.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      Perpustakaan Palaguna ?

      Oleh:

      Suherman

      Pustakwan Berprestasi Tingkat Asia Tenggara

      Menanggapi keinginan Wakil Gubernur Deddy Mizar untuk menjadikan “gedung hantu” Palaguna menjadi galeri buku atau perpustakaan terbesar di Indonesia (Pikiran Rakyat, 18 Juli 2013), saya jadi teringat kembali pada wacana tiga tahun yang lalu. Pada waktu itu Gubernur Ahmad Heryawan pun menginginkan hal yang sama. Saat itu saya menulis opini di harian ini dengan judul “Perpustakaan Hijau di Palaguna” (Pikiran Rakyat, 17 Maret 2010). Saya membuat opini Perpustakaan Hijau karena pada waktu itu ada wacana dari wali kota Bandung bahwa gedung itu akan dijadikan ruang terbuka hijau (RTH). Karenanya kita memadukan “hijau”dengan perpustakaan, lebih dari sepertiganya berupa ruang terbuka hijau yang fungsional.

      Saya bersama Asosiasi Arsitek Jawa Barat pada waktu itu sudah membuat konsep dan malah gambar desain sudah jadi. Kemudian kita presentasi di Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (BAPUSIPDA) Jawa Barat. Kami sebagai insan perpustakaan (pustakawan) berbunga-bunga pada waktu itu karena akhirnya Jawa Barat akan memilki perpustakaan yang representatif. Akan tetapi harapan itu hancur seketika karena status gedung Palaguna yang masih ada dalam pengelolaan PT. Jawi.

      Ternyata Wagub juga “kena batunya”, maksud mulia itu pun seketika mendapat reaksi dari pihak PT. Jawi bahwa gedung itu akan dijadikan mall dan hotel. Reaksi tersebut sebenarnya tidak mengherankan, mengingat persepsi pengusaha terhadap perpustakaan rata-rata kurang bagus. Apalagi dengan membandingkan dengan “perpustakaan” di Bandung Indah Plaza (BIP), yang sebenarnya bukan perpustakaan tapi TBM (taman bacaan masyarkat) yang dibangun di bekas toilet.

      Selain dari pengusaha, suara kurang mendukung juga berasal dari anggota dewan yang menilai keputusan gubernur tersebut kurang strategis mengingat lokasi Palaguna yang berda di “kawasan emas” yang prospektif untuk kegiatan bisnis. Sedangkan perpustakaan adalah lembaga yang kegiatannya hanya menghabiskan anggaran. Ini juga pikiran pendek kapitalistik yang tidak memikirkan pembangunan manusia (human capital) Jawa Barat jangka panjang.

      Sebenarnya apabila melihat permasalahannya secara integral dan komprehensif justru menjadi peluang yang sangat bagus. Menyatukan antara kegiatan bisnis dengan sosial tidak begitu sulit, apalagi mengingat Palaguna yang berada di kawasan bisnis. Penulis sangat meyakini perpustkaan dapat dikelola dengan manajemen yang berorientasi pada kegiatan sosial dan bisnis. Palaguan sangat berpotensi untuk menjadi kawasan wisata edukatif. Malah perusahaan akan mendapat citra yang baik di mata masyarakat. Tempat-tempat wisata edukatif yang ada di Jawa Barat, seperti yang ada di Sabuga dan Kota Baru Parahyangan misalnya, terkesan sangat scientific, padahal pendidkan terdiri dari aspek intelektual, spiritual, emotional, dan sosial.

      Dari segi pembiayaan, perpustakaan dapat dikelola secara mandiri, tidak lagi tergantung pada APBD. Dengan sentuhan manajemen modern pembuatan galeri atau perpustakaan ini merupakan proyek yang sangat layak investasi atau dapat dibiayai swasta. Keinginan membuat hotel misalnya, sangat bisa untuk direalisasikan. Malah kalau jadi mungkin ini adalah satu-satunya perpustakaan di dunia yang memiliki hotel.

      Memang untuk mengelola perpustakaan atau galeri buku yang berorientasi sosial dan bisnis diperlukan redefinition state of mind dan perubahan mindset para pengelola perpustkaannya. Jangan membayangkan bahwa perpustakaan hanya tempat simpan-pinjam buku dan tempat membaca. Perpustakaan yang cocok di Palaguna adalah jenis perpustakaan umum (public library). Perpustakaan menjadi pusat inspirasi dan edukasi serta tempat masyarakat berekspresi dalam berbagai bidang yang berkaitan dengan pendidikan, sosial, ekonomi, dan budaya secara bebas.

      Masyarakat pun diberi ruang untuk ikut serta dalam menggagas program perpustakaan. Tidak seperti yang terjadi sekarang ini, hampir semua perpustakaan umum berperan sebagai perpustakaan pemerintah (state library). Semua program, pendanaan, dan sumber daya sudah ditanggung dan disediakan oleh pemerintah. Tidak pernah melibatkan masyarakat. Masyarakat tinggal memanfaatkannya saja. Yang akhirnya tidak ada rasa memiliki dari masyarakat terhadap perpustakaan. Dan ini bukan hanya terjadi di perpustakaan umum daerah di Jawa Barat, akan tetapi terjadi di seluruh Indonesia.

      Landmark

      Secara nasional, bidang kepustakawanan Jawa Barat cukup diperhitungkan bahkan ada beberapa capaian yang sering dijadikan rujukan, misalnya Jawa Barat adalah provinsi pertama yang membuat Peraturan Daerah (PERDA) tentang perpustakaan, Jawa Barat adalah provinsi pertama yang membuat perpustakaan bertarap internasional (walaupun masih debatable), Jawa Barat adalah provinsi peraih terbanyak penghargaan Jasa Dharma Pustakaloka (penghargaan bergengsi bidang kepustakawanan dari Perpustakaan Nasional RI), dan secara kebetulan Ahmad Heryawan adalah gubernur yang paling banyak menulis di media massa dan paling banyak menerima penghargaan nasional.

      Jawa Barat memiliki peluang untuk menjadi ikon atau landmark nasional dalam bidang perpustakaan atau menjadi “provinsi perpustakaan”.

      Apabila Perpustakaan Palaguna terealisasi akan memiliki banyak manfaat positif, diantaranya adalah: pertama, mengembalikan citra alun-alun Kota Bandung yang sekarang ini terkesan kumuh dan mesum. Alun-alun dapat berfungsi kembalii sebagai jantung daerah atau pusat keramaian yang artistik dan edukatif. Apalagi bila alun-alun dijading reading park yang menghubunfkan antara Palaguna dengan masjid Raya Jawa Barat, benar-benar akan menjadi lanskap kultural edukatif yang terpadu.

      Kedua, dapat mengurangi kerawanan sosial (premanisme, kriminalitas, dan prostitusi) di kawasan alun-alun Bandung. Dengan dikelola asal-asalan seperti sekarang ini, kawasan alun-alun terlihat sangat kumuh dan, dengan pagar yang tinggi, sangat berjarak dengan masyarakat. Sudah bukan rahasia lagi apabila alun-alun dijadikan tempat transaksi seks komersial dan terkadang selasar Masjid Raya Jawa Barat dijadikan tempat pacaran. Kondisi yang sangt ironi, mengingat tempat tersebut persis berada di depan pendopo wali kota dan Gubernurnya (yang memiliki kewenangan atas Masjid Raya) juga adalah seorang ulama.

      Ketiga, Kota Bandung, sebagai ibukota Jawa Barat, akan semakin kuat citranya sebagai kota pendidikan, kota kembang, Paris van Java, dan sentra ekonomi kreatif. Apalagi Kota Bandung sudah mendeklarasikan diri menjadi “kota buku sejagat” pada tahun 2017.

      Keempat, keberadaan tempat-tempat bersejarah di sekita alun-alun seperti Gedung Asia-Afrika, Museum Sri Baduga, Gedung Indonesia Menggugat, dll. akan semakin mendukung kawasan ini sebagai kawasan edukatif.

      Semua itu akan semakin menambah daya tarik Jawa Barat menjadi tujuan wisata dan tujuan investasi.

      Political will

      Kemajuan yang diraih Provinsi Jawa Barat sungguh menggembirakan. Tidak kurang dari 100 penghargaan tingkat nasional telah diperoleh. Sebagai warga Jawa Barat tentu saja saya merasa bangga dan gembira atas semua prestasi tersebut.

      Namun di balik semua itu masih tersimpan kekhawatiran dan kegamangan. Kekhawatiran muncul didasarkan pada kenyataan bahwa budaya baca masyarakat Jawa Barat masih rendah. Kenyataan ini sering diungkapkan sendiri oleh Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Barat Ibu Netty Heryawan. Khawatir karena budaya baca masyarakat sesungguhnya merupakan fondasi kemajuan sebuah daerah bahkan negara. Boleh saja daerah mengklaim berhasil memajukan masalah ekonomi, pendidikan, politik, dan lain-lain akan tetapi itu semua tidak akan berlangsung lama apabila budaya baca masyarakat rendah. Bidang politik, ekonomi, pendidikan, itu semua merupakan pilar dari pembangunan, akan tetapi fondasinya adalah minat baca. Lihat saja Indonesia ini! karena tidak pernah serius membangun budaya baca maka dari sejak merdeka sampai hari ini tetap bermasalah dalam pembangunannya. Kemiskinan, pengangguran, kebodahan, itu semua merupakan permasalahan abadi yang diakibatkan oleh rendahnya budaya baca masyarakat.

      Mungkin teralu berlebihan bila semuanya diakibatkan oleh budaya baca. Tapi fakta berkata seperti itu, secara kasat mata kita menyaksikan sendiri semua negara maju adalah negara yang masyarakatnya memiliki budaya baca yang tinggi. Dan sebaliknya, negara yang diketgorikan miskin atau dunia ketiga adalah negara-negara yang budaya baca penduduknya rendah.

      Sebagaimana kedudukan fondasi yang berada di dasar suatu bangunan. Tidak kelihatan akan tetapi sangat menentukan kuat tidaknya sebuah bangunan. Oleh karenanya, menyeriusi pembangunan budaya baca tidak akan mendapatkan pujian dan tepuk tangan yang gempita dari masyarakat. Mungkin tidak akan menimbulkan pencitraan yang signifikan secara politik sebagimana program populer seperti pengentasan kemiskinan, kesehatan, dan sekolah. Oleh karenanya, memprioritaskan pembangunan minat baca, yang termanipestasikan dengan membangun perpustakaan Palaguna, merupakan ujian keseriusan dan ketulusan pengabdian pemimpin dalam membangun Jawa Barat.

      Sekarang kita tinggal menyaksikan bagaimana pilitical will dan sikap dari Gubernur, Wakil Gubernur, dan legislatif apakah akan tunduk pada kepentingan pengusaha atau berpihak pada kepentingan umum.

       

      Comments
      hayatunnisa  - perpustakaan     |2014-01-29 18:07:33
      jurnal LIPI
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Monday, 16 September 2013 09:12  

      Items details

      • Hits: 42420 clicks
      • Average hits: 684.2 clicks / month
      • Number of words: 2733
      • Number of characters: 23566
      • Created 5 years and 2 months ago at Friday, 13 September 2013 by Suherman
      • Modified 5 years and 2 months ago at Monday, 16 September 2013 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Google+ Facebook Twitter mail SC