.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail
      Article Index
      KEBIJAKAN PEMDA DALAM MENGEMBANGKAN BUDAYA BACA MASYARAKAT
      Page 2
      Page 3
      All Pages

      KEBIJAKAN PEMDA DALAM MENGEMBANGKAN

      BUDAYA BACA MASYARAKAT

      Oleh
      Dardjo Sumardjo

      Terdapat banyak faktor yang menjadi penyebab sehingga minat dan budaya baca masyarakat kita belum sebagaimana yang diharapkan. Faktor adat istiadat atau kebiasaan, faktor tingkat kebutuhan, faktor kemiskinan, faktor rendahnya pendidikan dan sebagainya, menjadi salah satu penyebab masih rendahnya minat baca. Jika sejumlah faktor atau penyebab itu dikaitkan dengan Human Development Index (HDI) ternyata tidak pernah ada data konkrit yang menunjukkan adanya korelasi yang erat antara rendahnya peringkat HDI Indonesia yang diukur dari tingkat kemiskinan, kesehatan dan pendidikan dengan kondisi rendahnya minat dan budaya membaca. Tetapi secara logika saja, dapat diasumsikan, jika minat dan budaya baca masyarakat kita sudah terbentuk, maka seharusnya tingkat pendidikan atau pengetahuan di Indonesia juga cukup tinggi

      Namun kenyataannya adalah, mengapa masyarakat kita masih perlu didorong, dimotivasi dan ditingkatkan minat, kemauan dan kemampuannya dalam hal membaca? Dalam konteks upaya pemberdayaan masyarakat, maka ada dua hal yang dapat menjawab pertanyaan tersebut, yakni :

      1. Perlu menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan berkembangnya potensi atau daya yang dimiliki masyarakat dalam hal membaca.

      2. Perlunya memperkuat potensi atau daya yang dimiliki masyarakat dalam hal membaca.

      Oleh karena itu, minat baca dan budaya baca masyarakat, harus menjadi perhatian dan menuntut tanggungjawab kita bersama. Pemerintah bersama masyarakat dan para pengelola taman­taman bacaan masyarakat atau perpustakaan, perlu mengupayakan agar Taman Bacaan Masyarakat (TBM) atau Perpustakaan itu memperoleh perhatian secara proporsional sesuai perannya masing-masing. 

       

      Konsepsi Pengembangan Budaya Baca

      Konsepsi atau pola pikir pengembangan budaya baca pada hakekatnya tidak bisa berdin sendiri, karena hal ini akan terkait dengan pengembangan fungsi perpustakaan. Mengapa demikian? Karena perpustakaan sebagai sumber belajar mempunyai peran yang sangat penting dalam mendukung proses belajar - mengajar tidak hanya di lingkungan sekolah saja, tetapi juga di lingkungan masyarakat. Selain itu, perpustakaan juga sekaligus sebagai laboratorium belajar yang memungkinkan peserta didik maupun masyarakat dapat mempertajam dan memperluas kemampuannya dalam membaca, menulis dan berkomunikasi.

      Salah satu upaya yang merupakan kunci untuk mengembangkan kualitas Sumber Daya Manusia, adalah mengembangkan minat dan budaya baca, karena tingkat kemajuan suatu bangsa juga ditentukan oleh kemampuan bangsa itu untuk mengakomodasi perkembangan pengetahuan dan teknologi yang menjadi ciri dan penentu kemajuan bangsa.

      Selain itu, bahan bacaan juga merupakan sumber informasi, sehingga kecepatan, kemutakhiran dan penyebarluasan informasi menjadi bagian yang tak terpisahkan dari proses pengembangan kehidupan berbangsa yang beradab. Tanpa bacaan yang menarik dan berkualitas, maka akan sulit diharapkan suatu bangsa dapat mengejar ketertinggalan kemajuan dari negara dan bangsa lain yang saat ini tingkat persaingannya semakin kompetitif, dan hanya bangsa yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang memiliki peluang paling besar untuk memenangkan kompetisi di era global saat ini.

      Dihadapkan pada kenyataan seperti itulah, maka peranan Pemerintah dan Pemerintah Daerah menjadi sangat penting dan strategis. Dalam konteks ini tentu harus ada pemahaman dan kemauan yang tinggi disertai dengan komitmen dari semua pihak, baik Pemerintah maupun Pemerintah Daerah bersama­-sarna dengan masyarakatnya, karena esensi dari otonomi daerah adalah berorientasi pada satu tujuan, yaitu membangun negara Indonesia melalui pemberdayaan daerah secara optimal demi terwujud-nya masyarakat yang adil dan sejahtera.

      Oleh karena itu, minat dan kebiasaan membaca perlu dipupuk, dibina dan dikembangkan. Hal ini dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Pembinaan minat baca seyogyanya memang dimulai dari lingkungan keluarga, karena peranan orangtua sangat menentukan bagi pertumbu-han minat baca anak sejak dini. Bilamana situasi seperti ini dapat dikondisikan secara baik, maka selanjutnya peran dan fungsi perpustakaan dapat dilakukan secara lebih intensif. Dengan begitu, maka kebiasaan membaca sesungguhnya menjadi tanggung-jawab pemerintah dan masyarakat yang didalam pembinaan dan pengem-bangannya melibatkan berbagai pihak terkait, yaitu mulai dari orangtua dalam keluarga, guru, pengarang, penerbit toko buku, pustakawan, organisasi atau praktisi dan juga pihak swasta serta pemerintah, harus secara sinergis mengupayakannya.

      Kebijakan Pemerintah dan Pemerintah Daerah

      Upaya pengembangan minat baca dan perpustakaan diakomodasikan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP 2005) Bidang Kebudayaan melalui program: (1) pengembangan nilai budaya; dan (2) pengelolaan kekayaan budaya. Pengembangan minat baca dan perpustakaan juga sangat penting dalam mendukung pembangunan Sumber Daya Manusia sehingga Rencana Kerja Pemerintah (RKP 2005) Bidang Sumber Daya Manusia mengakomodasikan program pengembangan dan minat baca tersebut dan Sub Bidang Pendidikan, yaitu Program Pengembangan Budaya Baca dan Pembinaan Perpustakaan. Sasaran program tersebut adalah :

      1. Mendorong tumbuhnya budaya kritis yang berbasis iptek;

      2. Mengembangkan minat baca dan budaya baca masyarakat;

      3. Meningkatkan layanan perpustakaan meJalui pengembangan system informasi data base;

      4. Meningkatkan kualitas layanan melalui peningkatan kapasitas kelem-bagaan, baik secara system maupun manajerial.

      Pengembangan minat baca dan perpustakaan bagi 200 juta lebih penduduk Indonesia tentu tidak mungkin hanya mengandalkan sebuah program tersebut. Budaya lisan masih berakar kuat dj masyarakat. Kehadiran TV yang 24 jam penuh juga mengurangi minat baca. Akses fisik maupun ekonomi terhadap buku juga mempengaruhi minat baca. Dengan cakupan masalah yang demikian luas, agaknya sulit apabila hanya mengandalkan perpustakaan-perpustakaan di daerah. Oleh karena itu dibutuhkan dukungan kuat dari semua pihak yang terkait.



      Comments
      annisa  - pengadaan buku   |2010-01-23 17:17:39
      assalamualaikum....
      saya annisa, atas nama sanggar belajar bersama di daerah
      nogosari bantul jogjakarta..ada rencana buat taman bacaan di desa
      nogosari...

      apakah dari pihak lipi bisa membnatu kami untuk penambahan koleksi
      buku di taman bacaan kami..
      buku yang diperlukan berupa buku cerita anak-anak
      dari TK-SMP, buku pelajaran, buku pengetahuan umum seperti ensiklopedia..
      Suherman   |2010-01-27 20:06:00
      Setahu saya LIPI tidak menyediakan buku-buku yang Ibu sebutkan. LIPI terutama
      menghasilkan tulisan-tulisan ilmiah hasil penelitian
      ubay   |2013-06-01 06:44:27
      seepp,,,
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 118581 clicks
      • Average hits: 1049.4 clicks / month
      • Number of words: 2140
      • Number of characters: 17243
      • Created 9 years and 5 months ago at Thursday, 04 June 2009 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Google+ Facebook Twitter mail SC