.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      Republika 8 Januari 2011

      Kemiskinan Absolut Harus Ditinggalkan

      Oleh : Prof Carunia Mulya Firdausy PhD

      Wakil Presiden Boediono dalam pengarahannya pada Rakernas Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI) pada awal Desember 2010 lalu menyatakan, komitmen untuk mengurangi kemiskinan secara nasional jangan dijadikan sekadar bermain-main dengan angka statistik, tetapi harus benar-benar diwujudkan dalam bentuk tercapainya kesejahteraan. Oleh karena itu, sangat penting upaya untuk terus-menerus meningkatkan pertumbuhan secara regional dengan program infra struktur, peningkatan investasi, dan lainnya agar tercapai penurunan angka kemiskinan.

      Pernyataan Wapres Boedio­no tersebut, menurut saya, mengandung empat pesan substantif. Pertama, kemiskinan jangan diukur hanya dengan angka. Kedua, angka penduduk miskin 'haram' hukumnya untuk dimanipulasi. Ketiga, program anti kemiskinan, baik langsung maupun tidak langsung harus dijalankan dengan sebaik-baiknya. Dan keempat, pencapaian kesejahteraan harus menjadi tujuan dan bukan sebatas 'hapus'-nya kemiskinan.

      Untuk tiga pesan yang disebutkan di atas, tentu bukan merupakan pernyataan baru. Pasalnya, angka statistik khususnya, bukan merupakan indikator 'hidup' untuk menjelaskan tingkat kedalaman parahnya kemiskinan di satu pihak dan proses pemiskinan masyarakat miskin di pihak lain, yang baru menutur saya adalah pesan keempat.

       

      Pesan ini mengandung arti bahwa capaian pembangunan harus diarahkan pada penca­paian kesejahteraan masyara­kat dan bukan sebatas hilangnya kemiskinan. Jika benar pe­san yang dimaksudkan Wakil Presiden demikian, pikiran pemerintah seperti ini menunjukkan suatu kemajuan yang perlu diacungi empat jempol. Cuma persoalannya, bagaimana mungkin capaian kesejahteraan diperoleh, sementara cara pengukurannya masih menggunakan garis kemiskinan (GK) absolut yang ditetapkan Badan Pusat Statistik (EPS)?

      Kritik GK Absolut

      Garis kemiskinan (GK) absolut sudah sejak lama dikritisi. Kritik utamanya, ukuran ini hanya merefleksikan ketidakcukupan pemenuhan kebutuhan hidup yang paling dasar manusia (butsarman) saja. Namun, anehnya, pemerintah tidak pernah melakukan perubahan substantif. Kalaupun ada, peru­bahan yang dilakukan masih terbatas pada penyesuaian tingkat harga kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang berlaku. Padahal, ke­miskinan harus pula mencakup dimensi lain, seperti tidak adanya kesempatan (lock of oppor­tunity), rendahnya kapabilitas (low capability), adanya keadaan tidak aman (insecurity), dan ketidakberdayaan (World Development Report, 2000).

      Memang benar, pengukuran kemiskinan dengan mengadopsi dimensi-dimensi di atas dipastikan memperbesar jumlah orang miskin sehingga memiliki dampak sosial ekonomi dan politik menjadi negatif. Dampaknya antara lain tidak saja berpengaruh pada keenganan investor asing dan domestik menanamkan modalnya dan atau memperluas rongrong keberadaan rezim yang berkuasa. Apalagi, dalam era reformasi ini, kecenderungan untuk memberi kritik lebih besar daripada memberikan solusi.

      Namun begitu, harus juga diakui, adopsi garis kemiskin­an yang lebih luas cakupan dimensinya memiliki banyak keuntungan. Selain memotivasi kita untuk lebih bekerja keras dan cerdas, juga dapat berdampak pada perbedaan kebijakan yang akan diambil dalam usaha pengentasan kemiskinan. Oleh karena itu, penggunaan GK absolut yang digunakan BPS selama ini ha­rus ditinggalkan. Lantas, bagaimana menguantifikasi GK yang mengadopsi dimensi eko­nomi dan nonekonomi di atas?

      Tidak Mudah

      Memang tidak mudah un­tuk menguantifikasi GK yang mampu menangkap seluruh dimensi ekonomi dan noneko­nomi kemiskinan. Alasannya jelas, yaitu menyangkut ada­nya pengubah nonekonomi yang tidak dapat dikuantifikasi secara konkret (kecuali dengan proxy).

      Dalam literatur pun, metode penetapan GK masih terbatas pada tiga pendekatan, yakni absolut, relatif, dan subjektif. Kalau pendekatan absolut mematok GK pada tingkat hidup (diukur dari pendapatan atau pengeluaran) per kapita berada di atas atau di bawah kebutu­han hidup yang paling dasar (makanan dan nonmakanan).

      Sementara GK relatif mendasarkan ukurannya pada apakah tingkat hidup seseorang (di­ukur dari pendapatan atau pengeluaran) yang berada di atas atau di bawah tingkat pen­dapatan atau pengeluaran masyarakat tempat seseorang tersebut tinggal. GK subjektif mengukur Kemiskinan pada dirinya sendiri.

      Dalam konteks mewujudkan capaian kesejahteraan yang disampaikan Wakil Presiden dan sulitnya melakukan kuantifikasi terhadap dimensi none­konomi kemiskinan, GK relatif merupakan pilihan terbaik un­tuk menggantikan GK absolut. Bahkan, GK relatif ini juga telah lama dipakai di negara-negara maju dalam usaha menghapus penyakit kemiskinan, sedangkan GK subjektif tidak tepat karena ukuran itu bersifat subjektif sehingga memiliki keterbatasan dalam keterbandingan antarwaktu dan antar-golongan masyarakat dan kurangnya data survei yang dapat dipercaya (Asra, 2010).

      Oleh karena itu, keberanian untuk mengambil keputusan ekonomi dan politik dengan menggunakan GK relatif sebagai pengganti GK absolut svh dah saatnya dilakukan. Pasal­nya, tidak saja untuk lebih me-micu komitmen dan keseriusan pejabat di pemerintah pu-sat dan kepala daerah, tetapi juga untuk memacu para pi­hak yang berkepentingan lain di masing-masing daerah un­tuk terlibat dalam program tersebut khususnya dalam upaya making decentralization works for the poor.

      Tanpa keberanian tersebut, keyakinan kita untuk menca-pai komitmen Millenium Deve­lopment Goals (MGDs) mengu­rangi penduduk miskin menjadi setengahnya pada tahun 2015 dan apalagi memiliki peluang masuk dalam kelompok 10 be­sar perekonomian dunia pada 2025 akan merupakan isapan jernpol semata. Bukankah Indo­nesia tidak pernah bermimpi menjadi negara yang demokra-tis? Namun, dengan keberanian para pemimpin, mimpi ter­sebut kini menjadi kenyataan. Lantas, mengapa tidak dengan penggantian garis kemiskinan

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Wednesday, 04 April 2012 08:44  

      Items details

      • Hits: 898 clicks
      • Average hits: 11.4 clicks / month
      • Number of words: 3210
      • Number of characters: 28497
      • Created 6 years and 7 months ago at Wednesday, 04 April 2012 by Administrator
      • Modified 6 years and 7 months ago at Wednesday, 04 April 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 133
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091240
      DSCF8768.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC