.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      Demokrasi dan Pembangunan

      Oleh DAOED JOESOEF

      Penyembuhan demokrasi tak langsung dari neurosis yang dideritanya jelas memerlukan pendidikan formal. Sebab, penyakit ini Man parah, ditandai dengan semakin banyak jumlah orang yang tidak terdidik di kalangan penduduk dari negara-bangsa yang menerapkannya sebagai sistem politik dan ketatanegaraan. Pendidikan formal ini sendiri harus yang mencerahkan, di mana penggunaan nalar (akal, reason) dibiasakan di kalangan anak-anak didik sedini mungkin.

      Nalar dan konsensus

      Pendidikan seperti itu diniscayakan ka­rena, pertama, guna menyadarkan rakyat bahwa yang mereka delegasikan kepada para wakilnya adalah kewenangan bukan tanggung jawab Mereka tetap bertanggung jawab untuk mengawasi semua kekeliruan yang secara efektif diselubungi oleh built-in mechanism institusional dan motivasional yang dimiliki oleh demokrasi tidak langsung.

      Selain ini, ketika parpol menyodorkan kepada mereka calon-calon wakil untuk dipilih, nalar pasti mereka perlukan untuk menilai calon-calon itu. Bukan berdasar opini yang dipidatokan oleh para calon, tetapi berdasar apa yang telah dibuat oleh opini tersebut pada diri calon-calon itu sendiri. Opini yang serba muluk itu bisa saja rekayasa speech writer, bukan keyakinan hidup sebenarnya dari sang calon.

      Penggunaan nalar diperlukan pula, kedua, untuk mengoreksi pola pikir masya­rakat karena cara berpikir individu terpengaruh oleh pola pikir tersebut. Di mana pun, pola pikir masyarakat dibentuk oleh empat unsur: (i) fakta empiris, (ii) pengertian mitologis dan religius, (iii) ide politik dan etik, dan (iv) generalisasi penalaran ilmiah.

      Tiga dari unsur-unsur ini (iiii) berpembawaan  divergen.  De­mokrasi perse bahkan tambah memperkuat daya divergensi unsur (ii) dan (iii). Unsur yang punya efek konvergen hanya satu: unsur ke-(iv). Sejarah keintelektualan setiap kelompok human merupakan cerita konflik dari aspek-aspek yang konvergen dan divergen tadi. Berarti, tak ada satu pun masyarakat yang mau berdemokrasi mam-pu survive kecuali apabila pola pikirnya mengandung banyak unsur ilmiah, yang memungkinkan semua pikiran individual warganya cenderung konver­gen. Dan hal ini terjadi secara reasonable, bukan karena paksaan dari luar diri, walaupun dalam berdiskusi tentang mitos, agama dan ide politik. Namun yang dimaksud dengan "unsur ilmiah" itu bukanlah ilmu pengetahuan perse, melainkan kebiasaan bernalar seperti yang lazim berlaku di komunitas ilmiah.

      Rasionalisasi ketiga dari signifikansi ke­biasaan bernalar adalah demi efektivitas Pancasila, terutama sila keempat. "Musyawarah" tidak identik dengan "negosiasi", bahkan bukan proses take and give ke arah kompromi. Dalam kompromi, yang esensial justru disisihkan karena perbedaah prinsipiil justru ada di situ.

      Musyawarah, sejatinya, dialog interaktif saling menginformasikan apa yang dipikir dan dirasakan tentang hal-hal yang esensial. Konsensus yang jadi tujuannya adalah ekspresi dari suatu keinginan bersetuju secara bebas, suatu kemauan bebas untuk mengatasi semua perbedaan, yang lahir dari "kehendak hidup bersama" da­lam komunitas. Dengan begitu. konsensus dapat dikatakan sebagaimana Descartes mengatakan tentang common sense, bahwa "it is the best shared thing in the world".

      Nalar dan kecerdasan

      Kalau konsensus meru­pakan perkara common sense, ia adalah karenanya urusan nalar dan kecerdasan. Kecer­dasan ada karena hati turut ber­nalar hingga gaifah ditransformasikan menjadi rasa yang nalariah. Inilah yang kiranya disebut "emo­tional intelligence". Berkat perpaduan nalar dan ke­cerdasan, berupa kearifan, konsensus bisa diperoleh bila saja common sense bahkan tidak siap mengatur perilaku in­dividual atau kolektif semata-mata ber­dasar nalar. Filosof-matematikawan Pas­cal di abad XVII telah berujar, "Le coeur a ses raisons que la raison ne pent pas expliquer the heart has its reason when rasion cannot explain (hati punya pe-nalarannya sendiri jika nalar tidak bisa menjelaskan).

      Berarti konsensus dapat dilihat sebagai dialog di suatu persimpangan jalan, antara nalar dan hati, bersendikan konsesi timbal balik, respek dan kasih, kebebasan, ke­mauan dan identitas diri sendiri dan orang lain, yang berbeda dengan diri sendiri. Penglihatan ini berlaku pula apabila kita membicarakan pembangunan nasional, yang merupakan konsekuensi logis dari revolusi nasional kita. Sama dengan revolusi, pembangunan pada asasnya sua­tu konsensus karena berurusan terutama dengan manusia; semua rakyat Indonesia, mengakui ciri-ciri khas historis, kultural dan spiritual bawaan suku/daerah ma-sing-masing di satu pihak, dan solidaritas human serta kebangsaan di lain pihak.

      Pembangunan manusia, sebagai ide dasar pembangunan nasional, berarti memajukan kekayaan hidup human ketimbang kekayaan ekonomi di mana manusia hi­dup. Kekayaan ini hanya sebagian dari kekayaan hidup human karena ia meliputi nilai-nilai yang tidak berbentuk.

      Nalar dan keluhuran

      Sewaktu revolusi dahulu, Bung Hatta selalu mengatakan bahwa kita ingin membangun suatu dunia di mana setiap orang seharusnya bahagia. Menurut hemat saya, kebahagiaan ini identik dengan  kekaya­an human tersebut, yang ukurannya ada­lah memiliki lebih banyak dan sekaligus "menjadi lebih luhur".

      Konsensus mengenai pembangunan, lebih-lebih kalau urusan utamanya ma­nusia, tentu saja bisa bersosok beda menurut waktu dan tempat. Menurut waktu, dalam makna historis dan filosofis dari istilah waktu, menurut tempat, dalam makna teritorial dan kultural dari istilah "tempat". Maka kita jangan sekali-kali melibatkan teknologi melulu dalam pem­bangunan, tetapi juga filosofi. Bukankah Pancasila kita akui sebagai filosofi dasar kita dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Lagi pula, di setiap sila dari Pancasila tersirat keberadaan manusia.

      Berfilosofi secara esensial, menurut Derrida, adalah mencari suatu kriteriologi baru untuk membedakan antara memahami dan menjustifikasi. Berarti, pemba­ngunan terutama di tahap perencanaan-nya tidak bisa lagi dipercayakan kepada teknokrat saja, tetapi kepada teknosof, teknokrat yang berfilosofi. Pembangunan nasional berurusan bukan dengan benda dan hewan, tetapi dengan manusia, yaitu makhluk yang punya nalar dan hati, ber-pikiran dan berperasaan. Akuilah, hal yang esensial ini yang selama ini justru kita abaikan dalam pembangunan nasional, ba-ik dalam teori maupun praksisnya,

      DAOED JOESOEF

      Alumnus Universite Pluridisciplinaires

      Pan theon-Sorbonne

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 686 clicks
      • Average hits: 8.7 clicks / month
      • Number of words: 2902
      • Number of characters: 24219
      • Created 6 years and 7 months ago at Friday, 27 April 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 121
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091493
      DSCF8754.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC