.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail
      Article Index
      Dari Papyrus Ke Paperless
      Page 2
      Page 3
      Page 4
      Page 5
      Page 6
      Page 7
      All Pages
       

      Buku Pada Era Digital 

      Bill Gates pernah membuat prediksi bahwa Internet akan menyatukan dunia, menjadi pemimpin industri media di masa depan dan sekitar 20 tahun lagi media cetak akan mati. Namun, bukan berarti saat itu koran, majalah, buku, tidak ada. Mereka akan tetap hidup namun tidak perlu diprint alias dicetak. Hanya memang kalau user menginginkannya medai-media itu dapat dicetak, bahkan berulang-ulang.

      Kecenderungan ke arah tersebut sudah mulai terasa sekarang ini. Melalui bantuan satelit, stasiun televisi dapat menyiarkan peristiwa secara langsung dari tempat kejadian. Kita juga mudah sekali mengakses informasi apa pun melaui Internet dengan search engine yang semakin canggih. 

      Teknologi seluler pun, berlomba dengan fitur-fitur tercanggihnya dengan biaya yang makin murah. Kini dikenal ada telepon gnerasi ketiga (3G), W-CDMA (wideband code division multiple access), HSDPA (high-speed downlink packet access) dan seterusnya. Jadi telepon genggam dapat berfungsi sebagai televisi, kita pun dapat melihat lawan bicara. Bahkan dengan Communicator atau PDA  buku pun bisa dibaca (e-book) kapan dan dimana saja.

      Tidak lama lagi nomor seluler kitapun akan berfungsi layakanya alamat e-mail, lebih dari sekedar push atau pull e-mail seperti yang sudah marak saat ini. Setiap detik kita bisa mendapatkan informasi apa pun dan dari mana pun.

      Dengan semua kecanggihan teknologi itu, media cetak—yang untuk mendapatkannya kita harus bayar—akan terasa mahal, dan kuno. Apalagi, jika harga kertas terus melambung. Yang juga perlu diingat adalah media cetak perlu percetakan, armada distribusi, dan sebagainya. Media cetak juga membutuhkan senjang waktu tertentu untuk menyampaikan informasi ke publik. Struktur manajemen media cetak yang gemuk dan sangat terbatas sirkulasinya, memang kerap menyulitkannya untuk bergerak cepat. Padahal publik yang kini kian mobile membutuhkan akses informasi secara akurat, cepat, dan murah. (Wiloto, 2006)

      ''Tiras koran di Amerika terus mengalami penurunan,'' kata Nashin Masha, wartawan Republika yang pada  Pada 10 Agustus hingga 4 September 2006, berkeliling ke Washington, New York, Chicago, Atlanta, Athens, Sacramento, dan San Francisco. Perjalanan itu atas undangan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat untuk mengikuti program International Visitor Leadership bidang media cetak. Di sana ia mengunjungi sejumlah koran.Penurunan itu makin signifikan setelah berita bisa diakses lewat layar komputer. Apalagi media internet bisa melakukan up-dating kapan pun. Berbeda dengan media televisi, up-dating berita internet tanpa harus mengganggu 'program' lainnya.

      Penurunan paling spektakuler menimpa San Francisco Chronicle. Pada 2005 tiras koran ini turun 15 persen. Yang mampu bertahan adalah The New York Times yang bisa stabil pada tiras 1,8 juta eksemplar. Namun, koran terbesar di Amerika adalah USA Today dengan 2,2 juta eksemplar. Di AS terdapat 1.500 koran harian, enam ribu mingguan, dan 16 ribu stasiun radio dan televisi. Adapun rincian broadcasting ini adalah 13 ribu stasiun radio, 1.600 stasiun televisi, 490 televisi kabel, 930 stasiun radio agama, dan sejumlah stasiun televisi agama. ''Penurunan pada koran itu tak hanya menyangkut tiras, tapi juga jumlahnya,'' ujarnya. Sebagai contoh, dari tujuh koran di Manhattan empat di antaranya mati.

      Dari 1.500 koran itu,  hanya 20 persen saja yang bagus secara bisnis. Dari seluruh koran yang ada, 80 persen di antaranya hanya beroplah kurang dari 15 ribu eksemplar per hari. ''Tak ada yang tahu masa depan koran,'' katanya. Gambaran paling nyata dari penurunan pamor koran di AS juga bisa dilihat dari penjelasan Larry Heinzerling, wakil redaktur internasional kantor berita Associated Press (AP).Menurutnya, pendapatan AP pada 1970 adalah 60 persen dari perusahaan koran, 30 persen dari radio dan televisi, dan 10 persen dari perusahaan komersial. Namun pada 2005 lalu, ujarnya, pendapatan dari koran turun menjadi 30 persen, 35 persen dari televisi, 25 persen dari online, dan 10 persen dari radio. Hal ini diawali pembentukan departemen multimedia pada tahun 2000. Sehingga, berita AP bisa diakses lewat jaringan internet, misalnya di Yahoo.

      Judy Milestone, mantan wartawan CNN yang kini menjadi konsultan media mengatakan, para tetangganya heran karena setiap hari mendapat kiriman empat koran. ''Mereka bilang buat apa. Toh semuanya sudah ada di televisi dan internet,'' (Republika, 5 Oktober 2006)

      Di Indonesia kematian media cetak sempat juga menjadi wacana. Bahkan beberapa pengusaha koran sempat panik karena oplah surat kabar tak bergerak alais stagnan. Bahkan kelompok Jawa Pos mendeklarasikan 20 surat kabar telah mati. Sementara yang lain ’berdarah-darah’ karena ditinggalkan pembaca dan pemasang iklan.  Surat kabar sekaliber Kompas pun, seperti diungkapkan Jacob Oetama, menilai media cetak belum pernah menghadapi tantangan yang bgitu besar, kecuali sekarang. Dia mengingatkan bahwa dunia sedang berubah secara cepat karena revolusi teknologi. Kemajuan teknologi informasi telah membuat posisi media cetak makin tersudutkan. (Bisnis Indonesia, 11 Peburari 2006 . 

      “Buku sedang sekarat melepaskan nafas terakhirnya ditelan gelombang elektronik,“ kata  Miles M. Jackson dalam artikelnya The Future of Books in Electronic Era. Menurutnya dengan progresivitas transofrmasi dalam bidang teknologi informasi, informasi dalam format tercetak akan diamabil  alih kedalam format elektronik atau digital.

      Apakah era media cetak akan berakhir?  Akankah tak ada yang tahu masa depan buku  nanti seperti apa. Yang pasti, dulu ketika televisi hadir, ramalan tentang kematian media cetak sudah didengung-dengungkan. Tetapi hingga kini media cetak tetap menjadi acuan utama publik. Bukan televisi, apalagi internet. Di samping itu juga ada beberapa “kelebihan” buku sebagai kekuatan budaya dibandingkan dengan media lain 1) buku menjembatani jarak sejarah 2) buku memberikan kedalam 3) menyajikan informasi yang terpercaya 4) buku mudah dibaca kapan dan dimana pun.   Setidaknya  itu yang masih dirasakan sekarang ini. Apalagai kalau mengingat masalah perbukuan dan minat baca masyarakat Indonesia.  Tetapi, memang, masa depan adalah masa yang  terbuka untuk berbagai  kemungkinan.   



      Comments
      sarastiono  - Karya Tulis Paperless   |2010-07-16 05:31:29
      Maju terus literasi....untuk KTI paperless ada ndak. Kalau bisa di kirim ke
      email. Thanks
      sarastiono  - KTI Paperless   |2010-07-16 05:32:47
      Maju terus Literasi....KTI Paperlessada ndak... mohon kirim ke email. Tahanks
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Monday, 01 June 2009 14:30  

      Items details

      • Hits: 12962 clicks
      • Average hits: 102.1 clicks / month
      • Number of words: 7951
      • Number of characters: 59866
      • Created 11 years and 7 months ago at Friday, 29 May 2009 by Administrator
      • Modified 11 years and 6 months ago at Monday, 01 June 2009 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,798
      • Sedang Online 197
      • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9126821
      DSCF8768.jpg

      Kalender & Agenda

      December 2019
      S M T W T F S
      1 2 3 4 5 6 7
      8 9 10 11 12 13 14
      15 16 17 18 19 20 21
      22 23 24 25 26 27 28
      29 30 31 1 2 3 4

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC