.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      Budaya Membaca (Reading Culture)

      Oleh:

      Suherman

      Data-data tentang rendahnya budaya membaca di Indonesia telah disajikan di tulisan saya yang lain. Sepertinya data-data tersebut sudah lebih dari cukup untuk membuktikan betapa rendahnya budaya membaca bangsa kita. Tulisan ini tidak akan mengulangi fakta tersebut, akan tetapi akan mencoba memaknai apa sesungguhnya yang dimaksud dengan budaya membaca dan bagaimana upaya yang harus dilakukan supaya membaca menjadi budaya bangsa.

      Secara sederhana budaya membaca merupakan gabungan dari dua kata yaitu budaya dan membaca. Arti membaca sudah dibahas di atas, sekarang tinggal memaknai budaya atau kebudayaan. Menurut Koentjaraningrat (1974, hal. 80) budaya berasal dari bahasa sangsakerta ”buddhayah”, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti “budi” atau “akal”.  Dari sini Koentjaraningrat melihat budaya sebagai “daya budi” yang berupa cipta, karsa dan rasa, sedangkan kebudayaan adalah “keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.”

      Chris Jenks menjelaskan bahwa kebudayaan terdiri dari empat tipologi: pertama, kebudayaan merupakan sesuatu yang rasional. Dengan dimikian kebudayaan dapaat dijelaskan dan dipahami sebagai suatu pemikiran umum. Kedua, maujud dan kolektif, artinya kebudayaan merupkan sebuah perkembangan intelektual dan/atau moral di dalam masyarakat. Ketiga, deskriptif dan konkret. Kebudayaan diapandang sebagai sekumpulan besar karya seni dan karya intelektual di dalam suatu masyarakat. Keempat, sebagai kategori sosial. Kebudayaan dipahami sebagai seluruh cara hidup yang dimiliki oleh sekelompok masyarakat. [1]

      Dengan memperhatikan pengertian budaya tersebut maka budaya membaca dapat didefinisikan sebagai kepercayaan, sikap, dan nilai yang terkandung dalam kegiatan membaca. Karena merupakan budaya, maka jelas bahwa budaya membaca bukan merupakan fenomena individual akan tetapi merupakan gejala sosial yang terus berkembang dari waktu ke waktu seiring dengan perkembangan tradisi masyarakat. Membaca bukan hanya sebuah tindakan atau proses akan tetapi sebuah sistem yang sangat kompleks yang melibatkan banyak faktor, bukan semata kegiatan dekoding oleh seorang pembaca teks. Budaya membaca dipengaruhi oleh banyak faktor lain seperti ideologi, poltitik, ekonomi, dan sosial.

      Dengan demikian, tidak diragukan lagi budaya membaca merupakan salah satu penentu penting kemampuan suatu negara untuk makmur karena budaya membaca akan mempengaruhi dan membentuk pemikiran orang-orang mengenai risiko, penghargaan, dan kesempatan. Nilai-nilai budaya membaca sangat berarti dalam proses kemajuan manusia karena membentuk cara orang-orang berpikir tentang kemajuan. Secara khusus, nilai-nilai budaya membaca penting karena membentuk prinsip-prinsip yang berada di sekitarnya kegiatan membaca diatur—dan tanpa kegiatan membaca kemajuan tidaklah mungkin terjadi. [2]

      Negara-negara maju mencapai kemajuannya karena mereka di samping mengembangkan budaya yang kuat akan kekuatan rasio atau logika, juga karena membangun budaya membaca yang serius, sebagai konsekuensi dari rasionalitas manusia, bukan dari pengaruh kekuatan yang tidak logis. Fenomena kegagalan negara dapat disebabkan oleh faktor eksternal seperti kolonialisme dan ketergantungan dan faktor internal yang berupa budaya yang melekat dalam sebuah negara. Melalui penjelasan budaya ini, maka masyarakat sendirilah yang memilih maju atau tertinggal, sebagaimana dikatakan oleh Mahatma Ghandi bahwa kolonialisme terjadi karena ada persetujuan dari rakyat yang dijajahnya.

      Bagaimanakah upaya transformasi supaya membaca menjadi budaya bangsa? Secara konseptual dengan menggunakan pendekatan sosiologis Al-Zastrouw Ng, dalam sebuah tulisannya yang sangat relevan dengan bahasan ini, memparkan sebagai berikut:[3]

      “Melihat konstruksi sosiologis dan akar kultural masyarakat Indonesia yang tidak berbasis kepada budaya membaca, perlu ada strategi kultural yang efektif untuk melakukan transformasi dari budaya lisan/tutur ke dalam budaya baca. Agar proses transformasi ini bisa berjalan dengan baik dan cepat, maka kita perlu mencermati hal-hal yang bisa mendorong terjadinya transformasi tersebut. Artinya upaya meningkatkan budaya baca merupakan bagian dari proses transformasi kebudayaan masyarakat Indonesia, oleh karenanya dia menjadi sesuatu yang vital dan penting yang harus dilakaukan.

      Koentjoroningrat membedakan 7 (tujuh) unsur kebudayaan, atau yang disebut sebagai faset-faset kebudayaan atau “mata bajak” kebudayaan, yakni: (1) sistem kepercayaan; (2) sistem kekerabatan dan organisasi sosial; (3) sistem mata pencarian hidup atau ekonomi; (4) bahasa; (5) sistem ilmu pengetahuan; (6) kesenian, dan (7) peralatan dan perlengkapan hidup (teknologi) (Koentjaraningrat, 1974).

      Selanjutnya Koentjoroningkat menjelaskan bahwa urutan unsur budaya tersebut juga menunjukkan urutan kesulitan dalam perubahan budaya. Unsur budaya yang pertama, yakni ’sistem kepercayaan’, adalah yang paling sulit berubah, sedang unsur yang ketujuh, yakni ’peralatan dan perlengkapan hidup (teknologi)’ adalah yang paling mudah. Terkait dengan ketujuh unsur atau faset kebudayaan tersebut, budaya baca lebih dekat dengan unsur ’bahasa’ atau ’sistem ilmu pengetahuan’, karena membaca merupakan prasyarat penting yang diperlukan dalam sistem ilmu pengetahuan (Suparlan, 2009).

      Dengan merujuk pada ketujuh faset kebudayaan Koentjoroningkat kita bisa membangun strategi kebudayaan untuk menumbuhkan budaya baca di kalangan masyarakat. Dari ketujuh faset kebudayaan Koentjoroningrat,   dapat dibagi ke dalam dua lapis kebudayaan: pertama kebudayaan halus dalam hal ini kami menyebut dengan soft culture (budaya lembut) yaitu kebudayaan tak berbentuk yang terkait dengan pemikiran, norma, nilai, ajaran, sistem keyakinan dan sebagainya yang dapat mempengaruhi perilaku dan cara hidup manusia. Kedua, kebudayaan material, berbentuk dan dapat dilihat yang kami sebut dengan hard culture, seperti produk teknologi, benda-benda seni atau peralatan yang menjadi penopang kehidupan.

      Berpijak dari dua model kebudayaan ini, bisa dibuat suatu strategi budaya menumbuhkan budaya membaca di kalangan masyarakat. Pada sisi soft culture penumbuhan budaya baca bisa dilakukan dengan cara merubah habitus masyarakat melalui transformasi kesadaran. Hal ini bisa dilakukan dengan cara mengembangkan dan mengeksplorasi berbagai ajaran dan nilai-nilai agama, adat, petuah dan tradisi yang bisa mendorong tumbuhnya budaya membaca. Hal ini penting dilakukan, karena secara sosiologis masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang relijius, tetapi religiusitas masyarakat ini sifatnya masih simbolik formal sehingga belum bisa menyerap dan mengamalkan ajaran-ajaran yang sifatnya substansial secara maksimal.

      Salah satu contoh yang bisa diambil di sini adalah ajaran Islam soal membaca. Jelas ditegaskan dalam Islam bahwa wahyu yang pertama kali turun adalah perintah untuk membaca. Artinya Islam sangat concern dalam membangun budaya membaca. Agar ajaran Islam mengenai pentingnya budaya membaca ini bisa menjadi kesadaran kolektif masyarakat, maka perlu ada pemahaman yang bisa mempengaruhi kesadaran masyarakat bahwa membaca adalah bagian dari tugas ummat beragama, membaca adalah ibadah yang wajib dilakukan oleh ummat beragama, selain kewajiban formal yang telah ditentukan oleh agama. Pendeknya, pada taraf ini perlu dieksplorasi secara mendalam berbagai nilai, norma, ajaran dan pemikiran yang bisa mendorong tumbuhnya budaya baca untuk dijadikana sebagai capital social dan capital cultural dalam membanagun strategi kebudayaan menumbuhkan budaya membaca.

      Agar proses transformasi habitus melalui penyebaran kesadaran bisa berjalan maka perlu disediakan ranah tempat pertarungan untuk membentuk produksi kultur. Sebagaimana dijelaskan Bourdieu di dalam ranah inilah agen-agen akan menempati berbagai posisi yang ada dan mereka akan terlibat dalam berbagai kompetisi untuk memperebutkan kepentingan dalam ranah tersebut. Pendeknya, perlu menjadikan ranah politik, ranah ekonomi, ranah pendidikan, ranah kultural dan ranah agama  sebagai sarana para agen melakukan pertarungan untuk mentransfornasikan habitus membentuk produksi kultural budaya membaca.

      Secara tehnis, untuk menciptakan pertarungan antar agen, perlu dilakukan berbagai kompetisi dalam setiap ranah yang bisa mendorong setiap agen memanfaatkan berbagai kapital yang mereka miliki: kapital sosial, kultural dan simbolik. Dengan cara ini upaya mebangun kesadaran membaca yang bisa menumbuhkan budaya membaca akan terwujud, karena membaca akan menjadi kebutuhan bagi setiap agen yang sedang melakukan pertarungan dalam berbagai ranah yang ada.

      Selain pada tataran soft culture, perlu juga dilakukan penanganan pada tataran hard culture. Pada tataran ini strategi kultural menumbuhkan budaya membaca bisa dilakaukan dengan penyediaan berbagai fasilitas yang bisa mendorong tumbuhnya minat membaca di kalangan masyarakat. Misalnya penyediaan buku-buku bacaan yang mudah diakses oleh masyarakat, perpustakaan yang nyaman dan menarik dengan pelayanan yang mudah dan menyenangkan sehingga orang merasa nyaman berada di perpustakaan.

      Hal lain yang perlu dilakukan adalah menciptakan berbagai event yang memiliki keterkaitan dengan membaca, misalnya lomba resensi buku, lomba menulis, kompetisi penelitian, forum debat dan diskusi dan sejenisnya. Semua event ini akan mendorong masyarakat untuk membaca. Jika hal ini dilakukan secara terus menerus, maka akan tumbuh perasaan gemar membaca. Jika perasaan ini dipelihara akan muncul kebiasaan membaca yang bisa melahirkan tradisi membaca di kalangan masyarakat. Dari tradisi membaca inilah akan lahir budaya membaca.

      Selain sarana dan prasarana yang sifatnya material, institusi sosial juga menjadi sesuatu yang penting diperhatikan untuk mempercepat tumbuhnya budaya baca. Institusi sosial terpenting dan srategis adalah keluarga, karena bagaimanapun keluarga adalah lingkungan paling dekat dengan kehidupan seseorang. Selain itu keluarga adalah lingkungan pertama tempat terbentuknya habitus seseorang. Setelah itu adalah lingkungan pendidikan formal: sekolah, universitas, pesantren dan sejenisnya. Jika lingkungan seperti ini bisa menyediakan berbagai perangkat yang bisa merangsang tumbuhnya minat membaca, maka upaya menciptakan budaya baca di kalangan masyarakat akan lebih cepat terwujud.

      Harus diakui tidak mudah membangun budaya baca di kalangan masyarakat, karena hal ini berkaitan dengan habitus masyarakat. Perubahan budaya lisan menjadi budaya baca memang akan lebih sulit dibandingkan dengan perubahan yang terjadi pada unsur peralatan hidup (teknologi). Dalam kehidupan sehari-hari kita melihat bahwa mengubah cara menulis menggunakan pensil menjadi laptop atau komputer lebih mudah dibandingkan dengan mengubah budaya ’ngrumpi’ menjadi budaya membaca. Perlu kesabaran, keuletan, ketekunan, komitmen dan konsistensi tinggi untuk melakukan perubahan budaya. Tetapi saya yakin, dengan strategi yang benar, cara yang efektif dan dibantu oleh kecanggihan teknologi sebagai sarana dan prasarana transformasi budaya untuk membangun budaya membaca di kalangan masyarakat akan bisa berjalan lebih cepat.”



      [1] Chris Jenks. Culture: Studi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013. Definisi kebudayaan yang pernah dikumpulkan oleh A.L. Kroeber dan C. Kluchohn (Koentjaraningrat, 2003:73) lebih dari 160. Begitu banyaknya, sehingga bukan mememperjelas malah membingungkan kita untuk memahami maknanya. Akan tetapi budaya dan kebudayaan pada dasarnya memiliki makna yang sama yakni simbol-simbol yang digunakan oleh manusia untuk berkomunikasi dan beradaptasi dengan lingkungannya yang dipelajarinya dalam kehidupannya sebagai warga suatu masyarakat.

      [2] Diadaptasi dari tulisan Stace Lindsay “Budaya, Model Mental, dan Kemakmuran Nasional dalam Kebangkitan Peran Budaya: Bagaimana Nilai-Nilai Membentuk Kemajuan Manusia. Editor: Lawrence E. Harrison dan Samuel P. Huntington. Jakarta: LP3ES, 2006, hal. 412-429).

      [3] Al-Zastrouw Ng. “Strategi Kultural Menubuhkan Budaya Baca” dalam Warta, Vol. XVII, No. 4 tahun 2012, hal. 25-27).

       

       

      Comments
      1n3b  - Rumah Baca     |2017-06-30 18:10:52
      Peran serta masyarakat saat ini yang aktif memberi donasi atau mengadakan
      kegiatan untuk mendukung berdirinya perpustakaan dalam skala kecil, yakni
      berbentuk rumah baca, saya rasa dapat membantu meningkatkan minat baca
      masyarakat.
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Wednesday, 22 February 2017 10:44  

      Items details

      • Hits: 364 clicks
      • Average hits: 17.3 clicks / month
      • Number of words: 4967
      • Number of characters: 44069
      • Created one month and 9 months ago at Wednesday, 22 February 2017 by Administrator
      • Modified one month and 9 months ago at Wednesday, 22 February 2017 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Google+ Facebook Twitter mail SC