.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      Calak Edu, MEDIA INDONESIA 28 JULI 2008

       

      Bahasa

      ZAMAN ketika Edu bingung untuk memilih fakultas dan jurusan apa yang harus ia ambil untuk kuliah di Universitas nanti, bahasa dan kata hatinya bilang, pilihlah fakultas dan jurusan yang paling mudah dimengerti secara bahasa. Mengerti secara bahasa tentu tidak sama dengan mengerti secara logika. Se-bab memaknai sebuah kata dari satu bahasa benar-benar menuntut logika untuk mencari asal-muasal sebuah kata untuk dimaknai secara pas dan berpengertian. Itulah sebabnya Edu percaya ketika kuliah dulu almarhum Prof Dr A Mukti Ali pernah bilang bahwa jika seorang mahasiswa bisa menulis dengan baik, sistematis, dan bahasanya runtut serta logis, dapat dipastikan mahasiswa tersebut memiliki IQ di atas rata-rata. Hanya ada dua cara untuk mengukur tingkat kecerdasan seorang mahasiswa, begitu setidaknya menurut Mukti Ali, yaitu matematika dan bahasa. Pak Mukti Ali sangat sederhana dalam menguji dan mendeteksi kemampuan berpikir mahasiswanya yaitu dengan meminta mahasiswa untuk menulis ma-kalah satu halaman dalam bahasa Inggris dan membaca di depan-nya saat perkuliahan. Hasilnya, tak banyak mahasiswa yang lolos dan lulus seleksi itu.

       

      Mengapa kemampuan artikulatif mahasiswa kita dalam berbahasa sangat rendah? Jawabannya mungkin banyak, tapi jika kita tahu apa yang terjadi dengan pelajaran berbahasa di sekolah dasar dan sekolah menengah, kita akan mafhum. Hasil ujian bahasa Indo­nesia siswa di perdesaan dan perkotaan sangat mencolok perbedaannya. Para guru pengajar bahasa Indonesia di sekolah-sekolah perdesaan tetap menggunakan bahasa daerah sebagai pengantar proses belajar mengajar, tetapi tak mampu mendesain proses transisi berbahasa. Bahkan di awal-awal berdirinya Sekolah Sukma di Aceh, misalnya, masyarakat protes karena bahasa wajib di sekolah adalah bahasa Indonesia, bukan bahasa Aceh. Perlu satu tahun bagi guru-guru di Sekolah Sukma untuk mendesain proses transisi itu dan meyakinkan masyarakat dan anak-anak agar mau belajar dan berbicara bahasa Indonesia di lingkungan sekolah.

      Menurut beberapa pakar dari pusat penelitian bahasa dan kebudayaan di beberapa universitas, bahasa pengantar di sekolah punya dampak serius terhadap keberhasilan prestasi siswa ke depan. Murid-murid SD di perkotaan umumnya adalah penutur-penutur asli bahasa Indone­sia. Sementara itu, bagi murid perdesaan, bahasa ibu mereka bukan bahasa Indonesia. Rata-rata setiap hari mereka berjuang mempelajari bahasa Indonesia dan pada saat yang sama mereka juga harus mempelajari materi pelajaran lainnya yang juga berbahasa Indonesia. Bagi seluruh anak SD di perdesaan, itu bukanlah persoalan sepele, itu serius.

      Meskipun keluhan tentang penggunaan bahasa Indonesia seba-gai bahasa pengantar di TK dan SD tidaklah banyak, sekitar 75% siswa TK dan SD di perdesaan bukanlah penutur asli bahasa Indo­nesia. Karena itu, pemakaian bahasa ibu di TK dan SD kelas awal mungkin masih perlu dilakukan. Selain untuk menjamin kelangsungan pembelajaran, juga untuk mencegah gangguan perkernbangan kognitif anak. Tugas Departemen Pendidikan Nasional juga harus ekstra memberi pelatihan yang memadai kepada para guru TK dan SD serta menyediakan buku teks yang tentu harus berbeda .sesuai dengan kebutuhan lingkungan dan budaya setempat dalam mengantarkan anak-anak memahami bahasa Indonesia sebagai ba­hasa pengantar di sekolah. Sesuai dengan arah otonomi bidang pendidikan, sudah saatnya bagi pemerintah daerah mendesain sendiri buku-buku berbahasa lokal bagi keperluan belajar-mengajar anak-anak TK dan SD sampai minimum kelas 2 sebelum mulai menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di sekolah.

      Dalam Wlwle Language for Second Language Learners (1992), Free­man, Yvonne S Freeman, dan David E menyebutkan signifikansi penggunaan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar di sekolah sebe­lum bahasa kedua dikuasai anak akan mampu menghasilkan pres­tasi yang lebih baik bagi anak-anak di masa mendatang. Harus ditemukan cara yang secara pedagogis mampu membuat anak nyaman ketika mengalami peralihan dari bahasa ibu mereka ke bahasa Indo­nesia sebagai bahasa pengantar di sekolah. Jika masalah itu dijalan-kan dengan baik, kekhawatiran tentang dampak buruk pengenalan berbahasa Indonesia yang terlalu dini di sekolah tak akan terjadi. Kita patut menjaga sense bahasa ibu anak-anak kita dan menyiapkan proses transisi berbahasa mereka agar penguasaan bahasa Indonesia dan bahasa lainnya menjadi kuat. (Ahrtiad Baedowi)

       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Friday, 24 February 2012 09:23  

      Items details

      • Hits: 827 clicks
      • Average hits: 10.2 clicks / month
      • Number of words: 1248
      • Number of characters: 9391
      • Created 6 years and 9 months ago at Friday, 24 February 2012 by Administrator
      • Modified 6 years and 9 months ago at Friday, 24 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 146
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091307
      DSCF8794.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC