.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      REPUBLIKA, 2 SEPTEMBER 2008

       

       

      Mengawal Anggaran Pendidikan

      20 Persen

      Rofi` Munawar

      Anggota Dewan Majelis Syuro DPP PKS/Anggota DPRD Jawa Timur


       

      Siapa yang menanam, dia akan menuai. Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat.  Pendidikan sangat penting sebab tanpa itu manusia akan sulit ber­kembang dan terbelakang. Pendidik­an harus diarahkan untuk meng­hasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing, di samping memiliki budi pekerti yang luhur.

      Harus disadari, kualitas pendidik­an dan SDM kita masih kalah de­ngan asing, misalnya dengan Malay­sia, Singapura, dan Thailand, bah­kan kita masih di bawah Vietnam. Kualitas SDM pun rendah.

      Dalam laporan kualitas SDM atau Human Development Index (HDI) yang dikeluarkan UNDP akhir 2002 menempatkan kualitas SDM Indo­nesia di urutan 117 dari 173 negara yang disurvei, kalah dengan Malay­sia. Sebelumnya mereka mengais pendidikan di Indonesia. Saat ini kita yang belajar ke sana.

      Tingkat SDM di Malaysia bagus. Semua itu tak terlepas dari komit­men para elite negeri itu untuk mem­perbaiki kualitas SDM. Dalam perbaikan kualitas SDM ini tak dapat dilepaskan dari per­baikan di dunia pendidikan. Sebagai wujud komitmennya terhadap dunia pendidikan, Pemerintah Malaysia berani menganggarkan dana dari APBN lebih dari 30 persen.

       

      Sesuai amanat UUD 1945, anggar­an pendidikan harus dipenuhi peme­rintah sebesar 20 persen. Komitmen ini setidaknya menjadi angin segar bagi dunia pendidikan di Indonesia. Dengan 20 persen diharapkan dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk melakukan perbaikan sehing­ga dapat menghasilkan output pen­didikan yang berkualitas.

      Dalam Pidato Nota Keuangan RAPBN 2009 pada 15 Agustus lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyo­no menegaskan rencananya yang akan mengalokasikan anggaran se­besar Rp 224 triliun dalam RAPBN 2009 untuk memenuhi kewajiban 26 persen anggaran pendidikan. Ang­garan ini nantinya akan digunakan untuk menuntaskan pelaksanaan program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun.

      Anggaran itu juga ditujukan untuk menaikkan kesejahteraan guru seca­ra signifikan dan kualitas pendidik­an yang lainnya. Anggaran pendi­dikan yang sudah mencapai 20 per­sen dari APBN diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan di negeri ini guna membangun keunggulan dan daya saing bangsa di abad ke-21 ini.

      Mengawal

      Salah satu persoalan klasik peme­rintah dalam membuat kebijakan adalah bagus di konsep kebijakan, tetapi lemah dalam pelaksanaan. Fe­nomena ini sudah terjadi di bebera­pa kebijakan pemerintah. Salah sa­tunya dalam kebijakan dan program pengentasan kemiskinan. Sudah digerojok program dan anggaran yang cukup besar, tapi tak be­gitu dinikmati oleh keluarga miskin. Secara kuantitatif, angka kemiskin­an nasional masih cukup tinggi. Ke­jadian yang sama bisa saja terjadi pada kebijakan pemerintah dalam mengalokasikan anggaran pendidikan 20 persen jika tak bisa meng­alokasikan dan mengawalnya.

      Dengan anggaran yang cukup be­sar tersebut, persoalan yang terpen­ting adalah bagaimana pemerintah dapat memastikan setiap dana yang dialokasikan untuk dunia pendidikan tersebut jelas peruntukannya, tepat sasaran dan dapat dipertanggungja­wabkan. Semua program yang dibuat harus diorientasikan pada pening­katan mutu pendidikan di Indonesia.

      Di satu pihak kita sangat senang akhirnya pemerintah bisa memenuhi harapan masyarakat pendidikan agar menempatkan pendidikan sebagai pilar pembangunan manusia. Namun di sisi lain, timbul keraguan dan ke­khawatiran, apakah para birokrat kita cukup tangkas mengalokasikan dana sebanyak itu, berjalan secara efektif, dan tepat sasaran? Jangan-jangan besarnya anggaran tersebut justru akan membuka peluang terjadinya praktik moral hazard, yang dapat menjerumuskan para birokrat ter­sangkut tindak pidana korupsi karena kewalahan membelanjakannya.

      Sebelum mengalokasikan anggaran 20 persen, pemerintah pusat dan daerah perlu memetakan perso­alan pendidikan setelah itu membuat program dan kegiatan yang riil dan bisa tepat sasaran sesuai dengan ke­butuhan daerah atau masyarakat. Pemerintah harus bisa belajar dari kebijakan lainnya, seperti BLT, BOS yang sarat kelemahan dan penyim­pangan/salah sasaran.

      Jangan sampai masyarakat men­jadi korban dari ketidakbecusan pa­ra aparat birokrasi pendidikan da­lam mengelola anggaran pendidikan yang cukup besar tersebut. Karena itu, dalam konteks ini perlu adanya pengawasan dan pengawalan yang superketat atas alokasi dan penggu­naan anggaran pendidikan tersebut, mulai dari perencanaan sampai pada implementasi kebijakan.

      Dalam konteks ini pemerintah di­tuntut untuk membuat sistem dan mekanisme kuat dan ketat terkait dengan alokasi dan penggunaannya. Sistem tersebut juga memberi ruang bagi masyarakat ikut berpartisipasi dalam pengawasan dan pengawalan agar anggaran pendidikan tepat sa­saran dan bisa dinikmati oleh yang berhak. Ini sebagai bentuk transpa­ransi dan akuntabilitas pemerintah dalam menjalankan sebuah kebi­jakan.

      Anggaran pendidikan 20 persen bisa saja menjadi berkah bagi dunia pendidikan di Indonesia jika dikelo­la secara profesional, transparan, dan akuntabel. Akhirnya, dapat meningkatkan kualitas pendidikan.

      Namun, sebaliknya ini bisa ber­ubah menjadi bencana bagi dunia pendidikan jika tak bisa dikelola dengan sebaik-baiknya. Alih-alih akan meningkatkan kualitas pen­didikan, justru yang terjadi adalah malapetaka. Program dan anggaran banyak yang menyimpang dan mengalami kebocoran, aparat birokrasi terkena kasus korupsi, peningkatan kualitas pendidikan pun mengalami kegagalan.

       

       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Thursday, 23 February 2012 08:45  

      Items details

      • Hits: 806 clicks
      • Average hits: 8.5 clicks / month
      • Number of words: 1203
      • Number of characters: 9727
      • Created 7 years and 1 ago at Thursday, 23 February 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 1 ago at Thursday, 23 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,798
      • Sedang Online 93
      • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9131332
      DSCF8790.jpg

      Kalender & Agenda

      January 2020
      S M T W T F S
      29 30 31 1 2 3 4
      5 6 7 8 9 10 11
      12 13 14 15 16 17 18
      19 20 21 22 23 24 25
      26 27 28 29 30 31 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC