.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      PIKIRAN  RAKYAT, 2 SEPTEMBER 2008

       

      Anggaran Pendidikan

      Oleh M. SANUSI

       

      Amanat Undang-undang 1945 untuk mengalokasikan dana 20% (di luar gaji guru) dari to­tal jumlah APBN 2009 akhirnya terealisasi meski harus menunggu waktu yang cukup lama ditambah sedikit tekanan dari Mahkamah Konstitusi (MK). Dalam sejarah, baru tahun 2009 pemerintah menetapkan anggara sesuai amanat undang-undang 1945, sementara sebelum itu, anggaran 20% yang dikeluarkan masih memasukkan gaji guru dan alokasi dana administratif lainnya, hingga jumlahnya tidak mencapai 20% lagi. Ada banyak alasan untuk berharap kesejahteraan rakyat akan terangkat dengan ditetapkannya jumlah 20% tersebut. Karena idealnya, kualitas pendidikan yang baik akan berakibat pada daya saing SDM yang juga bagus, sehingga dengan itu, pembangunan akan merata dan kesejahteraan bisa dicapai.

      Terlepas dari latar belakang disahkannya jumlah 20%, sikap pertama yang harus kita munculkan adalah mendukung langkah pemerintah ter­sebut. Dengan akumulasi dana yang mencapai Rp 224 triliun sebagaimana dipaparkan Susilo Bambang Yudhoyono dalam sidang Paripurna DPR (15/8) di Gedung DPR/MPR Senayan, harapan akan terangkatnya nasib manusia Indonesia kian besar. Dalam asumsi ini, pendidikan diibaratkan sebagai katalisator yang akan membawa perbaikan nasib bagi warga masyarakatnya. Antara sebelum dan sesudah mata anggaran pendidikan dinaikkan, diandaikan terdapat perbedaan signifikan menyangkut kesejahteraan masyarakat Indonesia.

       

      Pendidikan sebagai investasi

      Visi pendidikan adalah pembangunan manusia seutuhnya. Manusia yang mempunyai daya saing, penuh kreasi, mandiri, berdaya dan berpartisipasi aktif dalam peningkatan hidup sesama. Selain merupakan fungsi pembangunan bidang ekonomi, persoalan kesejahte­raan merupakan aspek penting yang harus dicapai dalam rangka proses pendidikan. Pendidikan yang menyejahterakan adalah pendidikan yang membebaskan, terutama membebaskan dari kebodohan, keterbelakangan, dan kemiskinan, tiga unit masalah yang menjadi kewajiban sektor pendidikan.

      Jika pemerataan ekonomi menetapkan kesejahteraan diraih dalam jangka waktu secepat mungkin untuk menekan jumlah kemiskinan dan pengangguran, pendidikan mempu­nyai tugas mengantisipasi keterpurukan bangsa di masa depan.Pendidikan bertugas membekali sumber daya manu­sia (SDM) dalam rangka merebut peluang kesejahteraan. Kita tahu bahwa modal ekonomi Indonesia berupa kekayaan alam (SDA) yang melimpah tidak berarti ketika tidak diimbangi kualitas SDM yang memadai, maka pendidikan di sini memegang peran penting membangun kualitas SDM.

      Banyak negara yang memfokuskan ekonominya pada eksploitasi sumber daya alam akhirnya gagal membuat rakyatnya sejahtera. Indonesia termasuk dalam deretan nega­ra seperti ini. Untuk konteks Indonesia, kegagalan ini bukan karena kekayaan yang dieksploitasi tidak laku di pasaran, namun akibat sumber da­ya alam yang besar itu tidak dikelola sendiri namun meminta pertolongan kepada pihak luar, sehingga keuntungannya pun tidak sepenuhnya milik Indonesia.

      Sebaliknya, negara seperti Singapura, Korea Selatan, Jepang, berbeda jauh dari Indonesia. Meski minim sumber daya alam, sumber daya manusianya begitu terlatih dan siap saing, sehingga kesejahtera­an yang diraih melebihi negara-negara yang kaya sumber daya alam tapi minus kualitas sumber daya manusia. Perta­ma dan yang paling utama perbedaan itu terlihat dalam sistem pendidikannya. Negara-negara luar telah lama menerapkan anggaran 20% dari total APBN. Mereka menaruh perhatian besar terhadap sek­tor pendidikan karena dampaknya sangat besar di masa depan. Mereka sadar, kesejah­teraan berbanding lurus de­ngan modal manusianya (human capital), dan bukan ha­nya modal alam (nature capi­tal) sernata-mata.

      Itu artinya, berapapun be­sarnya kekayaan bumi Indone­sia, jika masyarakatnya tidak terdidik, mimpi kesejahteraan tidak akan pernah terwujud, kalah dari negara yang hanya punya pendidikan yang bagus, meski sumber daya alamnya sedikit. Dan Singapura mem­buktikan itu dengan menjadi mitra Indonesia dalam hal pe­ngelolaan sumber daya mi­nyak meski mereka tidak pu­nya ladang minyak sendiri.

      Dalam alur inilah pendidik­an merupakan investasi masa depan yang berharga untuk kemajuan dan kesejahteraan sumber daya manusia. Logika­nya, semakin besar investasi yang ditanamkan hari ini, se­makin besarlah peluang me­metik keberhasilan dari inves­tasi tersebut di masa menda­tang. Sebaliknya, investasi yang kecil hari ini, peluang un­tuk peningkatan kesejahteraan di masa depan juga akan kecil.

      Seandainya pemerintah me­nyadari betul efek futuristik pendidikan bagi kesejahteraan rakyat, tentu sektor pendidik­an telah dari dulu diperhati­kan. Tapi realitanya, bangsa Indonesia harus menunggu se­kian tahun untuk benar-benar menikmati besaran anggaran 20% itu. Padahal, biaya besar pendidikan tidak akan terbu­ang percuma jika benar-benar dilakukan pengawalan dan kontrol yang ketat untuk me­nutup penyelewengan.

      Perlu pengawalan

      Namun hams diakui, ang­garan yang besar tidak secara otomatis menjadikan sektor pendidikan bebas masalah. Jumlah alokasi dana dalam sektor apapun, termasuk pen­didikan, memang penting. Ta­pi sama pentingnya adalah pengawalan terhadap akunta­bilias anggaran agar tidak bocor ke kantong-kantong korup dalam birokrasi. Efektifitas aliran dana dari pusat ke daerah harus dikontrol agar tepat sasaran dan tidak terjadi dis­fungsi.

      Persoalan teknis ini sama-sama penting. Jika anggaran diperhatikan, tapi pengelolaan diabaikan, yang terjadi adalah besaran anggaran tidak me­nambah nilai apa-apa. Begitu ­pun, pengelolaan ditingkatkan, tapi biaya tidak sesuai harapan, maka hasilnya tidak akan mak­simal. Maka dari itu, anggaran dan pengawalan menjadi kata kunci yang tak bisa ditawar de­mi menyongsong pendidikan yang menyejahterakan.

      Akuntabilitas, transparansi, dan tanggung jawab betul-be­tul diperhatikan. Hal ini lebih lanjut mensyaratkan siapnya mutu birokrasi dalam peng­awalan anggaran pendidikan. Begitu pun pihak penegak hu­kum harus ikut memberi per­hatian khusus terhadap penge­lolaan keungan ini nantinya.

      Hanya dengan itu kita ber­harap pendidikan menuju ma­nusia yang sejahtera di masa depan perlahan-lahan akan terwujud. Melalui anggaran pendidikan 20% tahun 2009, kita berharap kesempatan untuk memotong mata rantai ke­miskinan di masa depan lebih terbuka. Kemiskinan turun-te­murun yang seolah telah mengalami demitologisasi di Indonesia, kita berharap dapat diatasi dengan jumlah anggar­an yang lebih berpihak rakyat kecil. Semoga miskin warisan yang menjadi stempel orang ti­dak terdidik, bisa kita kikis bersama-sama.

      Penulis, Peneliti Pada Cen­ter for Social and Democracy Studies (CSDS) Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (Fis­hum) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

       

       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Wednesday, 22 February 2012 10:39  

      Items details

      • Hits: 285 clicks
      • Average hits: 3.1 clicks / month
      • Number of words: 1381
      • Number of characters: 10793
      • Created 7 years and 9 months ago at Wednesday, 22 February 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 9 months ago at Wednesday, 22 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,797
      • Sedang Online 80
      • Anggota Terakhir Suwardi

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9124480
      DSCF8803.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2019
      S M T W T F S
      27 28 29 30 31 1 2
      3 4 5 6 7 8 9
      10 11 12 13 14 15 16
      17 18 19 20 21 22 23
      24 25 26 27 28 29 30

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC