.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail
      Article Index
      AGAR TEKNOLOGI TIDAK MENJADI TIRANI
      Page 2
      Page 3
      Page 4
      All Pages

      AGAR TEKNOLOGI TIDAK MENJADI TIRANI:

      Mencari Pola Pengembangan  Masyarakat di Daerah Perbatasan

      Sesungguhnya, untuk melakukan pembangunan masyarakat di daerah perbatasan tidak bisa hanya digarap hanya dari satu aspek saja, teknologi misalnya. Akan tetapi seluruh aspek yang berkaitan dengan kehidupan manusia sebagai makhluk sosial juga harus  dilibatkan secara integral. Manuel Kaisiepo (dikutip dari Habba, 2006) menyatakan bahwa ada lima masalah mendasar yang umumnya terdapat di  daerah perbatasan, yaitu  kurangnya infrastruktur pembangunan, kemiskinan, buruknya mental birokrat, kesenjangan sosial dan ekonomi antara penduduk perbatasan negara tetangga dan masyarakat warga negara Indonesia, serta terbatasnya teknologi untuk pengelolaan sumberdaya alam.  Jelas bahwa  teknologi hanyalah salah satu pendekatan untuk membantu solusi. Itu pun memerlukan sebuah strategi yang tepat dalam penerapannya supaya tidak, malah, menimbulkan masalah.  Tulisan ini merupakan ulasan yang didasarkan pada hasil wawancara dengan 16 orang peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang terlibat dalam pembangunan masyarakat di NTT antara tahun 2005-2007.   

       

      Antara Panggilan dan Tugas

      Banyak motif yang melandasi keterlibatan para peneliti LIPI untuk melakukan pengembangan masyarakat di NTT. Ada yang dilandasi panggilan jiwa kepenilitian yang senantiasa diliputi oleh rasa ingin tahu (curiousity), namun banyak juga yang motifnya semata-mata mencari tambahan penghasilan. Akan tetapi hampir semua mengetahui bahwa  penerapan program kegiatan di NTT merupakan kebijakan yang sudah given bukan sebuah pilihan apalagi inisiatif sendiri.

      Secara umum apabila dilihat dari perspektif ekonomi atau  kalkulasi bisnis, jelas mengadakan kegiatan pengembangan masyarakat di NTT tidak menguntungkan. Tapi memang  kegiatan di NTT bukan sebuah kegiatan bisnis tapi kegiatan kemanusiaan. Demi keutuhan dan eksistensi serta harga diri bangsa maka apa pun yang akan terjadi maka misi harus dilaksananakan, the show must go on.

      Tidak banyak yang dapat diharapkan dari sebuah daerah yang kering kerontang seperti NTT ini. Karenanya tidak perlu heran apabila banyak dari para peneliti yang bersikap pesimis terhadap keberhasilan pembangunan masyarakat di NTT. Walaupun demikian, tidak semuahnya bersikap seperti itu, ada juga yang merasa optimis, tentu saja dengan rentang waktu pembangunan yang lama karena untuk membangun manusia tidak ada cara yang revolusioner. 

      Dari mana mesti mulai?

      Para peneliti mengakui sebenarnya masyarakat NTT memiliki banyak potensi, baik dilihat dari sumber daya alam yang ada maupun dari sumber sosial-budaya. Masyarakat memiliki ”kekuatan” yang bila digali dan disalurkan akan berubah menjadi energi yang besar untuk mengatasi masalah yang mereka alami. Cara menggali dan mendayagunakan sumber-sumber daya yang ada di masyarakat inilah yang menjadi inti dari program LIPI di daerah perbatasan, khususnya di NTT. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan sebuah konsep dan strategi yang bernas supaya teknologi yang diterapkan di masyarkat benar-benar menjadi solusi bukan malah menambah masalah baru. Dan juga perlu diingat, penerapan teknologi bukanlah satu-satunya solusi dalam melakukan pembangunan masyarakat.

      Faktor yang paling penting di dalam membangun masyarakat adalah bagaimana mendudukkan masyarakat pada posisi pelaku (subjek) pembangunan yang aktif, bukan hanya penerima yang pasif. Konsep pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan mengutamakan inisiatif dan kreasi masyarakat dengan strategi pokok adalah memberikan kekuatan (power) kepada masyarakat.

      Sebenarnya, masyarakatlah yang lebih memahami kebutuhan dan permasyalahan yang dihadapi harus diberdayakan agar mereka lebih mampu mengenali kebutuhan-kebutuhannya. Mereka juga dilatih untuk dapat merumuskan rencana-rencanya serta melaksanakan pembangunan secara mandiri dan swadaya. Dengan kata lain, gerakan pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan ”dari, oleh, dan untuk” masyarakat. 

      Karena itulah, studi pendahuluan untuk mengenali karakter masyarakat menjadi sebuah keniscayaan, dan sialnya inilah yang tidak dilakukan oleh LIPI. Ilmuwan sosial didatangkan ke lokasi setelah program berlangsung. Sehingga otomatis mereka hanya melakukan evaluasi program dan yang menyedihkan lagi adalah hasil evaluasi mereka tidak didengar oleh  karena memang program sudah terlanjur dilaksanakan. Selain itu juga nampak tidak ada koordinasi yang manis antara para teknolog dengan ilmuwan sosial dan ini telah menjadi   fenomena yang terjadi di LIPI dan selalu diwariskan dari generasi ke generasi.

      Karena tidak ada kajian yang integral dan komprehensif mengenai karakter masyarakat setempat, para peneliti LIPI yang datang ke NTT bertindak seperti ”sinterklas” yang memberikan berbagai mancam hadiah (teknologi), tanpa melakukan sebuah pendidikan atau penyadaran untuk keberlanjutan program. Dan pada akhirnya mudah untuk diduga, banyak penerepan teknologi  yang tidak berlanjut setelah proyek selesai. Ada sebuah pameo yang mengatakan ”jangan berikan ikannya tapi berikanlah kailnya”. Nah, yang terjadi di NTT adalah kita memberikan ikan dan kailnya sekaligus, tetapi kita tidak mengajari bagaimana cara menggunakan ”kail”nya. Padahal ini adalah sebuah proses perubahan yang sanga penting.

      Jadi, hakikat pembangunan masyarakat adalah community base development atau pembangunan dari bawah. Oleh karena itu, langkah pertama yang harus dilakukan adalah  mengubah paradigma atau mind set masyarakat setempat. Dan ini hanya dapat dilakukan oleh pendekatan sosial.    

       



      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Friday, 29 May 2009 10:59  

      Items details

      • Hits: 3308 clicks
      • Average hits: 29 clicks / month
      • Number of words: 3316
      • Number of characters: 24555
      • Created 9 years and 6 months ago at Friday, 29 May 2009 by Administrator
      • Modified 9 years and 6 months ago at Friday, 29 May 2009 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 125
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091306
      DSCF8768.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC