.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      Mengapa Anda tak Membaca Buku?

      Oleh BAMBANG TRIMANSYAH

      MASIH adakah orang Indonesia yang tidak antusias membicarakan buku dari-pada film? Bagaimana kalau buku yang difilmkan semacam "Harry Potter" atau yang terbaru sema­cam "The Pursuit of Happiness"? Bagaimana kalau film yang dibukukan semacam "NagaBonarJadi2"? Denganfenomena tersebut, kini tak pelak lagi secara pasti buku masuk ke dalam tren masyarakat.

      APAKAH itu tren hiburan (en­tertainment), tren kontrpversi, atau tren kebutuhan, semua-nya menjadi perbincangan antusias. Oleh karena itu, kalau ada orang Indonesia yang tidak antusias membicarakan buku, bisa dipastikan ia adalah jenis manusia yang kurang pergaulan atau rnasih menjadi anggota masyara­kat kelas pendengar, pemirsa, dan pengobrol yang hanya mengandalkan radio-tape, televisi, ataupun warung kafe untuk menambah input pengetahuan mereka.

      Dari dulu, buku sebenarnya merupakan topik perbincangan menarik. Para penggemar karya-karya Karl May, pas­ti sangat antusias membincangkan Winnetou dan Old Shatterhand. Para penggemar Enyd Bliton, pasti antusias mengobrol tentang serunya Lima Sekawan. Para penggemar Hamka yang ha-us spiritual, pasti memuji "Di Bawah Lindungan Ka'bah" dan "Tenggelam-nya Kapal Van der Wijk." Para penggermar R.A. Kosasih, pasti tidak akan lelah larut dalam obrolan tentang Mahabharata dan Pendawa Lima.

      Dahulu, buku adalah satu tren per­gaulan yang melibatkan dunia fantasi, dunia petualangan, serta dunia realitas masyarakat kita. Saat itu, memang gempuran televisi belumlah sedahsyat sekarang. Membahas masa kini, daya tarik buku masih tetap eksis meskipun harus menggunakan kekuatan ekstra untuk tumbuh di dalam masyarakat yang katanya bermmat baca rendah serta keranjingan televisi secara keterlaluan.

       

      Oleh karena itu, para penerbit buku di Indonesia adalah para pejuang budaya yang tetap berusaha tak kenaL le­lah, memasukkan unsur buku sebagai gaya hidup masyarakat. Jadi, tidak heran jika gempuran budaya buku dilakukan mulai dari balita hingga kepada manula. Buku-buku hebat pun diterbitkan yang mengharu-biru perasaan, melambungkan imajinasi, menggedor spiritualitas, memompa motivasi, menggelitik rasa ingin tahu, dan mem­beri seribu satu solusi. Lalu, mengapa Anda tak membaca buku? Kalau alas-annya karena buku mahal, boleh dibandingkan harga buku kita dengan Si-ngapura dan Malaysia serta timbanglah nilai benefitnya dibandingkan lembar puluhan ribu yang harus keluar.

      Kalau dibilang tidak suka baca, bagaimana mungkin Anda bisa hidup tanpa membaca. Kalau cuma alasan waktu, banyak sekali buku-buku praktis yang bisa dibaca dan dipahami da­lam hitungan menit. Terkadang seseorang yang tidak membaca memang akhirnya ingin membaca ketika diberi rekomendasi dari suami/istri, sahabat, atasan, ataupun orang lain yang memintanya untuk membaca. Suatu kali seorang teman mengirimkan SMS ke­pada saya dengan ucapan terima kasih, karena telah merekomendasikan Fi-, nancial Revolution karya Tung Desem Waringin untuk dibacanya. Beberapa teman yang menghadapi masalah juga begitu antusias, ketika saya rekomendasikan membaca "Quantum Ikhlas" karya Erbe Sentanu.

      Kali lain, seorang pengusaha muda, Sandiaga Uno, mengkhususkan satu hari untuk membaca "The Pursuit of Happiness" karena beliau .diminta memberikan testimoni untuk edisi bahasa Indonesia dan katanya beliau merasa takjub dengan isi buku tersebut. Jadi, Anda tidak membaca buku kare­na mungkin tidak ada rekomendasi. Untuk itu, dalam aktivitas hidup Anda, perlulah ada agenda mengunjungi to­ko-toko buku ataupun pameran buku. Jangan menghabiskan waktu selama sebulan terlalu banyak berada di su­permarket, minimarket, ataupun mal-mal yang tidak menambah sedikit pun input pengetahuan Anda. Lalu, apa yang bisa ditawarkan satu buku untuk melengkapi gaya hidup Anda sehari-hari? Dunia buku adalah dunia gagas-an yang disampaikan lewat tulisan.

      Dunia yang lebih detail daripada du­nia pertelevisian maupun radio siaran Berbagai kemasan terjadi meleng­kapi hiruk pikuk hidup Mta. Berikut ini adalah kemasan buku yang memiliki kecenderungan pasar sangat baik da­lam industri perbukuan kita dan men­jadi pilihan utama para pembaca. An­da bisa memilih salah satunya sebagai rekomendasi untuk melengkapi hidup Anda sehari-hari.

      Kemasan kebutxihan

      Kebutuhan manusia berbeda-beda, tetapi ada tiga kebutuhan yang begitu diidamkan oleh masyarakat Indonesia, kini jika dihubungkan dengan pasar buku. Tiga kebutuhan itu adalah kese-hatan, spiritual, dan pengembangan diri. Dalam dunia buku, tiga kebutuh­an ini dikemas dalam bentuk self-help dan, how to yang memang praktis.

      Kesehatan. Buku-buku seperti tera-pi jus, diet golongan darah, dan peng-obatan alternatif begitu laku keras dan menjadi buku wajib baca. Alasannya, sederhana karena kini penyakit begitu bersimaharajalela dan orang butuh panduan pencegahan sekaligus pe-nyembuhannya.

      Spiritual

      Kecenderungan orang untuk kemba-li-ke spiritual dan agama seperti yang ditengarai oleh Danah Johar memang benar-benar menjadi tren. Orang ber-lomba-lomba ingin saleh atau hidup di dunia berdasarkan tuntunan agama.

      Untuk kasus Indonesia, buku-buku spiritual Islam sangat laris manis. Bu­ku semacam kecerdasan spiritual, salat, perilaku Nabi Muhammad saw. dan motivasi begitu diminati. Terma-suk dalam kategori spiritual ini, juga adalah buku-buku motivasi yang ter-nyata begitu diperlukan masyarakat Indonesia untuk coba bertahan selepas krisis moneter dan berbagai bencana yang melanda Indonesia. Jadi, bukan satu kebetulan mengapa La Tahzan (Jangan Bersedih) begitu laku dan se-olah menjadi bacaan wajib Muslimah Indonesia.

      Pengembangan diri

      Masyarakat Indonesia sedang gan-drung dengan topik motivasi dan ba-gaimana cara mengelola potensi diri. Hal ini diikuti dengan lahirnya banyak motivator serta trainer di Indonesia ini dengan berbagai pilihan topik. Ada Tung Desem Waringin, Andrie Wong-so, Reza M. Sjarief, Jansen Sinamo, Ary Ginanjar, Rhenald Kasali, atau Ka-fi Kuraia. Setiap tokoh ini pasti diikuti dengan buku di balik sukses mereka. Satu hal lagi, semangat entrepreneur-ship pun begitu merebak di Indonesia seiring dengan keinginan untuk kaya, sehingga buku-buku entrepreneur pun mengalami bulan madu dengan para pembaca buku Indonesia dalam dua tahun belakangan ini.

      Kemasan popularitas

      Siapa yang popular atau siapa yang sedang naik daun, pantaslah bukunya untuk dibaca. Oleh karena itu, para to­koh popular seperti pejabat atau artis, banyak yang membukukan perjalanan hidupnya ataupun kisah suksesnya. Lihatlah bagaimana buku seorang Tukul terbit dalam beberapa versi, untuk me-nangkap peluang di balik popularitas Tukul. Buku-buku semacam ini bolehlah dibaca sebagai hiburan sekaligus pelajaran bagi para pembaca, tentang tokoh popular yang dielu-elukan ba­nyak orang.

      Namun, awas terjebak karena ba­nyak juga buku-buku dengan tren po­pularitas ini hanya sekadar kosmetika, untuk melambungkan sosok sang po­pular.

      Kemasan kontroversi

      Apa yang kontroversi selalu menarik untuk diketahui. Topik kontroversi ini juga menjadi bahan renyah satu per-bincangan dan kalau Anda membaca bukunya, Anda pun tampak lebih me-nguasai persoalan daripada yang lain. Apa contoh buku kontroversi? Produk luar kita bisa menyebut semacam "Da Vinci Code" karya Dan Brown atau "The True Power of Water" karya Ma-saru Emoto.

      Untuk yang lokal, ada "Detik-detik yang Menentukan" karya B.J. Habibie dan "IPDN Undercover" karya Inu Kencana. Buku-buku seperti ini me­mang bisa langsung menyedot perhati-an dan luar biasa larisnya.

      Lihat saja bagaimana kontroversi buku Inu Kencana, justru semakin me-macu penjualan buku tersebut. Bah-kan, buku tersebut diikuti dengan be­berapa versi lain yang juga melibatkan Inu Kencana. Buku "Detik-Detik yang Menentukan" juga melibatkan perde-batan para jenderal sehingga membuat buku tersebut laku keras, bahkan sempat inden pemesanannya.

      Jika ditilik, hiruk pikuk dunia buku juga menarik seperti halnya hiruk pi­kuk hidup kita. Kita membutuhkan se-suatu yang mencerahkan seperti hal­nya pengalaman orang lain (penulis) dalam buku. Untuk itu, hidup Wta pun bisa diwarnai berdasarkan semangat buku-buku yang kita baca. Jika sudah berada di antara buku-buku, Anda pun akan ditanya: Mengapa Anda tak membaca buku? Padahal, inilah salah satu modal kita yang paling murah un­tuk meningkatkan kualitas hidup.

      Penulis, dikenal dengan nama pena Bambdng Trims, praktisi perbukuan nasional dan Ketua Forum Editor Indonesia.

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Saturday, 25 February 2012 08:11  

      Items details

      • Hits: 2749 clicks
      • Average hits: 33.9 clicks / month
      • Number of words: 4071
      • Number of characters: 32346
      • Created 6 years and 9 months ago at Saturday, 25 February 2012 by Administrator
      • Modified 6 years and 9 months ago at Saturday, 25 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Google+ Facebook Twitter mail SC