.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      Catatan Editor:

      Dari Kutu Kupret Menjadi Kutu Buku dan

      Akhirnya Menjadi Kutu Loncat1

      Sebenarnya lebih enak membaca tulisan Mas Romi secara langsung, tanpa harus diedit. Terutama artikel-artikelnya yang merupakan jawaban atas pertanyaan para fans-nya di situs beliau (RomiSatriaWahono.Net). Tulisan-tulisan Mas Romi terasa segar, gaul dan cukup populis. Tentu saja ini merupakan cerminan dari jiwa beliau sebagaimana kata Abul Hasan Ali Nadwi ”kata adalah sepotong jiwa”. Akan tetapi supaya Mas Romi terlihat lebih terpelajar dan tereksplisitkan kepakarannya, maka saya edit sedikit-sedikit disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar tetapi tetap terasa enak. Kadang-kadang pekerjaan saya hanya memiringkan saja kata-kata asing yang belum sempat Mas Romi miringkan.

      Kesederhanaan, adalah kata yang terasa sangat pas mewakili keberwujudan Mas Romi, baik di alam nyata maupun di alam baqa, eh... alam maya. Bahasa kesederhaan ini sering beliau pakai dalam setiap show dalam keluyuran ilmiahnya maupaun dalam tulisannya di alam maya. Sebuah persoalan teknologi yang biasanya dibahas dengan bahasa eksposisi yang kaku dapat beliau bahasakan kedalam bahasan yang sederhana bahkan mendekati ”guyonan teknologi”. Jadi, kecanggihan Mas Romi adalah keberhasilannya dalam menyederhakan kecanggihan. Mungkin suatu saat kita dapat membuat sebuah program dengan tersenyum atau mengaplikasikan software dengan terpingkal-pingkal. Akankah gaya beliau ini akan berbalik menjadi ”senjata makan tuan” untuk sebuah demarketisasi kredibilatas beliau sebagai ilmuwan? Mari kita wait and see saja.

      Untuk merepresentasikan kesederhanaan yang lain, beliu sering mengidentifikasikan dirinya dengan kutu kupret. Kutu kupret bukanlah makhluk biologis, akan tetapi merupakan makhluk sosiologis untuk menggambarkan sosok individu yang berada dalam kelas terendah dalam masyarakat. Individu yang tidak memiliki kekuatan (powerless) dan harapan (hopeless), atau manusia tertindas dan ditindas (mustad’afin) menurut terminologi Islam. Kita tahu bahwa Mas Romi bukan dari kelas sosial seperti itu, akan tetapi ini adalah sikap keberpihakan beliau terhadap mereka. Kutu kupret semakin menyeruak ke penatas kebudayaan Indonesia ini tidak terlepas dari jasa Tukul Arwana melalui acara Empat Mata.

      Sekarang kita ”kembali ke laptop” eh... ke Mas Romi. Dari keberadaaan beliau sebagai kutu kupret menjadi ”wong” seperti sekarang ini tidak terlepas dari hasil belajar yang sangat keras sehingga beliau mengistilahkannya dengan kata ”perjoengan”. Sebuah kata nostalgia yang tetap beliau pertahanakan untuk membawa alam pikiran kita teringat kepada para pahlawan pendiri republik ini. Minat beliau yang sangat rakus terhadap berbagai bidang, yang tergambar dalam tulisan-tulisannya, menjadikan Mas Romi sebagai kutu buku. Dan kalau kita perhatikan sejarah atau peradaban manusia, melalui ”kutu” yang satu inilah tragedi ”lingkaran setan” kutu kupret dapat dipotong menjadi individu yang berdaya.

      Walaupun dunia Mas Romi adalah dunia maya, akan tetapi beliau pelahap buku yang paling rakus. Dalam hal ini beliau tetap menjadi kutu buku bukan kutu internet. Dahulu, pada tahun delapan puluhan, memang ada seorang futurolog (tukang ramal masa depan, jangan diartikan ilmu tentang ke-futur-an ya) yang memprediksikan bahwa buku dalam bentuk tercetak akan musnah, ”buku sedang sekarat melepaskan nafas terakhirnya ditelan gelombang elektromagnetik”, kata Miles M. Jackson dalam artikelnya ”The Future of Book in Electronic Era”. Ramalah rersebut alhamdulillah tidak menjadi kenyataan. Malah sekarang ini industri perbukuan semakin meningkat. Sepertinya, sampai kapan pun buku tidak akan tergantikan oleh media elektronik, kedua jenis media informasi ini saling melengkapi satu sama lain.

      Berkaca dari kesuksesan orang-orang besar (Mas Romi jangan ge-er dulu ya), program pemerintah yang paling pasti untuk mengentaskan kemiskinan di atas bumi Indonesia—”karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”—adalah beternak kutu buku atau membudayakan minat baca. Program pemerintah yang selama ini digulirkan seperti JPS, P2K, dan BLT adalah kontraproduktif. Dengan melihat kondisi psiko-sosial masyarakat miskin Indonesia, diberikan uang sebesar apapun tidak akan dapat mengangkat keadaan mereka. Bantuan yang diberikan oleh pemerintah ibarat air yang disiramkan pada pasir, semua diserap tanpa bekas. Melalui tulisan-tulisannya tentang budaya masyarakat Jepang, Mas Romi telah bercerita banyak kepada kita tentang pengaruh minat baca bagi kemajuan sebuah bangsa.

      Dengan semangat bushido dalam membaca, pada akhirnya Mas Romi dapat mentransformasikan dirinya dari kutu kupret menjadi seorang kutu loncat. Jadi, kutu buku adalah sebuah katalis untuk mengakselerasi transformasi kutu kupret menjadi kutu loncat. Yang saya maksud ”kutu loncat” di sini adalah untuk menggambarkan seorang individu yang memiliki multitalenta sehingga bisa ”berbicara” lebih dari satu disiplin ilmu pengetahuan secara mendalam, atau dalam istilah yang sering disebut Mas Romi adalah versatilist. Individu semacam ini jelas dapat hinggap di medan apa saja, dapat loncat ke sana- ke mari, jadilah si kutu loncat.

      Kekutuloncatan Mas Romi ini dapat kita lihat sangat beragam topik bahasan tulisan-tulisannya, tidak melulu Teknologi Informasi. Dalam blog-nya dapat kita lihat berbagai pertanyaan yang diajukan kepadanya tidak terbatas pada masalah komputer tetapi melebar kepada berbagai problematika kehidupan terutama yang dialami oleh para mahasiswa. Dengan demikian Mas Romi juga berperan bukan hanya menjadi konsultan bidang komputer (IT) tetapi juga dijadikan konsultan kehidupan, atau lebih tapatnya ”dukun ilmiah.” (Bagi Anda yang memiliki masalah jodoh ketik REG …. hehe). Itu semua dapat dilakukan tidak terlepas dari berkat pengalamannya yang banyak dalam melakukan keluyuran ilmiah.

      Dengan melihat latar seperti di atas maka tidak terlalu heran apabila Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PDII- LIPI), tempatnya bekerja dan berjoeang, sangat kesukaran untuk “mengandangi” Mas Romi. Dan jangan dilupakan, Mas Romi pun, setelah didiagnosis, karena kurang tidur (sekitar 3 jam setiap hari) dan terlalu banyak membaca buku ternyata otaknya agak miring ke sebelah kanan, yang kadang-kadang dihinggapi halusinasi yang berlebihan, dan karenanya dia sangat doyan keluyuran ilmiah. Tentu saja ini kurang bisa ditolerir oleh institusi semacam LIPI yang biasanya menggunakan rambu-rambu ilmiah yang cocok dengan orang-orang yang otaknya miring ke sebelah kiri. Jadi, harap dimaklumi saja.

      1 Pengantar untuk buku Dapat Apa Sih Dari Universitas karangan Romi Satriawahono. Bandung: MQS Publishing, 2009.

      Comments
      windari  - is the best     |2011-02-08 19:44:19
      Membaca sedikit tentang tulisan anda saja sudah memberi saya motivasi untuk
      memandang kearah masa depan.
      Apalagi jika saya sudah dapat bergabung dengan
      anda,tentunya akan lebih banyak lagi samudra ilmu tersebut.
      Thank's for
      all...you're the best...
      go...go...go
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Monday, 01 June 2009 15:15  

      Items details

      • Hits: 5299 clicks
      • Average hits: 46.5 clicks / month
      • Number of words: 1253
      • Number of characters: 9044
      • Created 9 years and 6 months ago at Monday, 01 June 2009 by Administrator
      • Modified 9 years and 6 months ago at Monday, 01 June 2009 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,790
      • Sedang Online 94
      • Anggota Terakhir Kurnia Dhimas Putra Adhi

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9093754
      Dialog_Peradaban.jpg

      Kalender & Agenda

      December 2018
      S M T W T F S
      25 26 27 28 29 30 1
      2 3 4 5 6 7 8
      9 10 11 12 13 14 15
      16 17 18 19 20 21 22
      23 24 25 26 27 28 29
      30 31 1 2 3 4 5

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC