.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail
      Article Index
      Dari Papyrus Ke Paperless
      Page 2
      Page 3
      Page 4
      Page 5
      Page 6
      Page 7
      All Pages
      Dari Papyrus Ke Paperless 

      Berkat akal budinya, manusia dapat mengabadikan kesejarahan dunia ini, baik berupa dunia-luar yang kasat mata maupun dunia–dalam yang ada dalam relung hati, fikiran dan emosi.  Hanya dengan  menggunakan 26 huruf seluruh pengalaman bahkan angan-angan masa depan manusia dapat ditungkan kedalam lembaran-lembaran kertas yang kemudian dijilid. Benda inilah yang kita sebut buku.   

      Apakah buku itu? Jawaban atas pertanyaan itu sangat tergantung pada ketertarikan kita, apakah pada karakteristik  fisiknya atau kegunaannya. Berdasarkan tampilan fisiknya, sesuatu bisa dikatakan buku apabila terdiri dari lembaran-lembaran kertas yang disusun dan kemudian dirapihkan pada keempat tepinya serta dilindungi pada bagian depan dan belakangnya dengan sampul yang agak tebal dan bahannya tahan lama. Dalam pengertian sederhana ini, tidak hanya novel atau kitab tafsir saja, namun buku cek, buku kas atau buku nota juga bisa dikatakan sebuah buku.            

      Berdasarkan kegunaannya, sesuatu dikatakan buku apabila terdiri dari rangkaian informasi atau data yang bermakna yang saling berkaitan sercara sistematis dan bernalar. Buku merupakan komunikasi tertulis yang disusun untuk tujuan presentasi dan pemeliharaan sumber-sumber informasi berharga. Yang membedakan buku dengan berbagai bentuk komunikasi lainnya yang sifatnya tidak abadi, yaitu buku memiliki nilai pemeliharaan,  menyimpan pengalaman, pengamatan, serta pemikiran kritis yang berguna untuk jangka panjang.             

      Tidak ada catatan sejarah yang mengatakan pada kita kapan budaya keaksaraan mulai masuk di Indonesia. Padahal kalau ada, itu bisa dijadikan sebuah tonggak untuk mengetahui kapan sesungguhnya bangsa Indonesia ini mulai mengenal dan dikenal dunia. Fakta sejarah yang ada hanya menyuguhkan sebuah kenyataan yang memilukan bahwa pada saat Indonesia meredeka  90% jumlah penduduknya buta huruf.  Menelusuri sejarah buku pada hakikatnya sama dengan mengikuti perjalanan peradaban sebuah bangsa.

      Pada zaman kuno.

      Buku pada awalnya digunakan sebagai pemeliharaan tradisi yg disampaikan secara lisan agar tidak punah. Kepunahan ini diakibatkan karena keterbatasan daya ingat dan daya tampung  memori manusia. Pada umumnya yang menjadi isi buku pada zaman ini adalah ramuan obat, sihir, doa dan ritual, cerita kepahlawanan dan hikayat, silsilah kerajaan atau pemerintahan, hukum-hukum, pengalaman medis, dan pengamatan tentang alam.

      Pada mulanya hasil karya ini hanya dibuat satu salinan dari tulisan asli, kemudian salinan ini dapat diperbanyak berdasarkan kebutuhan. Kemampuan untuk memperbanyak tulisan ini merupakan salah satu faktor penting dalam perjalanan sejarah kebudayaan Barat. Pada masa Romawi kuno, ratusan salinan hasil karya penulis terkenal diproduksi dalam waktu yang relatif singkat. Pada zaman Romawi ini juga, alat pencetak hanya mampu mencetak ribuan salinan. Berbeda dengan  era mesin seperti sekarang ini, buku dapat dicetak hingga jutaan kopi.

      Tulisan tentu saja usianya jauh lebih tua dari buku. Tulisan awalnya dibuat di atas bermacam permukaan bahan yang mudah rusak. Kemudian beralih pada media yang tahan lama seperti  prasasti yang banyak terdapat di atas batu,  logam, kayu, dan tanah liat, walaupun sedikit jumlahnya. Dalam hal ini kita boleh berbeda pendapat apakah kita akan menggunakan istilah “buku” untuk lembaran-lembaran tanah liat dari zaman Mesopotamia kuno, dimana terdapat kumpulan tulisan kuno mengenai hukum-hukum dan cerita kepahlawanan Gilgamesh dalam bentuk baji. Kita juga pernah mengetahui buku dari zaman Mesir, Yunani, dan Romawi kuno. Buku ini diterima secara menyeluruh sebagai sarana penyampaian nilai-nilai yang bersifat abadi. Buku ini diproduksi dan dijual dalam banyak kopi dengan ukuran yang sudah distandarisasi, dibaca dan dikoleksi sebanyak buku yang beredar pada saat itu.

      Buku yang paling terkenal pada zaman Mesir kuno di antaranya adalah buku-buku tentang kematian, yang diperuntukkan sebagai persiapan bagi jiwa-jiwa yang akan pergi untuk membimbing mereka menuju dunia lain dan memberikan penjelasan mengenai pengadilan yang telah menanti mereka. Bahan yang digunakan untuk jenis buku ini—dan  kebanyakan buku kuno lainnya—adalah  lontar , yang banyak terdapat di delta sungai Nil. Tanaman lontar ini dipotong menjadi potongan-potongan yang diletakkan menyilang dan berlapis, kemudian ditumbuk dan digosok menjadi lambaran-lembaran halus yang dianyam sehingga menjadi gulungan-gulungan panjang, yang dibelitkan pada sebuah batang – omphalos (Yunani), umbilicus (Latin), atau pusatnya buku. Pada bagian luarnya, gulungan ini dilindungi oleh sampul perkamen atau pipa, terkadang diberi warna sesuai dengan kode yang telah ditentukan, setiap warna menunjukkan kategori utama  dimana setiap tulisan seharusnya berada. Hal ini mempermudah seseorang untuk mengidentifikasi gulungan tanpa harus melepas ikatannya. Kemudian label yang dibuat dari kulit binatang ditambahkan, yang isinya adalah nama penulis beserta hasil karyanya. Orang Romawi menyebutnya titulus – kita mengenalnya dengan “title”. Orang Yunani dan Romawi menempatkan kolom-kolom tulisan dari kiri ke kanan secara berurutan. Panjang garis atau lebar kolom ditentukan dalam satuan heksameter—yang  memungkinkan dibaca dengan mudah atau dibaca sekilas.

      Kebanyakan sampul buku diawali dengan foto penulis—hal  yang menandai munculnya sampul muka, yang usianya 2000 tahun lebih tua dibandingkan dengan halaman judul. Ilustrasi pada sampul buku kuno seringkali diambil secara alami, contohnya diagram-diagram matematis dan astronomi, serta gambar-gambar tanaman untuk obat. Ditemukan bukti bahwa di dalam beberapa buku terdapat syair-syair kepahlawanan Homer dan Virgil yang termasyur, serta ditemukan pula gambar pertunjukan Terence. Dipercaya juga bahwa Homer dan beberapa alkitab merupakan awal mula buku yang berisi banyak gambar dengan sedikit atau bahkan tanpa teks, dimana cerita-cerita ini telah berkembang sebelum murid-murid di sekolah dan keluarga-keluarga berkumpul untuk menikmati gambar-gambar yang ditayangkan di bioskop atau layar televisi saat ini.

      Pada masa Hellenistic, jilidan-jilidan kuno ini dikelompokkan ke dalam “tomes”, dari bahasa Yunani yang artinya memotong. Jilidan ini terdiri dari karya tunggal sebanyak sepuluh buah, yang disimpan dalam wadah-wadah khusus berbertuk silinder. Proses yang dilakukan oleh bagian fisik dan editorial ini dikerjakan dengan sistematis di Perpustakaan Besar Ptolemies di Alexandria, dimana di tempat ini banyak ditemukan pula gulungan-gulungan buku yang terbuat dari lontar dalam banyak salinan. Koleksi-koleksi ini dikumpulkan dan dipelihara dari abad 3 sebelum masehi sampai dengan abad 5 sesudah masehi.

      Banyaknya jumlah buku yang ada di perpustakaan Alexandria pada saat itu merupakan bukti perkembangan peradaban Yunani sebagai kelanjutan dari kepemimpinan Alexander Yang Agung. Sebelumnya, Athena telah menjadi bukan hanya sebagai pusat perkembangan dunia barat, namun juga pusat penjualan buku yang terorganisir dengan baik, dan memiliki cakupan sistem distribusi sampai ke selatan Perancis, Afrika utara, dan timur dekat.

      Penjualan buku Romawi ciri-cirinya adalah dengan sistem produksi dalam jumlah besar bagi karya-karya baru untuk mengantisipasi penerbitan buku setelah abad pertengahan. Gulungan dari lontar diproduksi dalam ukuran dan kualitas standar, yang panjangnya dianggap berpengaruh pada komposisi kesusastraan. Perbanyakan dilakukan dengan mendikte atau mengkopi dari salinan master yang terjaga dengan baik. Penjualan buku dipusatkan di beberapa lokasi yang ada di kota. Terdapat pula toko-toko eceran dan toko-toko barang bekas, serta bisnis ekspor yang berkembang cepat. Dengan adanya disintegrasi  kekaisaran Romawi, perdagangan buku kehilangan banyak kekuatan karakternya. Penerbitan tulisan baru yang tersistematis akhirnya terhenti, namun tetap mampu bertahan di Roma selama abad pertengahan dalam bentuk jual beli naskah.


      Comments
      sarastiono  - Karya Tulis Paperless   |2010-07-16 05:31:29
      Maju terus literasi....untuk KTI paperless ada ndak. Kalau bisa di kirim ke
      email. Thanks
      sarastiono  - KTI Paperless   |2010-07-16 05:32:47
      Maju terus Literasi....KTI Paperlessada ndak... mohon kirim ke email. Tahanks
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Monday, 01 June 2009 14:30  

      Items details

      • Hits: 11367 clicks
      • Average hits: 99.7 clicks / month
      • Number of words: 7951
      • Number of characters: 59866
      • Created 9 years and 6 months ago at Friday, 29 May 2009 by Administrator
      • Modified 9 years and 5 months ago at Monday, 01 June 2009 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 165
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091307
      bacalah.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC