.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      Ideologisasi Membaca


      Oleh:

      Suherman

      Apa sesungguhnya yang mendorong individu atau kelompok masyarakat tertentu untuk keranjingan membaca. Bagi mereka seolah-olah membaca adalah sebuah perjuangan untuk menentukan posisi bahkan eksistensi. Bagi yang berpegang tegus pada nilai-nilai agama seolah-olah membaca adalah jihad dengan aksara sebagai upaya yang harus ditempuh untuk merebut posisinya di surga. Sebaliknya, bagi yang tidak percaya pada kehidupan setelah mati seolah-olah mereka beranggapan bahwa membaca adalah salah satu jalan yang harus ditempuh oleh manusia apabila ingin memenangkan persaingan atau survival of the fitest. Seolah-olah mereka berkata, “mari kita selesaikan di sini, di dunia ini.” Bertahan atau musnah.

      Barangkali begitulah seharusnya kerangka berpikir yang harus dimiliki oleh setiap warga negara supaya memiliki budaya membaca dan inilah yang saya sebut dengan faktor-faktor parigmatik yang di antaranya terdiri dari ideologi.

      Ideologi

      Kata ideologi pertama kali diperkenalkan pada masa revolusi Prancis 1796 oleh filusuf Prancis Antonie Destutt de Tracy. Kata ini berasal dari bahasa Prancis ideologie, merupakan gabungan dua kata yaitu ideo yang mengacu pada gagasan dan logie yang mengacu kepada logos, kata dalam bahasa Yunani untuk menjelaskan logika dan rasio. Bagi Tracy ideologi dimaksudkan dengan “ilmu tentang ide” yang diharapkan dapat mengungkap asal-muasal dari ide-ide dan menjadi cabang ilmu baru yang kelak setara dengan biologi atau zoologi. Namun, makna ideologi berubah di tangan Karl Marx sebagai alat untuk mencampai kesetaraan dan kesejahteraan bersama dalam masyarakat.

      Menurut Ali Shariati ideologi terdiri dari berbagai keyakinan dan cita-cita yang dipeluk oleh suatu kelompok tetentu, suatu klas sosial, atau suatu bangsa, atau suatu ras. [1] Ideologi memiliki tiga pentahapan. Tahap pertama adalah cara kita melihat dan menangkap alam semesta, eksistensi, dan manusia. Tahap kedua terdiri dari cara khusus dalam kita memahami dan menilai semua benda dan gagasan atu ide-ide yang membentuk lingkungan sosial dan mental kita. Tahap ketiga mencakup usulan-usulan, metode-metode, berbagai pendekatan dan keinginan-keinginan yang kita menfaatkan untuk mengubah status quo yang kita tidak puas. Pada tahap ketiga inilah ideologi mulai menjalankan misinya dengan memberikan pada para pendukungnya pengarahan, tujuan, dan cita-cita serta rencana praktis sebagai dasar perubahan dan kemajuan kondisi sosial yang diharapkan.[2]

      Akan tetapi kini ideologi lebih diartikan sebagai sistem berpikir universal manusia untuk menjelaskan kondisi mereka, berkaitan dengan proses dan dinamika sejarah, dalam rangka menuju masa depan yang lebih baik. Berakar pada hukum kaum liberalis, ideologi diartikan sebagai sistem kepercayaan individu tentang dunia yang lebih baik, sehingga tampaki sebagai pola pikir (mind-set) bagi penganutnya. Ideologi pun dapat dilihat sebagai “cara pandang dunia” (world view) penganutnya untu menilai situasi keseharian mereka dalam rangka mencari jalan untuk mewujudkan kehidupan terbaik di masa yang akan datang. Namun berdsarkan kecenderungan masyarakat masa kini, ideologi dipandang sebagai kumpulan ide atau konsep mengenai cara hidup (way of life) diwarnai oleh budaya dan tatanan masyarakat serta kehidupan politik. Ideologi memiliki unsur konsep atau ide yang diyakini serta diaplikasikan sebagai cara pandang menghadapi masa depan. Ideologi sarat dengan dimensi keyakinan dan utopi.

      Ideologi menjadi visi yang komprehensif dalam memandang sesuatu, yang diformulasi secara sistemik dan ilmiah dari seseorang atau sekelompok orang mengenai tujuan yang akan dicapai dan segala metode pengcapainnya. Ideologi berisi pikiran dan konsep yang jelas tentang Tuhan, manusia, dan alam semesta serta kehidupan yang diyakini mampu menyelesaikan problematika kehidupan.

      Dari kumpulan pengertian ideologi seperti di atas, maka jelas bahwa tidak ada manusia yang dapat hidup tanpa ideologi. Manusia tanpa ideologi hanya akan mengejar kemajuan material, namum mengalami kehampaan dalam aspeek emosional dan spiritual, sehingga teralineasasi serta kehilangan identitasnya yang sejati, lalu mereka mengalami disorientasi dan kesengsaraan hidup. Ideologi menyediakan kejelasan arah bagi manusia, dorongan, pembenaran dan dasar bagi aktivitas untuk bergerak menggulirkan agenda dan aksi-aksinya. Karenanya ideologi menyediakan elan vital, etos, dan bahkan militansi perjuangan. Semangat rela berkorban adalah refleksi keyakinan ideologis.

      Makna ideologi yang indah seperti diatas seolah nampak seperti ada di atas awan bukan di atas bumi Indonesia. Indonesia kontemporer seolah tidak memiliki ideologi. Juga seperti tidak memiliki narasi, tidak cita-cita besar, atau tidak memilki utopi. Indonesia sekarang sedang kebingungan untuk menentukan masa depannya. Rasa romantisme terkadang membuncah kalau teringat kejayaan Sriwijaya atau Sumpah Palapanya Gadjah Mada yang ingin menyatukan nusantara. Alih-laih menjadi negara besar, kini Indonesia malah dimutilasi secara perlahan baik secara geografi, kedaulatan bahkan kebudayaan. Sehingga cita-cita ‘Trisakti’ yang dulu digaungkan oleh Soekarno kini berubah menjadi “Tripetaka” sehingga dalam dialog atau perjumpaan antar bangsa kini kita merasa tidak memiliki muka. Budayawan Taufiq Ismail (1998) dalam bait puisinya menyindir dengan tajam keadaan karakter bangsa ini,” malu aku jadi orang Indonesia.”

      Kita terkadang iri dengan negara Amerika Serikat yang selalu ingin menjadi to be number one di segala bidang sehingga memang layak menjadi negara adidaya. Bangsa China yang merasa sebagai bangsa besar dan dengan budaya kuno tinggi warisan ribuan tahun. Jepang yang melalui jalur tenno heika merasa sebagai bangsa keturunan Dewa Matahari (Amaterasu), maka Indonesia sekarang ini tampak merunduk lesu secara ideologis. Tidak ada cita-cita besar dan heroisme untuk membangun peradaban adiluhung sebagai bangsa besar.

      Budayawan Koenjaraningrat menyebut kita mengidap budaya instant atau “menerabas” budaya potong kompas, budaya miopis (rabun dekat). Ingin cepat sukses, kaya, atau berkuasa dengan usaha sedikit, dan kalau perlu tabrak aturan. Tak mampu melihat masa depan yang jauh, paling banter melihat dalam periode “lima tahunan.” Budaya “menanam jagung” yang tiga bulanan, ketimbang budaya “menenam jati” yang harus menunggu puluhan tahun. Budaya “jalur cepat” menuju sasaran, kalau perlu melangkahi kepala orang. Budaya selebritis instan yang ingin populer dalam sekajap. Atau, budaya “satu hari untung beliung” Seperti judul-judul buku populer: Jalan Pintas Menjadi Kaya, Cara Cespleng Pintar Matematika, dll.

      Program-program pembangunan apabila diperhatikan banyak yang bersifat reaktif terhadap dinamika lingkungan strategis baik nasional maupun global. Seolah-olah tidak nampak program-program antisipatif yang visioner untuk masa depan Indonesia. Inilah salah satu ciri bahwa bangsa kita belum dewasa dalam berpikir, karena “kemampuan antisipasi merupakan indikator kebudayaan tentang kedewasaan suatu bangsa, apakah dia akan menghadapi masalah dengan terkejut dan emosional atau dia akan menanggapinya secara rasional dan siap mengatasinya.”[3] Penyakit kronis kita idap adalah kurang mengharagai mutu, memburu rente dalam ekonomi, politik uang dalam kekuasaan, gelar palsu dalam pendidikan, barang tiruan dalam perdagangan. Dalam budaya pragmatis dan hedonis seperti itu jelas “profit lebih penting daripada profet” atau “Pertanyaan ‘berapa kekayaanmu’ dianggap jauh lebih penting daripada ‘apa yang sudah kamu perbuat untuk bangsamu’. Akhirnya bangsa ini hanya punya para penyelenggara yang kaya material, tetapi miskin integritas, komitmen, dan kapabilitas serta dedikasi.”[4] Mentalitas seperti ini jelas sangat berpengaruh terhadap pembangunan budaya baca karena investasi dengan pengetahuan atau membaca merupakan investasi jangka panjang yang mungkin melintasi genarasi bahkan lintas zaman. Membangun bangsa dengan membaca adalah memerlukan bungker kesabaran yang membaja.

      Kini, ideologi tak mendapat tempat, idealisme hanya tersisa di pojok-pojok sempit ruang kuliah atau kelompok-kelompok diskusi. Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat, sebagian berwarna putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian. Kembalikan Indonesia padaku! (Taufiq Ismail, 1971)

      Bangsa ini perlu kembali menata cara pandang, membiakkan mimp-mimpi besar, memfokuskan masa depan, membangun gairah dan militansi, serta menancapkan cita-cita besar yang hidup dan dirasakan di dalamm hati. Sehingga energi bangsa ini tidak terbuang dalam gerak chaotic melingkar, namun mengalir sinergis dan fokus. Untuk itu, kita butuh semangat ideologi. Tanpa ideologi manusia hanya berlari mengejar peradaban materi, namun hampa dalam aspek emosi dan spirit. Secara kolektif jadilah kita bangsa yang miskin romantika sebagai mana perkataan penyair Jerman Schiller yang sering dikutip oleh Bung Hatta, “ Suatu abad besar telah lahir namun ia menemukan generasi kerdil”

      Ideologisasi Membaca

      Upaya ideologisasi membaca harus segera dilakukan supaya pembangunan budaya baca bangsa terjuwud secara akseleratif. Yang dimaksudkan dengan ideologisasi membaca adalah upaya mengubah cara pandang atau mind-set masyarakat supaya membaca dijadikan sebuah keyakinan atau kepercayaan sebagai alat untuk meningkatkan kualitas hidup. Juga agar membaca dipandang sebagai jalan kenabian atau sebuah titah suci dari Tuhan sebagai cara untuk mengelola dunia. Membaca dijadikan sebuah kegiatan yang memiliki nilai suci yang harus diperjuangkan dan disebarkan secara sadar dan totalitas oleh masyarakat. Negara harus berperan untuk mengemukakan serangkain ajaran-ajaran atau doktrin-doktrin yang bertujuan untuk menerangkan dan sekaligus memberi dasar pembenaran bagi pelaksanaan pembangunan budaya membaca. Hal itu dilakukannya supaya membaca dapat menjadi karakter bangsa. Negara harus berupaya untuk dapat segera menjadikan pembangunan budaya membaca menjadi prioritas pembangunan dan kemudian diimplentasikan secara massif dan simultan sehinga terinstitusionalisasi dan bahkan terinternalisasi dalam diri seluruh warga masyarakat.



      [1] Ali Shariati. Tugas Cendekiawan Muslim. Jakarta: CV Rajawali, 1987, hal. 192

      [2] Ali Syar’ati. Ideologi Kaum Intelektual. Bandung, Mizan, 1989

      [3] Igans Kleden. “Kebudayaan dan Antisipasi”. dalam Kompas, 28 November 2013

      [4] Indra Tranggono “Bangsa Miskin Legenda” dalam Kompas, 23 April 2013

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 597 clicks
      • Average hits: 28.4 clicks / month
      • Number of words: 4779
      • Number of characters: 42545
      • Created one month and 9 months ago at Wednesday, 22 February 2017 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Google+ Facebook Twitter mail SC