.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      MEDIA INDONESIA, 8 SEPTEMBER 2008

       

      Pembiayaan Sekolah Berbasis Kualitas

      (Pengalaman Sukma Bangsa)

      Oleh Ahmad Baedowi

      Direktur Pendidikan Yayasan Sukma

       

      Isu pembiayaan sekolah menjadi panting jika dikaitkan dengan digulirkannya kebijakan anggaran pendidikan 20% mulai tahun anggaran 2009/2010, baik yang harus dise­diakan dalam kerangka APBN maupun APBD. Ka­jian tentang pembiayaan sekolah (school funding) menjadi relevan mengingat sistem pendidikan kita belum menganut asas pembiayaan sekolah secara integral yang berorientasi pada pengembangan as­pek kualitas sebagai target pembiayaan sekolah. Isu pembiayaan sekolah bermutu (school quality funding) masih dihitung secara minimal, yaitu rnenyangkut besaran subsidi dari pemerintah untuk tiap siswa pada setiap tingkat satuan pendidikan. Perdebatan yang ramai dibicarakan oleh para praktisi, birokrat, dan politisi di sekitar pembiayaan pendidikan pun baru menyentuh aspek kebutuhan siswa sebagai unit analisnya, belum menghitung kebutuhan ins­titusi sekolah sebagai sebuah pendekatan penja­minan mutu (quality assurance). Agar anggaran pendidikan 20% yang diamanatkan undang-undang dapat diserap secara efisien dan transparan, perlu dipikirkan skema‑skema pembiayaan pendidikan dengan menggunakan sekolah sebagai unit analisis, bukan lagi kebutuhan siswa.

       

      Dalam analisis satuan biaya pendidikan dasar dan menengah, Abbas Ghozali (2004) memperkenalkan ragam nomenklatur biaya satuan pendidikan yang dimaksudkan untuk mengetahui rekam jejak ke­butuhan pembiayaan siswa per-anak per-tahun, da­lam rangka menghitung besaran uang yang harus ditanggung orang tua dan subsidi yang harus di­sediakan pemerintah. Hasil penelitian tersebut cu­kup mernbantu dalam menjelaskan kemampuan orang tua dan pemerintah sebagai kerangka kon­septual untuk mengetahui informasi dasar tentang biaya satuan pendidikan (BSP), tetapi sayang tak mampu menjelaskan tentang pembiayaan pendi­dikan yang berorientasi pada mutu dengan meng­gunakan sekolah sebagai unit analisisnya. Dalam konteks ini pengalaman Sekolah Sukma Bangsa mungkin dapat menjadi salah satu alternatif untuk mendeteksi pembiayaan sekolah berbasis kualitas, terutama dalam upaya meningkatkan kualitas proses belajar mengajar.

      Beberapa studi tentang darnpak kualitas sekolah terhadap capaian akademis siswa mengindikasikan pentingnya menciptakan sebuah budaya sekolah yang sehat secara manajemen. Dalam skema pem­biayaan pendidikan, keberhasilan siswa dalam para­digma lama selalu bergantung pada kemampuan finansial orang tua dan karakter psikologis siswa ser­ta menafikan kemampuan manajerial dan budaya sekolah (JS Coleman, Equality of Education Opportu­nity, 1966). Dalam banyak hal, kementerian pendidikan nasional sejauh ini belum mampu mem­bangun sebuah budaya sekolah yang komprehensif dan visioner pada tingkat sekolah. Karena itu kebu­tuhan untuk membangun suasana belajar yang po­sitif dan kondusif tidak jarang belum termasuk da­lam komponen dan indikator pembiayaan pendi­dikan. Padahal jika kita merujuk pada hasil studi lainnya yang dilakukan oleh Rob Greenwald, et al, dalam The Effect of School Resources on Student Achieve­ment, Review of Educational Research (1996), jelas terlihat strategi pembiayaan pendidikan di sekolah sangat berpengaruh terhadap capaian siswa.

      Beberapa peneliti mencoba untuk memecahkan kebuntuan pembiayaan yang berkaitan dengan pem­bangunan budaya sekolah sebagai bagian dari kebu­tuhan pokok sekolah dan berkaitan langsung dengan keberhasilan siswa, terutama dengan melihat tren pembiavaan pendidikan secara statistikal. Dengan menggunakan regresi statistikal, terlihat bahwa hu­bungan capaian akadernis siswa dengan budaya se­kolah tidak memiliki ikatan yang kuat karena pada prinsipnya siswa memiliki latar belakang budaya dan etnik yang berbeda. Jika hanya mengacu pada indi­kator kebutuhan siswa per-orang per-tahun, rumusan yang muncul biasanya sangat bersifat numerik dan dalarn bahasa Eric Hanushek disebut sebagai produc­tion-function studies, dalam beberapa hal terlihat hubungan yang tidak selamanya positif antara sema­kin besar dana yang digunakan dalam proses pendidikan dengan capaian akademis siswa. Kesim­pulannya cukup mengagetkan, "There is no strong or systematic relationship between school expenditures and student performance. (Eric Hanushek, The Impact of Dif­ferential Expenditures on School Performance, Educational Researcher: 1989)

      Pengalaman Sukma Bangsa

      Ketika memulai sekolah di tahun ajaran 2006, opti­misme para pengelola Sekolah Sukma Bangsa (SSB) sebenarnya belumlah tinggi. Input sekolah ini adalah anak-anak korban tsunami, korban konflik, yatim piatu, dan fakir miskin, bahkan dengan kemampuan akademis di bawah rata-rata anak sekolah di luar Aceh. Tetapi dengan visi ingin menciptakan ling­kungan belajar yang positif dan kondusif, seluruh manajemen sekolah mencoba menerapkan beberapa strategi dasar pembiayaan sekolah yang mengacu pada penciptaan budaya sekolah yang aman dan nya­man. Beberapa strategi yang dikembangkan SSB me­ngacu pada visi dan misi sekolah sebagai sarana untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang positif bagi para siswa. Karena itu, sejak awal SSB memperkenal­kan budaya moving class, perluasan makna guru, dan penciptaan jejaring sehingga memungkinkan sekolah untuk memperoleh kritik sekaligus masukan dari para stakeholders.

      Strategi pembiayaan moving class ternyata berim­plikasi positif terhadap budaya belajar siswa. Guru diwajibkan berkreasi menciptakan sebanyak mungkin class project activities yang tidak hanya berbasis kebu­tuhan proses belajar-mengajar di kelas tetapi juga di ruang terbuka seperti koridor dan halaman sekolah, perpustakaan, dan lingkungan sekitar. Ketika makna kelas diperluas menjadi keseluruhan sarana prasarana yang tersedia baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah, kreativitas dan usulan proses pembe­lajaran tidak jarang muncul dari siswa itu sendiri. Ka­rena itu, baik guru maupun siswa memiliki hak yang sama untuk mengusulkan sebuah proses pembe­lajaran, pada tahap akhirnya menjadi kewajiban guru untuk membuat proposal pembiayaan aktivitas kelas tersebut.

      Perluasan makna guru juga berimplikasi pada ke­mampuan manajemen sekolah dalam mengidentifikasi sumber daya yang tersedia, baik di ling­kungan sekolah maupun di lingkungan komunitas sekolah (stakeholders). Di SSB, konsep guru diperluas bukan saja guru di sekolah, bahkan seorang tukang becak, paramedis puskesmas, polisi, satpam, clean­ing service, hingga bupati adalah sumber daya guru yang harus diberi kesempatan untuk mengajar di kelas. Kepandaian guru dan murid dalam menen­tukan guest teacher untuk mata ajar tertentu setiap dua minggu sekali adalah sebuah proses yang meng­asyikkan. Lagi-lagi kecermatan, kecerdasan, dan kreativitas guru dengan siswa dalam mengundang guru tamu hams dituangkan dalam sebuah proposal yang jelas berikut pembiayaannya. Pengalaman memaknai perluasan arti guru dengan sendirinya memacu guru itu sendiri untuk pandai membuat pro­posal dan membaca banyak buku sebagai rujukan pro­ses pembelajaran. Dengan dernikian, prinsip self-train­ing seperti yang pernah dijabarkan oleh Thomas Gordon dalam Teacher Effectiveness Training menjadi lebih mudah untuk diterapkan.

      Adapun strategi ketiga, yaitu menciptakan jejaring dengan seluruh komunitas sekolah adalah dalam rangka menciptakan kemitiaan antara satu sekolah dan yang lainnya. Dengan menggunakan pendekatan sebagai pusat sumber belajar bersama (common learn­ing resources center), SSB menawarkan diri kepada sekolah-sekolah sekitar untuk bekerja sama dalam melakukan proses belajar-mengajar. Tujuan dari strategi ini adalah dalam rangka memberikan ruang yang luas kepada sekolah untuk mempelajari apa saja yang mereka inginkan dari lingkungan sekitar, akhirnya dapat menopang posisi sekolah sebagai lembaga pendidikan yang mendorong keterlibatan masyarakat dalam proses pendidikan. Sejauh ini beberapa bentuk kegiatan kerja sama luar sekolah yang telah dilakukan SSB meliputi kegiatan tutoring, men toring, magang (internship), kunjungan lapangan, kemah siswa, serta pengadaan bahan ajar dan suplai pendidikan lainnya yang difasilitasi melalui koperasi sekolah. Perjalanan masih panjang bagi SSB. Tetapi pengalaman membuat perencanaan pembiayaan pembelajaran yang melibatkan seluruh komponen sekolah paling tidak telah membuka mata SSB untuk berkembang menjadi A school thats learn.

       

       

       

      Comments
      daniel  - private   |2013-07-02 07:33:52
      Amat sangat menarik artikel tersebut diatas, dan saya amat ingin membacanya dan
      lebih mendalami makna dari artikel tersebut....
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Thursday, 23 February 2012 09:22  

      Items details

      • Hits: 67177 clicks
      • Average hits: 829.3 clicks / month
      • Number of words: 1400
      • Number of characters: 10829
      • Created 6 years and 9 months ago at Thursday, 23 February 2012 by Administrator
      • Modified 6 years and 9 months ago at Thursday, 23 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Google+ Facebook Twitter mail SC