.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      KOMPAS, SENIN, 15 AGUSTUS 2011

      Amanat Penderitaan Rakyat Miskin

      Oleh JAYA SUPRANA


      Ironis! Bagaimana mungkin sebagai negara dan bangsa yang konon menjunjung tinggi falsafah Pancasila, yang tengandung asas kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial, ternyata setelah 66 tahun merdeka idonesia masih belum memiliki sistem asuransi kesehatan nasional yang secara adil dan merata menjamin hak setiap warga negara untuk memperoleh pelayanan kesehatan.

      Sampai kini, rakyat terutama orang miskin belum bisa memperoleh pelayanan kesehatan akibat tak mampu membayar biaya pelayanan kesehatan yang kian hari kian mahal.

      Prihatin

      Setelah mengembara sebagai tukang bubut, tukang pasang ubin, pegawai kafetaria, pianis, komponis, kartunis, mahasiswa, guru, kepala sekolah, dosen beberapa perguruan tinggi di Jerman, menjelang akhir 1970-an saya kembali ke Tanah Air. Saya prihatin, ternyata pada masa itu indonesia belum memiliki sistem asuransi kesehatan nasional. Bagi saya yang telanjur terasa hidup di tengah masyarakat aman yang sudah terlindung oleh sistem jaminan kesehatan nasional, peristiwa insan manusia tak bisa memperoleh pelayan kesehatan akibat tak mampu membayar biaya pelayanan kesehatan merupakan sesuatu yang sangat mengherankan, bahkan memprihatinkan. Apalagi setelah lebih bisa menghayati kemelut pelayanan kesehatan di Tanah Air, melalui sejumlah aktivitas sosial, saya kini sadar atas makna amanat penderitaan rakyat miskin. Sebenar-nya. harapan sempat timbul saat Tersiar kabar, Republik Indonesia setelah 59 tahun memproklamasikan kemerdekaan pada 45 akhirnya pada 2004 memproklamasikan Undang-Undang tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional  (SJSN). sayang tampaknya memang sudah lazim di indonesia yang disebut sebagai undang-undang lestari bertahan hanya se­bagai undang-undang tanpa pelaksanaan lebih lanjut. Hingga pertengahan 2011, meski sudah punya UU SJSN, terbukti rakyat Indonesia, terutama kaum miskin, masih harus tetap menderita sebab tak mampu membayar biaya pelayanan kesehatan.

      Akibat sediaan kesabaran makin terkuras, saya memberanikan diri memohon pencerahan dari insan yang saya duga paling berkepentingan dalam hal asuransi kesehatan nasional, yakni Endang Rahayu Sedyaningsih yang kini mengemban tugas sebagai Menteri  Kesehatan.

      Ternyata dugaan saya tak keliru. Meski secara pribadi sedang berjuang melawan penyakit kanker yang sedang mencengkeram dirinya tanpa perlu resah akan masalah asuransi kesehatan se­bab sudah dijamin pemerintah ternyata Ibu Menkes sangat resah akan nasib rakyat, teruta­ma kaum miskin yang tidak pu­nya duit untuk membayar biaya pelayanan kesehatan yang kian hari bukan kian murah.

      UU SJSN yang mencakup asu­ransi kesehatan nasional masih butuh dukungan UU untuk menetapkan dan mengatur (secara terbatas) Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Rancangan UU BPJS dengan jangkauan tak terbatas asuransi kesehatan, tetapi meluas ke jaminan sosial secara menyeluruh, kini sedang asyik dan bertele-tele dibahas oleh parlemen dan pemerintah yang diwakili Menteri Keuangan, Kepala Bappenas, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Menteri Hukum dan HAM, Menteri So­sial, Mennakertrans, Menteri BUMN, serta Menkes.

      Selain itu, UU pendukung UU SJSN masih harus dilengkapi berbagai peraturan pemerintah dan peraturan presiden. Mulai dari siapa saja yang perlu dibantu bahkan dibebaskan dari kewajiban membayar iuran asuransi, tentang setiap sistem jaminan sosial, pengaturan lembaga asu­ransi nasional yang sudah ada seperti Askes, Jamsostek, Taspen, Asabri, dan lain sebagainya, makin memperkompleks dan merumitkan pembahasan. Hingga duduk permasalahanya sendiri. Di samping itu, di alam demokrasi hasil karya gerakan reformasi, setiap pengambilan keputusan memang jadi jauh lebih sulit akibat keanekaragaman saran, pendapat, apalagi kepenting­an. Keputusan tak bisa dipaksakan secara otoriter seperti pada masa Orde Baru. Kini harus tertatih-tatih, terhuyung-huyung, bahkan jatuh bangun dan babak belur menempuh perjalanan ber-kepanjangan dan berbelit-belit Setiap pihak meyakini, saran, pendapat, dan kepentingan diri­nya adalah yang paling benar.

      Harapan

      Pada paruh pertama bulan Ramadhan ini sidang pembahasan Rancangan UU BPJS untuk sementara ditunda. Kabarnya pem­bahasan ,akan dimulai lagi pada sidang 19 Agustus 2011.

      Silakan DPR dan pemerintah secara demokratis dan terbuka menampung berbagai masukan saran, pendapat, dan kepenting­an para pihak Namun, karena semua itu dari manusia yang mustahil sempurna, dengan sendirinya mustahil ada saran, pen­dapat, dan kepentingan yang sempurna yang artinya memustahilkan pula pengambilan keputusan yang sempurna.

      Mendamba suatu keputusan sempurna pasti kian memunculkan persoalan yang bertele-tele dan pengambilan keputusan pun tak kunjung berakhir sampai akhir zaman. Namun, sungguh Man mengharukan, selama kepu­tusan belum diambil selama itu pula satu per satu rakyat miskin jatuh menjadi korban ketiadaan sistem jaminan kesehatan.

      Jika mau dan mampu menghayati makna amanat penderitaan rakyat miskin, seharusnya DPR dan pemerintah mengesampingkan segenap perbedaan pendapat apalagi kepenting­an demi musyawarah mencapai mufakat dalam memilih salah sa­tu keputusan yang mustahil sem­purna, tetapi yang terbaik di antara segenap keputusan yang mustahil sempurna itu. Semua demi terselenggara asuransi kesehatan nasional secara adil dan merata bagi segenap warga negara dan bangsa Indonesia, ter­utama bagi rakyat miskin!

      .TAYA STTPRANA

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 959 clicks
      • Average hits: 12.1 clicks / month
      • Number of words: 2838
      • Number of characters: 23538
      • Created 6 years and 7 months ago at Monday, 09 April 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 125
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091491
      DSCF8790.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC