.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      REPUBLIKA, JUMAT, 23 MEI 2008

       

      Mahalnya Sekolah Kami

       

      Mengapa ada professor dari perguruan tinggi kesohor bisa masuk bui ? Mengapa ada jaksa teladan tega menuntut mati sambil melahap suap ? Mengapa ada barisan intelektual yang berkhianat menjustifikasi kezaliman atas rakyat ?

      Di sebuah siang yang berisik, segerombolan bocah usia sekolah mondar-mandir di ruang tunggu Stasiun Manggarai, Ja­karta Selatan. Penampilan mereka tak karuan. Ada yang kulit tubuhnya belepotan hitam karena kotoran. Ada yang bajunya seperti disengaja disobek compang-camping.  Ada yang membawa sapu. Ada pula yang menuntun monyet sembari menenteng gendang kecil.

      Salah satu dari mereka sebut saja namanya Anto. la mengaku tiap hari ngetem di situ bersama geng-nya. Me­reka selalu bersama-sama baik siang maupun malam. Anak-anak belia dari berbagai daerah itu berkelompok lantaran kesamaan nasib.

      "Cari uang," kata Anto yang meng­aku berasal dari Banten, ketika ditanya mengapa ada di "sana. Mereka rela meninggalkan rumah untuk sekadar hidup karena kemiskinan yang diderita keluarganya.

       

      "Sekolah? Cape deeh," ujar Anto, saat ditanya kenapa tidak belajar se­perti teman sebayanya. Tapi, ia dan geng mengaku sebenamya masih berharap bisa sekolah. Namun lantaran orangtuanya miskin, alih-alih sekolah mereka malah harus menggelandang untuk mendapatkan sekadar uang jajan. Syukur-syukur bisa membawa uang lebih untuk dibawa pulang. Bagi mereka, sekolah mimpi yang sudah basi.

      Anto dan lima kawannya yang ada di Manggarai ini hanyalah sebagian kecil potret anak-anak putus sekolah yang harus meninggalkan bangku pendidikan karena keterbatasan. Nasib serupa dialami jutaan anak di Indonesia. Berdasarkan survei Komnas Perlindungan Anak (PA) di 33 provinsi pada 2007, ada 11,7 juta anak putus sekolah. Angka ini meningkat dari tahun sebelumnya yakni 9,7 juta. Ini berarti ada peningkatan sekitar 20 persen. Tahun ini, jumlah itu diperkirakan terus bertambah karena kondisi ekonomi yang terus memburuk.

      Menurut Sekjen Komnas PA, Arist Merdeka Sirait, kasus putus sekolah yang paling menonjol tahun lalu terjadi. di tingkat SMP, yaitu 48 persen. Tingkat SD 23 persen, sedangkan putus sekolah di tingkat SMA mencapai 29 per­sen. Kalau digabungkan kelompok usia pubertas (anak SMP dan SMA) jumlah-nya mencapai 77%. Dengan kata lain, jumlah anak usia remaja yang putus se­kolah tahun lalu tak kurang dari 8 juta orang.

      Selain angka putus sekolah, anak yang sekolah pun kini menghadapi kesulitan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Pasalnya uang pendidikan kian hari kian mahal. Apakah itu uang pangkal, uang bangunan, uang SPP, dan uang-uang lainnya. Belum lagi untuk masuk ke pergu­ruan tinggi, biayanya selangit. Universitas-universitas yang sudah menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN) pun mematok uang masuk yang cukup tinggi antara 45-120 juta untuk jurusan-jurusan tertentu. Akibat makin mahalnya biaya pendidikan di perguruan tinggi ini kejadian seperti pada tahun sebelumnya kemungkinan berulang, yaitu adanya beberapa pe­serta yang dinyatakan lulus SPMB, na­mun kemudian mengundurkan diri ka­rena tidak mampu menanggung biaya pendidikannya.

      Kalau sudah begini, bagaimana na­sib _anak-anak Indonesia ? Ke mana me­reka ? Padahal, mereka tidak memiliki ke­ahlian apapun. Bekal pengetahuan me­reka tidak mencukupi untuk hidup mandiri. Sebagian mereka menjadi anak jalanan. Menurut catatan Komnas Perlindungan Anak, pada tahun 2007 ada 155.965 anak yang hidup di jalanan. Sebanyak 2,1 juta anak menja­di pekerja di bawah umur.

      Lainnya tak jelas aktivitasnya. Yang jelas mereka menjadi beban kelu­arga dan masyarakat. Mereka sangat rawan terjerumus dalam dunia krimi­nal, narkoba, pelacuran, perdagangan anak, dan sebagainya. Ada pelajaran berharga dari Brasil. Jutaan anak gen­tayangan di jalanan, menjelma menjadi monster di kota-kota besar maupun kecil. Cukup diberi imbalan 100 dolar, anak-anak itu bisa disuruh membunuh orang dan menjadi kurir narkoba. Mereka bisa membuat keonaran dalam sekejap. Pemerintah kota kewalahan menanganinya. Jalan pintasnya, mere­ka ditembaki dan dibunuh secara mas­sal.

      Sedangkan yang mampu membeli pendidikan, terpicu berorientasi "balas dendam". Yakni bagaimana mengejar setoran untuk mengembalikan biaya pendidikan yang sudah mereka keluarkan sebagai modal. Inilah baranemli yang menjelaskan mengapa ada profe­sor dari Perguruan Tinggi (PT) kesohor bisa masuk bui, mengapa ada jaksa teladan tega menuntut mati sambil melahap suap, mengapa ada barisan intelektual yang berkhianat menjusti­fikasi kezaliman atas   rakyat.

      Akar masalah

      Mahalnya biaya pendidikan tidak lepas dari upaya liberalisasi yang me­landa Indonesia. Hampir semua sektor diliberalkan. Pemerintah sedikit demi sedikit mulai menarik dini dari tanggung jawabnya di dunia pendidikan. Pendidikan didorong untuk mampu membiayai dirinya sendiri. Pemerintah sekadar hanya membantu, bukan penanggung jawab utama.

      Mengapa pemerintah meminimal­kan perannya, bahkan cenderung mele­paskan tanggung jawabnya dalam pembiayaan pendidikan ?

      Ismail Abu Mila, dosen di Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Hamfara Yogyakarta, menyatakan ada beberapa sebab. Pertama karena pemerintah menggunakan paradigm kapitalisme dalam mengurusi kepentingan dan ke­butuhan rakyatnya, termasuk pendi­dikan. Ideologi kapitalisme meman­dang bahwa pengurusan rakyat oleh Pemerintah berbasis pada sistem pasar (market based system). Artinya, peme­rintah hanya menjamin berjalannya sistem pasar itu, bukan menjamin terpe­nuhinya kebutuhan masyarakat. Dalam pendidikan, Pemerintah hanya menjamin ketersediaan sekolah/PT ba­gi masyarakat, tidak peduli apakah biaya pendidikannya terjangkau atau tidak oleh masyarakat. Pemerintah akan memberikan izin kepada siapa­ pun untuk mendirikan sekolah/PT ter­masuk para investor asing.

      Anggota masyarakat yang mampu dapat memilih sekolah berkualitas de­ngan biaya mahal. Yang kurang mampu bisa memilih sekolah yang lebih murah dengan kualitas yang lebih rendah. “Yang tidak mampu dipersilakan untuk tidak bersekolah," katanya.

      Kedua, dana APBN tidak cukup mementingkan pos pendidikan. Pasal­nya, sebagian besar pos pengeluaran dalam APBN adalah untuk membayar utang dan bunganya. Dalam APBN 2007, misalnya, anggaran untuk sektor pendidikan hanya sebesar Rp 90,10 tril­iun atau 11,8 person dari total nilai anggaran Hp 763,6 triliun. (Tempoin­teraktif.com, 8/1/2007). Sebaliknya, untuk membayar utang pokok dan bu­nga utang mencapai 30 persen lebih dari total APBN. Inilah yang disebtit utang najis yang menurut Koalisi Anti Utang haram dibayar.

      Dampak

      Hilangnya peran negara dalam pendidikan ini akan berdampak pada munculnya lingkaran setan kemiskin­an. Banyak anak generasi yang gagal mengembangkan potensi dirinya se­hingga mereka tetap dalam kondisi miskin dan bodoh. Selain itu, masya­rakat semakin terkotak-kotak berda­sarkan status sosial-ekonomi. Pendi­dikan berkualitas hanya bisa dinikmati oleh kelompok masyarakat dengan pendapatan menengah ke atas. Maka, kata bang Rhoma, "yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin." Dampak lainnya, Indonesia akan tetap tercengkeram oleh kapitalisme global, melalui berbagai sektor kehidu­pan. Inilah yang belakangan kenceang digugat Bapak Reformasi Amien Rais.

      · Mujiyanto/PF

       

       


       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Thursday, 23 February 2012 07:58  

      Items details

      • Hits: 947 clicks
      • Average hits: 10.1 clicks / month
      • Number of words: 3419
      • Number of characters: 28556
      • Created 7 years and 10 months ago at Thursday, 23 February 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 10 months ago at Thursday, 23 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,798
      • Sedang Online 139
      • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9127497
      Dialog_Peradaban.jpg

      Kalender & Agenda

      December 2019
      S M T W T F S
      1 2 3 4 5 6 7
      8 9 10 11 12 13 14
      15 16 17 18 19 20 21
      22 23 24 25 26 27 28
      29 30 31 1 2 3 4

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC