.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      Dari Literasi Ke Revolusi

      Basinet (helm militer) bisa melindungi kepala dari peluru. Tapi tidak akan ada alat pelindung kepala secanggih apapun yang bisa melindungi dari tembakan sepotong kata. Atau meminjam kata-kata Sayid Quthub, seorang aktivis Ikhwanul Muslimin yang menjadi martir digantung karena tulisan-tulisannya, “satu peluru hanya bisa menembus satu kepala, tapi satu tulisan bisa menembus ribuan bahkan jutaan kepala."

      Kata bisa diucapkan dan didengar (orality) dan juga dilihat atau dibaca (literacy) yang melahirkan pengetahuan, dan ternyata benar apa yang dikatakan oleh Francis Bacon bahwa pengetahuan adalah kekutan (knowledge is power). Bahkan kalau kita renungkan kekuatan para Nabi dan Rasul mereka hanya berbekal Literasi (berupa firman Allah), untuk melakukan perubahan atau revolusi. Bukankah perintah pertama untuk membangun peradaban mulia adalah dengan perintah untuk membaca (Iqro!) ?

      Karena kata-katalah yang dapat membangun kesadaran yang akhirnya akan menggerakan tangan untuk menenteng senapan dan kaki untuk berlari menyongsong tank dan rudal. Betapa dalamnya ucapan Rendra, “perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.”

      Di belahan bumi manapun dan dipotongan zaman sejarah kapanpun, orang-orang literate (intelektual, intelegensia, cendekiawan) adalah yang selalu menjadi lokomotif perubahan atau pemimpin revolusi. Dan sebaliknya, tahta bisa bertahan bahkan menghegemoni juga karena ditopang oleh pengetahuan. Baik tahta yang membawa sejahtera maupun tahta yang menipakan angkara. Fira’un, sebagai representasi dari diktator yang tidak tertandingi, menopang rezimnya selain dengan senjata (kekutan militer) juga dengan pengetahuan. Dia sendiri adalah seorang literate yang bibliomania (hobi mengupulkan “buku) yang memiliki lebih dari 20.000 “buku.”

      Bila kita menengok sejarah pra-Indonesia maka itulah juga yang terjadi. Saya sendiri mengagumi tokoh Ken Arok (abad ke-12) yang kontroversial namun inspiratif. Ken Arok adalah seorang pribadi yang literate. Beliau membangun kekuasaan dengan cara merangkak dari bawah. Ambisi untuk menduduki tahta Tumapel direncanakan dengan sangat apik. Akan tetapi langkah pertama yang dilakukan Ken Arok adalah melakukan revolusi mental atas dirinya sendiri. Arok tahu betul bahwa untuk merebut kekuasaan tidak cukup hanya dengan mengandalkan kekuatan militer, akan tetapi harus didahului dengan penguasaan atas ilmu pengetahuan. Dengan semangat revolusioner kemudian Arok membacai ribuan lembaran lontar yang berisi berbagai ilmu pengetahuan pada zamannya. Akhirnya seorang yang bukan siapa-siapa dari kasta Sudra kemudian naik menjadi Ksatria dan akhirnya menjadi seorang Brahmana yang dipercaya untuk memimpin revolusi (kudeta pertama di tanah Jawa) terhadap singgasana Tunggul Ametung.

      Revolusi Indonesia pun terjadi gara-gara literasi. Poltik etis yang dijadikan kebijakan politik kolonial Belanda bisa dikatakan menjadi percikan api yang menerangi kesadaran yang akhirnya api itu membesar dan dapat membakar tatanan kolonialisme. Senjata makan tuan. Pada awalnya politik etis diintroduksi oleh kubu demokrat selain untuk pencitraan juga untuk rekrutmen tenaga administratif birokrasi kolonial dari kalangan pribumi. Kesempatan ini, melalu sekolah-sekolah yang awalnya didirikan oleh Belanda, dijadikan jembatan emas baik untuk melakukan mobilisasi vertikal dengan menduduki jabatan birokrasi maupun mobilisasi horizonatal untuk mendidik masyarakat. Yang pada awalnya pendidikan diberikan kepada kaum pribumi hanya untuk memenuhi kekurangan tenaga administratif kolonial Belanda, ternyata malah dijadikan senjata yang ampuh oleh kaum pribumi untuk membunuh kedurjanaan kolonialisme.

      Senjata literasi ini telah menyulut obor api kesadaran yang membakar kejumudan masyarakat pribumi dan menerangi gelapnya realitas kolonial yang menyengsarakan. Literasi telah menimbulkan perasaan untuk mencintai bangsa dan negara sendiri yang disebut dengan nasionalisme. Pelopor dan penggerak gerakan literasi adalah golongan intelegensia yang kemudian hari banyak menjadi pahlawan bangsa. Mereka membawa ilmu pengetahuan, yang diperoleh dari kegiatan literasi (membaca) kepada masyarakat agar mereka sadar akan realitas penindasan yang dilakukan oleh kolonial Belanda.

      Akhirnya pijar api kesadaran tentang pentingnya kebebasan telah menerangi akal pikiran masyarakat secara massif dan simultan, maka tembullah kebernian untuk melepaskan diri dari cengkaraman kuku biadab penjajah. Kesadaran ini awalnya hanya sebuah riak kemudian menjadi ombak dan akhirnya menjadi gelombang dahsyat yang tidak ada kekautan lagi untuk membendungnya. Maka terjadilah revolusi untuk merebut kebebasan dan harga diri.

      Revolusi tidak akan terjadi manakala tidak ada ide revolusi. Dan ide itu muncul dari banyaknya informasi yang masuk ke dalam memori yang instrumen utamanya adalah membaca. Bagi kolonial dan penguasa diktator budaya literasi atau masyarakat literate adalah ancaman bagi kekuasaannya. Maka tidak heran apabila Hitler mengatakan, “bahagialah seorang penguasa yang memiliki rakyat yang bodoh.”

      Kini kolonialisme tidak lagi melalui senjata akan tetapi dilakukan melalui cara yang sangat halus (soft colonialism) terutama melalui pendidikan, ekonomi, dan kebudayaan. Saking halusnya banyak yang tidak sadar bahwa kita tengah dijajah dan diperkosa secara ekonomi dan kebudayaan. Sedihnya sebagian merasa bangga dijajah bahkan mengundang penjajah dan memuluiakannya seolah mereka adalah para mesias yang akan membawa kita ke keadaan yang lebih makmur dan sejahtera.

      Watak dan semangat kolonialisme sampai kapan pun tetap sama yaitu mengekploitasi bangsa melalui akal bulus “bantuan” dalam bidang ekonomi (utang), politik, pendidikan, dan kebudayaan. Kalau dulu disebut daerah jajajahan atau koloni maka sekarang berupa pasar untuk menjual produk kebudayaan mereka. Mereka masuk ke Indonesia melalui agen atau komprador yang telah mereka didik, atau lebih tepanya “dicuci otaknya” dengan pengetahuan yang mendewa-dewakan kemajuan mereka. Para komprador ini, yang terdiri dari kaum intelektual dan pejabat yang nirnasionalisme, membawa Indonesia untuk berkiblat kepada negara mereka. Maka kita lihat hasilnya hari ini pendidikan kita tidak membumi, gagal untuk mengindonesiakan dan memanusiakan rakyat Indonesia. Pendidikan telah berhasil memalinkundangkan generasi muda yang durhaka terhadap ibu pertiwinya. Secara ekonomi, akhirnya banyak rakyat yang bukan saja menjadi “koeli di negeri sendiri“ seperti kata Soekarno malah banyak yang menjadi “gelandangan di kampung sendiri” sebagaimana ditangisi Cak Nun.

      Sejarah akan terus berualang, maka untuk mengembalikan kedaulatan, kemandirian, dan kembali kepada jati diri bangsa adalah juga dengan revolusi melalui gerakan literasi. Massa harus dibekali dengan kemahiran literasi informasi supaya pandai menganalisis informasi yang menipu dan memperdayakan. Literasi informasi adalah sebuah senjata supaya massa sadar tentang realitas yang sebenarnya. Dengan kesadaran ini maka kita akan sama-sama bangkit melakukan sebuah revolusi gerakan perlawanan untuk kembali kepada diri sendiri. Gerakan literasi mengemban amanah suci dari Pembukaan UUD 45 yang berbunyi “maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan” Merdeka! (Suherman)

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 196 clicks
      • Average hits: 9.3 clicks / month
      • Number of words: 16938
      • Number of characters: 120303
      • Created one month and 9 months ago at Tuesday, 07 February 2017 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Google+ Facebook Twitter mail SC