.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Belajar-Mengajar
E-mail

800x600 Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

SENIN, 12OKTOBER2009 MEDIA INDONESIA

CALAK EDU

Multiple Choice

SEORANG teman Edu mengeluh soal bagaimana anaknya belajar agama di sekolah. Awalnya dia tak cukup peduli dengan pemahaman agama anaknya yang masih duduk di kelas 4 SD, sampai suatu ketika anaknya mengajaknya untuk salat berjemaah. Habis salat, anaknya menunjukkan lembar hasil ulangan agama harian. Dengan perasaan cemas bercampur geli sekaligus, teman Edu akhirnya mencoba membaca hasil ulangan tersebut.

Sebuah pertanyaan terbuka dalam soal ujian agama berbunyi "Di manakah turunnya surah al-Baqarah?" Dengan enteng dan lugu anaknya menjawab "Surah al-Baqarah turun di Klaten." Jelas sekali si anak memaknai konsep turun seperti konsep keseharian dia yang terbiasa naik-turun bus kota ketika pergi dan pulang sekolah. Artinya, ada yang salah dari guru ketika menyampaikan konsep turunnya sebuah surah di dalam Alquran.

Yang lebih mengagetkan tentu saja ketika anak teman Edu ini menjawab beberapa pertanyaan berbentuk multiple choices. Salah satunya adalah soal yang berbunyi "Siapakah yang wajib menerima zakat?" Dari sekian banyak pilihan, si anak dengan percaya diri menjawab malaikat sebagai satu-satunya makhluk yang berhak menerima zakat.

Last Updated on Thursday, 30 May 2013 17:25 Read more...
 
E-mail

 

Pikiran Rakyat, JUMAT (MANIS) 17 JULI 2009

Pendidikan Ala Pesantren

Oleh IMAM NUR SUHARNO

SAYA saat ini masih teringat akan makanan halal dan haram, hukum nun mati dan tanwin, larangan-larangan ketika jinabah, dan sebagainya. Namun, saya sudah tidak ingat fungsi trigonometri dalam matematika. Apalagi tentang teori-teori ilmu ekonomi dan sejarah."

Begitulah komentar beberapa orang yang mencoba membedakan keadaan (ilmu) saat ini dari hasil pendidikan pesantren dengan pendidikan formal pada umumnya. Sederhana tetapi mengena. Cukup banyak ko­mentar yang sejenis dengan pernyataan di atas, Hal ini sebenarnya menjadi evaluajsi bahwa proses pendidikan ala pesantren lebih berkesan di benak para pembelajar (santri) dibandingkan dengan hasil dari pendidik­an formal umumnya. (Tabloid Pondok, edisi keempat, Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Departemen Agama RI, 2008).

Last Updated on Thursday, 30 May 2013 17:29 Read more...
 
E-mail

 

KOMPAS, 04-04-2010

 

PEMIKIRAN SOEDJATMOKO

Menjadi Bangsa Pembelajar


Judul di atas dipungut dari usul Dr Karlina Supelli, yang disampaikan dalam diskusi buku Menjadi Bangsa Terdidik, Menurut Soedjatmoko dan buku Asia di Mata Soed­jatmoko di Balai Soedjatmoko, Solo, 11 Januari 2010. Tampil bersama Prof Dr Mohtar Mas'oed, Karlina usul judul bu­ku Menjadi Bangsa Terdidik diganti Menjadi Bangsa Pembelajar.

Pembelajar menekankan pro­ses yang tidak pernah selesai, lebih dari kata terdidik. Orang kerap merasa sudah selesai karena sudah berpendidikan, su­dah menyelesaikan jenjang pendidikan tertentu. Untuk pembelajar, kata Karlina, Soedjatmo­ko menggunakan kata-kata "kemampuan kolektif seluruh bangsa untuk belajar", seraya menegaskan "keharusan untuk belajar bersama terus-menerus".

Catatan singkat ini tidak ingin mempersoalkan relevan tidaknya pemikiran Soedjatmoko. Itu sudah merupakan keniscayaan. Tetapi, mau menggarisbawahi usul Karlina. Tidak terutama menyangkut judul buku, tetapi tentang perlunya paradigma tidak sampai tingkat metodologi memberi tempat pada pemikiran-pemikiran menerobos terbang tinggi. Cara berpikir ini mungkin tidak langsung memberikan solusi atas persoalan aktual; melainkan lebih mengajak orang memiliki pemahaman mendalam, sehingga paham betul duduk soalnya, sementara solusi diharapkan muncul dari hasil eksplorasi persoalan.

Last Updated on Thursday, 30 May 2013 17:29 Read more...
 
E-mail

 

MEDIA INDONESIA, 27  APRIL   2009

Community Based Learning

MARILAH kita sedikit kontemplatif, membayangkan bahwa Indonesia adalah sebuah gedung sekolah yang terdiri dari rangkaian kelas, ruang guru, ruang kepala sekolah dan wakilnya, ruang perpustakaan dan sedikit ruang bermain anak-anak. Menjelang ujian nasional (UN), kebijakan kepala sekolah dan wakilnya terpecah. Yaitu satu ingin agar anak-anak diberi sedikit kelonggaran agar bisa mengerjakan UN secara maksimal dan aman, satunya ingin agar anak-anak ditempatkan pada posisi high alertl Tidak boleh mencontek dan haras jujur. Situasi ini membuat guru-guru juga terpecah. Karena, merekalah yang paling tahu bagaimana kondisi psikologis dan akademis tiap-tiap siswanya. Pro dan kontra tentang bedanya kebijakan mewarnai sekolah tersebut.

Itulah yang terjadi dalam seminggu terakhir ini, ketika peristiwa politik Indonesia mempertontonkan adegan yang kurang lebih sama, yaitu terpecahnya kongsi SBY-JK. Dalam konteks sekolah, tanpa mereka sadari, selain guru dan murid yang telah mereka korbankan, tetapi juga masyarakat secara luas sebagai pemilik aset sesungguhnya, yaitu anak-anak bangsa. SBY-JK sedang memperlihatkan watak sesungguhnya dari rimba politik yang sangat banyak dan beragam penghuninya, tetapi penguasanya hanya satu, yaitu keserakahan berbungkus rapi kekuasaan. SBY-JK juga sedang melakukan pembiaran dari proses perlawanan yang secara diam-diam sedang dilakukan rakyatnya, yaitu tingginya angka golput dan ketidakpercayaan masyarakat pada sistem negara kita.

Last Updated on Thursday, 30 May 2013 17:31 Read more...
 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  Next 
  •  End 
  • »


Page 1 of 2

Selamat Datang Sahabat ^_^
Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

Kemiskinan

Literasi Sains & Teknologi

Artikel Pilihan


Artikel Utama

Statistik Anggota

  • Total Anggota 10,788
  • Sedang Online 129
  • Anggota Terakhir Robertrab

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterTotal9091491
bacalah.jpg

Kalender & Agenda

November 2018
S M T W T F S
28 29 30 31 1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 1

Contoh Proposal

Contoh Proposal

Google+ Facebook Twitter mail SC