.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      Bukan Literasi Benar Menusuk Kalbu

      Oleh:

      Suherman

      Alhamdulillah literasi akhirnya mendapatkan tempat di ruang publik dan negara pun, yang awalnya terkesan acuh tak acuh, mulai meliriknya. Bukan hanya bidang pendidikan yang mulai mengitegrasikannya kedalam kurikulum, akan tetapi bidang lain pun seperti politik (literasi poltik), finansial (litrasi finansial) , termasuk masalah sosial (biblioterapi) sedang melakukan elaborasi . Dua dasawarsa yang lalu masalah literasi kurang dipedulikan mungkin karena istilah ini belum populer (sampai saat ini kata “literasi” belum ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia). Setelah banyak bukti bahwa budaya literasi ternyata sangat vital dalam proses pembangunan maka mulailah ramai dibahas. Dan untuk menutupi rasa bersalah ini banyak yang menyalahan budaya lisan. Budaya lisan tepatnya kelisanan (orality) dijadikan sebagai tersangkan, untung belum terdakawa, sebagai penghambat tumbuhnya budaya literasi di tanah air. Saya sendiri meragukan adanya budaya lisan ini, karena yang namanya lisan bukanlah hasil budaya akan tetapi sudah ada dari sono-nya (taken for granted). Bukan hasil dari kebudayaan manusia seperti keaksaraan atau literasi (literacy) yang diawali dari ditemukannya tulisan. Kelisanan sama seperti melihat dan mendengar bahkan mugkin juga sama seperti bersin, batuk, dan kentut semuanya berada di luar kuasa rekayasa manusia.

      Dalam tulisan ini saya akan membahas hubungan antara literasi dengan masalah kekerasan. Kedua masalah ini sedang menjadi trending topic dalam pertarungan wacana di tanah air. Baik untuk pengembangan kebudayaan maupun hanya sekedar untuk keperluan branding dalam pertarungan politik yang masih jauh dari demokrasi ini.

      Kekerasan ada di setiap tempat dan waktu. Sejak manusia diciptakan sampai nanti kiamat akan tetap ada. Sejarah adalah cerita tentang kekerasan. Kekerasan tidak mengenal suku bangsa, semua ras manusia melakukannya. Kekeran tidak mengenal status sosial, dilakukan oleh sorang raja maupaun rakyat jelata, orang kaya atau orang miskin. Dan kekeras tidak mengenal tingkat pendidikan, dilakukan oleh profesor maupun orang-orang rombengan dari bumi yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Kekerasan dilakukan oleh si pintar dan si bodoh. Kekerasan bisa dilakukan oleh siapa saja baik perorangan maupun secara kolektif terorganisasi bahkan oleh negara. Kekerasan bisa berbentuk ideologi, ekonomi, politik, maupun kebudayaan. Oleh karena itu kekerasan hanya bisa dihilangkan atau diminimalisasi hanya dengan antitesisnya yaitu moral.

      Belakangan ini ada beberapa penelitian mengenai hubungan antara budaya literasi dengan tindakan kekerasan. Dengan sebuah asumsi atau hipotesis bahwa semakin tinggi budaya literasi di sebuah masyarakat maka akan mengurangi tindakan kekerasan pada masyarakat itu, dan sebaliknya. Misalnya ada yang meneliti hubungan ini di sekolah dasar dengan kesimpulan bahwa semakin banyak seorang siswa membaca ternyata akan mengurangi bahkan menghilangkan perilaku suka bulying. Atau kita sering menyodorkan kisah nyata dari buku atau film Freedom Writers yang menceritakan tentang keberhasilan seorang guru dalam mengelola kelas dengan murid yang super bengal malah sampai kriminal menjadi kelas yang penuh tolerasi, solidatiras, dan prestatif. Untuk menaklukan kelas itu sang guru hanya menggunakan dua senjata yaitu kisah dan buku. Satu lagi tentang Malcolm X, seorang berandalan putus sekolah yang berhasil menjadi cendkiawan—dan akhirnya menjadi seorang politisi bahkan dianggap sebagai pahlawan—di dalam penjara karena keranjingan membaca.

      Dengan cerita-cerita seperti di atas lantas kita menyimpulkan bahwa budaya literasi bisa dijadikan sebagai penangkal kekerasan. Akan tetapi menurut saya belum tentu, karena dalam sejarah pun banyak cerita yang justru menjadi antagonisnya. Coba baca buku biografi Karl Marx, Stalin, Mao Zedung, dan Hitler. Para diktator tersebut adalah orang-orang yang literate atau kecanduan membaca buku, malah Marx, sang hantu komunisme inernasional ini, dijuluki sebagai bibliomania atau orang yang tergila-gila dengan buku. Akan tetapi mereka semua adalah jagal manusia dan kemanusiaan yang sangat bengis dalam sejarah peradaban. Orang-orang intlektual yang anti intelektual, dan dalam mencapai tujuan politiknya memakai cara kekerasan yang paling biadab dalam sejarah. Sama biadabnya dengan Jengis Khan yang tidak pernah baca buku. Di ujung jari mereka jutaan manusia mati dengan tragis. Dalam genggaman orang-orang pintar yang tidak bermoral kemahiran literasi justru menjadi mesin kekerasan bahkan mesin pembunuh yang paling berbahaya.

      Jangan dikira bahwa orang yang banyak pengetahuannya tidak akan berbuat kekerasan, yang berbeda adalah hanya jenis kekerasannya. Kelas elit beda pendapat, kelas menengah konflik, dan orang yang rendah pengetahuannya bisanya tawuran. Orang tidak berpengethuan mencuri dengan cara merampok atau membegal dengan senjata, orang berpengetahuan mencuri dengan cara korupsi pake ballpoint. Seorang begal hanya membunuh dengan korban berjumlah hitungan jari, tapi seorang intelektual dengan buah pikirannya bisa membunuh sampai jutaan orang.

      Kemahiran literasi bukanlah obat mujarab untuk mengobati penyakit masyarakat, kerawanan sosial, atau penolak bala kekerasan. Literasi hanyalah sebuah cara atau alat (tool) untuk mendapatkan informasi atau pengetahuan. Literasi seperti sebuah pisau bisa digunakan untuk menyembelih ayam atau menggorok leher manusia. Oleh karena itu yang harus sangat diperhtikan adalah pesan atau isi dari bacaan. Makanya tidak hanya sekedar membaca akan tetapi harus iqro bismi robbikal lazi khalaq, membaca dengan selalu menyebut atau menyertakan nama Tuhanmu yang menciptakan. Jangan sampai melupakan eksistensi Tuhan atau demensi moral dalam kegiatan membaca.

      Literasi bermakna bagaimana seseorang mahir dalam menganalisis informasi. Dari berbagai penelitian dan pendaptan para pakar ada indikasi bahwa siswa Indonesia tidak terbiasa menganalisis informasi. Fenomena hoax yang ramai sekeranga ini adalah cermin bahwa masyarakat Indonesia belum bisa membedakan mana informasi yang yang benar dan yang palsu sehingga mudah ditipu atau diperdaya. Oleh karena itu untuk mengeliminasi informasi hoax pemerintah tidak usah repot mengawasi media sosial dan melarang banyak situs. Jadikan saja masyarakat indonesia menjadi masyarakat yang literate atau pandai menganalisis informasi melalui lembaga-lembaga pendidikan.

      Manusia adalah apa yang dia baca atau pikirkan. Oleh karena itu sangat berbahaya apabila tidak hati-hati dalam menerima informasi. Harus ada tabayun (analisis informasi) karena dari informasi yang diterima inilah sebuah keputusan atau kebijakan akan diambil. Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepada orang fasik membawa suatu berita (informasi), maka periksalah dengan teliti (tabayun = analisis informasi ) agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum (audiens) tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu (al-Hujurat: 6).

      Untuk membuat analisis informasi yang benar memerlukan metode tersendiri yang harus memperhatikan berbagai variabel. Misalnya yang paling sederhana adalah formulasi komunikasi yang dibuat oleh Harold D. Laswell: who, say what, to whom, what chanel, and with what effect. Bila dirinci bisa menghasilkan satu variabel satu judul buku. Siapa (komunikator), berkata apa (pesan), kepada siapa (khalayak), menggunakan media apa, dan kira-kira apa yang dinginkan komunikator (efek).

      Apabila kita membaca buku pernahkah kita menganalsis secara detil tentang penulisnya. Atau dalam sebuah karya ilmiah pernahkan sumber rujukannya dipermasalhkan identitas, kapabilitas, dan integritasnya. Biasanya dalam sebuah karya ilmiah yang penting disebutkan sumber rujukannya tidak peduli dengan keberadaan pengaragangnya. Ada seorang teman yang psikolog bahkan mengaku psikolog muslim yang mengagumi teori psikoanalisis dan merasa bangga bila mengutip nama Sigmund Freud yang membuat teorinya. Dia tidak pernah tahu siapa sebenarnya Freud ini. Ternyata menurut Zilboorg, sepanjang hidupnya Freud dihantui oleh death anxiety, pesimisme, dan memiliki sikap penyedih yang mencerminkan depressive neurosis. Lha, dengan demikian banyak ahli ilmu jiwa belajar dari orang yang sakit jiwa. Apakah ini tidak lebih gila dari orang gila? Bandingkan misalnya dengan proses penentuan kebenaran atau keotentikan sebuah hadits. Penyampainya (perawi) harus dinilai secara ketat identitas, kapabilitas dan integritasnya. Kalau ada caca moral sedikit saja maka tidak akan diterima. Jangankan menipu orang, menipu binatang saja pendapatnya tidang dipercaya.

      Kata Bung Hatta buku akan membentuk karakter bangsa. Oleh karenanya menentukan buku apa yang akan dibaca sangatlah penting. Pesan yang tertulis dalam sebuah buku tidaklah bebas nilai, pasti bermuatan idelogi dari penulisnya. Melakukan akuisisi bahan pustaka pada era liberal seperti sekarang ini bukanlah pekerjaan yang ringan. Semua pengarang baik yang bermolah maupun tidak bebas mengekspresikan pendapatnya melalui buku. Apalagi orientasi negara yang semakin kapitalis sangat mempangaruhi pasar yang tidak lagi memperhatikan dimensi moral, pertimbangannya hanya profit bukan lagi “profet.” Misalnya sekarang ini masyarakat sangat mudah untuk membaca atau membeli buku-buku sastra selangkangan atau sastra lendir. Malah buku-buku tersebut menjadi best-seller nasional padahal buku-buku tersebut secara tidak langsung akan memicu terjadi seks bebas dan kekerasan seksual. Menurut para ahli neurologi, fornografi akan merusak syaraf dan jauh lebih berbahaya dari pada narkoba. Pantas bila Imam Asyafi’i berkata “ hari ini setengah hafalanku hilang karena melihat aurat.” Padahal yang dilihat hanya betis perempuan bukan alat vital. Buku-buku berbau fornogarafi tidak ada manfaatnya sedikit pun bagi kehidupan malah buku sastra jahiliyah semacam itu akan menimbulkan pembusukan kebudayaan. Tapi tidak ada tindakan apa-apa dari negara, sangat beda dengan penangan kasus narkoba atau teroris, sekali lagi padahalan dampaknya sama-sama bebahaya terutama bagi genrasi muda.

      Knowledge is power kata Francis Bacon, pengetahuan adalah kekautan atau kekuasaan. Kata-ka kata populer yang meliki makna yang hampir sama ducapakan oleh Rene Descarte cogito ergo sum ( aku berpikir maka aku ada). Atau yan paling eksplisit adalah pepatah Latin lego ergo scio (aku membaca maka aku tahu) Jauh sebelum Bacon dan Descartes, Nabi Muhammad bersabda apabila ingin mengusasi dunia dan akherat maka kuasailah ilmu, oleh karena itu mencari ilmu wajib hukumnya. Bahkan Firman pertama yang diturunkan adalah ayat literasi, perintah membaca, maka membaca pun sebuah perintah yang mestinya wajib hukumnya. orang yang banyak pengetahuannya akan menjadi orang kuat atau berkuasa tentsu saja secara intlektual bukan secara fisik. Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan mereka yang beroleh ilmu pengetahuan (Al-Mujadalah 11). Derajat seseorang sebanding dengan kedalam ilmu yang ada dalam dirinya. Apabila seseorang hanya mempelajari aspek teknis maka ia akan menjadi seorang teknisi; apabila yang dimiliki banyak informasi maka ia akan menjadi seorang manajer; apabila informasi itu diolah menjadi pengetahuan maka ia akan menjadi seorang pemimpin, dan apabila kedalaman pengetahuan yang dimilikanya mencapai kebenaran filosifis atau hikmah maka ia akan menjadi seorang master (guru) atau begawan. Salah satu cara untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang paling “gampang’ dan populer adalah dengan membaca buku.

      Baik sabda Nabi maupun ucapan Bacon ternyata terbukti kebenaranya di dalam sejarah peradaban manusia, baik dalam taraf individu maupun skala negara. Coba kita perhatikan, bangsa yang maju secara teknologi adalah bangsa yang budaya literasinya tinggi. Sebaliknya, bangsa yang budaya literasinya rendah akan tertinggal. Akan tetapi bagaimana dengan Yunani yang bebrapa tahun yang lalu nyaris saja mengalami kebangkrutan? Padahal Yunani adalah sebuah negara tempat dilahrikannya banyak filosof dunia. Malah Yunani sempat menjadi pusat peradaban dunia. Menurut saya hal itu terjadi karena orientasi literasi Yunani kepada humaniora bukan teknologi. Filsafat berkembang akan tetapi teknologi atau ilmu praktis material ditinggalkan. Sedangkan negara-negara seperti Amerika, Jerman, Jepang, dan China adalah mereka yang mengembangkan ilmu rekasaya material. Bahkan sempat ramai bahwa Jepang akan menghapus ilmu-ilmu humaniora dari pendidikan tingginya karena dianggap tidak berguna dalam kemajuan pembangunan. Dari kasus ini sekali lagi kita melihat bahwa bukan masalah budaya literasi semata yang menjadi pendorong kemajuan akan tetapi isi atau pesan dari materi bacaan itu sangatlah menentukan.

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 279 clicks
      • Average hits: 13.3 clicks / month
      • Number of words: 5070
      • Number of characters: 42869
      • Created one month and 9 months ago at Monday, 06 February 2017 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Google+ Facebook Twitter mail SC