekuatan strategis untuk mempertahankan kepentingan nasional.

      Filsuf perang Prusia, Carl von Clausewitz (1780-1871) menawarkan konsep Pusat Kekuatan (Schwerpunkt/Center of Gravity) sebagai terminologi kunci yang harus dipelajari untuk memenangkan perang. Bagi Clausewitz, pusat kekuatan suatu negara terletak di pertemuan gaya tarik (gewicth) tiga unsur kekuatan negara (macht), yaitu rakyat, pemerintah, dan militer.

      Interaksi antara pemerintah dan rakyat terjadi melalui proses kelola pemerintahan dan pembangunan yang menyediakan kesejahteraan dan keamanan bagi warga negara. Interaksi antara pemerintah dan militer terjadi melalui alokasi sumber daya untuk membangun kekuatan pertahanan yang tangguh. Adapun interaksi antara rakyat dan militer terjadi melalui doktrinasi ideologi kebangsaan yang menghasilkan semangat patriotisme nasionalis untuk bela negara.

      Empat Generasi Perang

      Sejarah perang global menunjukkan terjadinya pergeseran pusat kekuatan strategis negara. Dalam perang generasi I, pusat kekuatan strategis ditumpukan kepada interaksi pemerintah dan militer dengan cara membangun benteng-benteng pertahanan yang kokoh. Untuk menghancurkan benteng-benteng ini, strategi militer diarahkan untuk mengembangkan kekuatan penghancur yang efektif sehingga perang yang terjadi di era ini memiliki karakter perang penghancuran (war of attrition).

       

      Napoleon Bonaparte menggeser konsep benteng pertahanan ini dalam perang generasi II. Napoleon lebih mengandalkan kemampuan manuver pasukan infanteri, kavaleri, dan artileri untuk menghancurkan kekuatan militer lawan. Di masa tersebut pusat kekuatan lebih ditumpukan kepada angkatan bersenjata yang memiliki mobilitas strategis yang tinggi. Diera Napoleon ini perang generasi II didominasi oleh karakter perang manuver.

      Perang penghancuran dan perang manuver dipandang mengalami kulminasinya saat pecah Perang Dunia II. Taktik perang kilat (bliztkrieg) yang digunakan Hitler, taktik penghancuran tank Stalin di pertempuran Kursk, dan strategi invasi Normandi yang dilakukan Eisenhower dipandang sebagai titik puncak perang generasi I dan II.

      Perang generasi III muncul di titik puncak perang generasi I dan II. Bom atom yang meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki memunculkan strategi perang nuklir. Berbeda dengan perang generasi I dan II, perang nuklir memunculkan konsep senjata absolut, yaitu satu jenis senjata yang cukup digunakan satu kali untuk mengakhiri peperangan. Senjata absolut pemusnah massal (nuklir) ini digelar dengan kerangka strategi penangkalan strategis (strategic deterrence). Logika utama dari strategi ini adalah senjata nuklir merupakan satu-satunya senjata absolut yang digelar tidak untuk digunakan dalam suatu peperangan.

      Saat ini kita memasuki era perang generasi IV dan V. Perang generasi IV merupakan wujud dari prediksi Albert Einstein tentang Perang Dunia III, yaitu: "Saya tidak tahu senjata apa yang akan digunakan di Perang Dunia III, namun saya bisa memastikan bahwa perang-perang setelah itu akan kembali menggunakan tongkat dan batu."

      Perang generasi IV tidak terjadi sesuai prediksi Einsten. Perang generasi IV muncul sebagai strategi perang asimetrik yang digunakan oleh pihak lemah untuk mengatasi lawan yang lebih kuat. Perang ini muncul dalam bentuk perang gerilya dan insurgensi yang digunakan oleh para pejuang perang kemerdekaan di Asia dan Afrika. Banyak pihak menilai bahwa puncak pencapaian perang generasi IV adalah Perang Vietnam dan Perang Afghanistan yang menunjukkan bagaimana dua pihak yang lebih lemah (Vietnam utara dan mujahidin Afghanistan) berhasil memukul mundur dua kekuatan militer utama dunia (AS dan Uni Soviet).

      Perang Generasi V

      Berdasarkan pengalaman tersebut, AS mengembangkan konsep perang generasi V. Perang ini mengandalkan teknologi informasi yang dipandang mampu untuk tidak hanya melumpuhkan infrastruktur militer, namun juga mampu melumpuhkan infrastruktur nasional, bahkan integrasi sosial suatu bangsa. Jika diktum perang Clausewitz mengarahkan para jenderal untuk mencari satu pusat kekuatan lawan untuk dihancurkan dengan satu pukulan, konsep perang generasi V mengarahkan para jenderal untuk melakukan strategi komprehensif berlapis untuk secara sistematis melemahkan seluruh kekuatan negara bangsa.

      Tujuan utama dari perang generasi V ini adalah mengalahkan lawan tanpa pertempuran militer. Lawan akan berupaya untuk melemahkan interaksi antar pusat kekuatan strategis secara simultan. Interaksi antara pemerintah dan rakyat dilemahkan dengan memunculkan beragam krisis yang membuat rakyat tidak lagi mempercayai kemampuan pemimpin. Interaksi antara pemerintah dan militer dilemahkan dengan memangkas sumber daya yang bisa dialokasikan ke sektor pertahanan. Interaksi antara pemerintah dan militer dilemahkan dengan memunculkan nilai-nilai baru yang mengaburkan makna nasionalisme dan yang mengendurkan militansi patriotik rakyat.

      Kunci keberhasilan taktik perang generasi V ini terletak di penguasaan teknologi informasi. Dengan menguasai teknologi informasi, lawan bisa menurunkan kepercayaan rakyat terhadap SBY dengan memuat bocoran-bocoran Wikileaks tentang penyalahgunaan kekuasaan oleh SBY di dua media cetak Australia. Penguasaan teknologi informasi memudahkan lawan untuk mengintervensi penguatan aliran modal ke Indonesia yang bisa meningkatkan kapasitas industri strategis nasional. Penguasaan teknologi informasi bisa juga digunakan untuk memunculkan subkultur baru yang bertabrakan dengan norma konservatif yang ada di Indonesia.

      Jika kita tidak segera menyiapkan kemampuan strategis untuk turut bertarung di perang generasi V, kita akan mengalami rangkaian pendadakan strategis yang secara sistematis melemahkan pusat kekuatan strategis kita. Jika kita tidak memiliki kesadaran strategis bahwa lawan sudah memulai perang generasi V, kita akan dikejutkan oleh kondisi di mana kita tidak lagi memiliki kekuatan strategis untuk mempertahankan kepentingan nasional. •

      Comments
      mimronj   |2012-07-13 18:45:43
      SAYA SANGAT SETUJU DENGAN YANG DISAMPAIKAN, TAPI APA TINDAKAN KITA KALAU ORANG2
      DPR-NYA TDK PAHAM PERANG ? SEKARANG SAJA SDH TERULANG LAGI PENJAJAHAN SEPERTI
      JAMAN BELANDA. ORANG BELANDA SEDIKIT KENAPA BISA MENJAJAH INDONESIA YG SANGAT
      LUAS ?
      KRN DIBANTU BANGSA KITA YG MAU JADI ANTEK2NYA LONDOOO..! KATANYA BANGSA
      YANG BESAR ADALAH BANGSA YG MENGHARGAI JASA PARA PAHLAWANNYA..?
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Tuesday, 06 March 2012 15:11  

      Items details

      • Hits: 31277 clicks
      • Average hits: 386.1 clicks / month
      • Number of words: 3407
      • Number of characters: 29715
      • Created 6 years and 9 months ago at Tuesday, 06 March 2012 by Administrator
      • Modified 6 years and 9 months ago at Tuesday, 06 March 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,790
      • Sedang Online 96
      • Anggota Terakhir Kurnia Dhimas Putra Adhi

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9093756
      bacalah.jpg

      Kalender & Agenda

      December 2018
      S M T W T F S
      25 26 27 28 29 30 1
      2 3 4 5 6 7 8
      9 10 11 12 13 14 15
      16 17 18 19 20 21 22
      23 24 25 26 27 28 29
      30 31 1 2 3 4 5

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC