.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

E-mail

Literasi Di Balik Jeruji  Besi

“Penjara adalah universitas terbaik di dunia ini” kata Malcolm X. Dia berkata seperti itu karena tidak pernah memasuki bangku kuliah bahkan sekolah SMP pun tidak tamat. Satu-satunya tempat ia belajar untuk menjadi seorang intelektual adalah penjara. Selama 10 tahun dia hidup di penjara dan selama itu pula ia bergulat setiap hari dengan buku (otodidak). Selama di dalam penjara dia berhasil mentransformasi diri atau melakukan revolusi mental—dengan  menanamkan tradisi literasi (membaca)—dari  seorang bajingan menjadi seorang intelektual bahkan dianggap sebagai pahlawan.

Dari sejarah para pahlawan nasional kita juga dapat belajar bahwa penjara merupakan salah satu tempat untuk menempa diri  secara literasi. Tanpa dibui ungkin tidak akan lahir Indonesia Menggugat dari Bung Karno dan Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka. Tanpa di buang ke Pulau Buru mungkin tidak akan lahir  tetralogi : Bumi Manusia, Jelek Langkah, Anak Semua Bangsa, dan Rumah Kaca karya Pramoedya  Ananata Toer, dan karya Pulau Buru lainnya. Kalau tidak diasingkan ke Tanah Merah (Digul)   mungkin tidak akaan terbit Alam Pikiran Yunani karya Bung Hatta yang kelak dijadikan mahar untuk menyunting Ibu Rahmi. Bahkan Soekarno sendiri mengakui bahwa dia mengenal lebih jauh tentang  Agama Islam dengan cara banyak membaca waktu beliau dipenjara.  Dan banyak lagi karya intlektual dari penjara.

Dilandasi oleh cerita tersebut di atas maka saya bermimpi apabali suatu hari bisa menyambangi penjara untuk malakukan penyadaran tentang pentingnya membaca di kalangan para napi.  Dan mimpi saya ini menjadi kenyataan. Pada tahun 2012 saya bekerja sama dengan Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Ciamis Jawa Barat mengadakan kegiatan safari budaya baca ke berbagai segmen masyarakat, salah satunya ke penjara. Melalui kegiatan ini diharapkan minat membaca bisa tumbuh di kalangan para napi. Dan apabila sudah tumbuh maka kehidupan di napi akan diisi dengan  kegiatan membaca tentang berbagai bidang yang mereka sukai.  Dari kegiatan membaca ini kelak akan merubah pola pikir dan akihirnya bisa mengubah karakter mereka. Kelak setelah keluar  dari penjara mereka menjadi manusia baru yang siap untuk beradapatsi kembali dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Lebih jauh lagi kami berharap para alumni penjara ini akan  menjadi “Malcolm X” yang lain yang bisa mengubah dunia, ya paling tidak dunianya sendiri.

Dari berbagai cerita ternyata bermacam-macam cara terpidana dalam mengisi hidup di dalam penjara. Ada yang mengasah keahlian kriminalnya dengan berguru kepada napi lain yang lebih ahli. Sehingga  sering terdengar perkataan masuk penjara sebagai penjahat kelas teri dan keluar  menjadi penjahat kelas kakap. Penjara menjadi “sekolah” untuk menaikan kelas atau status kekriminalannya. Tetapi ada juga yang mamanfaatkan penjara sebagai tempat istirahat yang paling sempurna karena tanpa banyak diganggu, sehingga  dalam masa hukuman banyak diisi dengan kegaitan ibadah dan renungan.  Dan yang paling menarik adalah yang dilakukan para politisi. Mereka menjadikan penjara sebagai “kawah candradimuka “ yang mesti dilalui untuk kemudian menjadi orang besar atau pahlawan.

Penjara bukan hanya sebagai lembaga pemasyarakatan atau pembinaan akan tetapi bisa menjadi lembaga pendidikan  yang efektif untuk akselerasi pemembentukan  karakter manusia berbasis literasi. Situasi dan kondisi di penjara sangat mendukung untuk melakukan kontrol yang ketat terhadap proses pendidikan para napi. Para napi sangat mungkin untuk fokus karena faktor pengalih perhatian (nonton, kongkow, dan lain-lain kegiatan yang hanya membuang wakatu) yang terbatas bahkan tidak ada, sedangkan waktu yang tersedia cukup luang.


Di mana-mana penjara melebihi kapasitas, di masa depan semoga tidak semakin panjang  antrian ini. Beragam motif mereka berbuat kriminal. Saya mengimpian penjara menjadi semacam lembaga pendidikan istimewa untuk mendidik manusia yang tangguh. Dengan berbekal keberanian dan kenekatan yang telah mereka memiliki tinggal diarahkan ke perilaku yang positif.

Bertahan menggelosot di atas tegel tanpa alas, dari pagi hingga siang hari mereka bertahan.  Yang dijalankan di lembaga pemasyarakatan terkadang terapi efek jera bukan penyadaran. Sebenarnya mereka bisa diterapi dan direhabilitasi dengan metode literasi yang disebut dengan bibliotheraphy yang dapat menumbuhkan sebuah kesadaran bahwa yang meraka lakukan selama ini hakikatnya hanya merugikan diri sendiri dan orang lain. Tidak ada cara lain untuk meraih kemulian hidup selain dengan  pengetahuan yang salah satu instrumen utamanya adalah membaca.

Duh, Gusti! Anak-anak seusia mereka semestinya tidak dihabiskan di dalam penjara.  Ini terjadi karena mereka tuna-literasi  dan tuna-perhatian orang tua. Hidup mereka  tidak terarah yang akhirnya mereka menjadi “anak-anak zaman”  yang semakin buas menerkam mangsa.

Dengan sentuhan yang mampu membuaka kesadaran, pola pikir,  dan paradigma sebernarnya mereka siap utnuk berubah. Testimoni dari seorang napi, sambil bercucuran air mata berjanji akan menjadi ustadz bila kelaur dari penjara.

Seanadainya di setiap penjara ada buku mungkin mereka akan menjadi “para penghuni penjara yang mengubah dunia.” Mereka bisa “ngapak dunya lantaran maca (keliling dunia karena membaca—bhs. Sunda)” Tidak tersiksa di dalam sempitnya ruang penjara.

 

Suherman; This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

Last Updated on Wednesday, 18 January 2017 15:36
 
E-mail

Kutukan Literasi


Sejak Indonesia merdeka sampai hari ini rasanya belum pernah ada rezim atau pemerintah yang menjadikan pembangunan budaya literasi sebagai prioritas pembangunan. Entah lupa atau memang disengaja para pemimpin bangsa seperti menyepelekan atau abai terhadap pembangunan budaya literasi ini. Seolah mereka semua buta dan tuli serta mati rasa bahwa mereka bisa menjadi manusia terpelajar seperti itu karena tradisi literasi yang sudah melekat dan mendarah daging dalam diri mereka. Kita sudah capek membaca dari sejarah yang banyak memberikan bukti bahwa budaya literasi adalah fondasi kemajuan bangsa. Peradaban atau bangsa yang maju adalah bangsa yang memiliki budaya literasi yang bagus. Tanpa membangun budaya literasi sampai kapan pun Indonesia tidak akan menjadi bangsa yang maju. Menyepelekan pembangunan budaya literasi akan sangat fatal untuk generasi yang akan datang.

Mari kita menengok “aib lierasi” untuk bercermin supaya tidak terulang di masa depan. Akibat dari ketelodoran para pemimpin bangsa dalam membangun budaya literasi, maka bangsa Indonesia tidak pernah beranjak dari kubangan permasalahan elementernya. Juga hampir semua aspek kehidupan strategis bangsa kini mengidap masalah yang seolah-olah tidak kunjung menemukan solusi, bahkan semakin akut.

Dalam bidang pendidikan, sejak proklamasi sampai hari ini sudah lebih dari 10 kali berganti kurikulum, tetapi dunia pendidikan bermasalah terus-menerus. Hal ini terajdi disebabkan karena pendidikan tidak berbasis pada literasi. Kualitas pendidikan Indonesia tetap ada dalam urutan bawah. Ataukah mungkin dijadikan seperti itu supaya ada ketergantungan terus terhadap negara-negara Barat? Sebagaimana kita semua mengetahui bahwa ketergantungan adalah bentuk lain dari soft colonialism. Dunia pendidikan masih belum memiliki orientasi yang jelas, mau kemana dan mau dijadikan seperti apa manusia Indonesia. Cita-cita pendidikan Ki Hajar Dewantara, yang ingin memerdekakan manusia atau memanusiakan manusia, semakin hari malah semakin jauh panggang dari api. Kini lembaga-lembaga pendidikan sudah menjelma menjadi monster industri yang tujuan utamanya adalah meraup keuntungan finansial sebesar-besarnya. Muatan kurikulum disesuaikan dengan kebutuhan SDM untuk memenuhi pesanan dari industri. Yang dijadikan kiblat pembangunan pendidikan Indonesia adalah negara-negara, yang secara takhayul, dianggap negara maju karena terlihat dari limpahan materi—walaupun sesungguhnya depisit kebahagiaan bahkan depisit nilai-nialai kemanusiaan.

Pendidikan dijadikan sebagai komoditas industri yang paling menguntungkan disepanjang zaman. Manusia seperti sengaja tidak dijadikan menjadi manusia pembelajar yang meredeka. Akan tetapi dijadikan semacam kencanduan terhadap industri pendidikan. Pendidikan menjadi candu bagi manyarakat, semakin ketergantungan terhadap lembaga-lembaga pendidikan semakin bagus karena itu adalah tujuan dari industrialisasi pendidikan. Lembaga-lembaga pendidikan sudah berubah menjadi lembaga-lembaga bisnis yang orienatasinya sudah jelas yaitu rente atau profit bukan profetik. Pembangunan budaya literasi yang akan menjadikan manusia menjadi pembelajar yang mandiri sepanjang hayat jelas akan menjadi ancaman bagi industri pendidikan. Oleh karena itu, pembangunan budaya literasi harus dijauhkan dari dunia pendidikan. Melalui strategi kebudayaan yang sangat halus, tanpa disadari kita terperangkap oleh tipu daya ini

Dalam bidang politik, negara solah-olah sedang menjalankan pituah dari Hitler yang mengatakan bahwa “bahagialah penguasa yang memiliki rakyat bodoh.” Karena bagi seorang diktator atau pemimpin yang haus kekuasaan, rakyat yang literate (well educated) adalah ancaman bagi hegemoninya. Oleh karena itu melanggengkan kebodohan rakyat adalah sebuah keniscayaan. Sisitem demokrasi yang kini dianut negara hanya sebuah takhayul yang sangat manipulatif. Tanpa budaya literasi, demokrasi dimanipulasi menjadi hanya semacam bursa atau pasar tempat jual-beli suara rakyat dengan bebas. Siapa yang memiki banyak uang dan juga tampang semakian memiliki peluang untuk menang dalam perebutan kekuasaan. Selain dengan uang, rakyat juga ditipu dengan pencintraan yang membodohkan. Dengan kemasan media, rakyat tidak bisa lagi membedakan mana tahi dan mana roti. Mohammad Hatta, sang negarawan sejati, sudah mengingatkan sejak awal bahwa menerapkan sistem demokrasi di tengah masyarakat yang belum memiliki budaya literasi maka hanya akan menciptakan “demokrasi-demokrasian” alias demokrasi palsu atau demokrasi haram jadah.

Begitu pun yang terjadi dalam bidang ekonomi. Krisis ekonomi yang sudah beberapa kali terulang adalah akibat dari rentannya sumber daya manusia terhadap perubahan. Indonesia masih mengandalkan pembangunan ekonomi pada sumber daya alam bukan pada kekuatan sumber daya manusia. Kita belum melaksanakan apa yang disebut dengan ekonomi berbasisi pengetahuan (knowledge based economy). Dengan diberlakukannya pasar bebas baik di tingkat regional ataupun global banyak kalangan yang mengkhawatirkan mengingat sumber daya manusia Indonesia yang belum siap bersaing dengan negara lain. Alih-laih menjadi peluang malah menjadi ancaman, Indonesia hanya akan menjadi pasar yang potensial bagi produk asing. Itu semua karena masyarakat kita belum menjadikan pengetahuan atau informasi sebagai kekuatan untuk mendukung ekonomi. Intinya kembali lagi bahwa budaya literasi masyarakat masih lemah.

Program Trisakti Soekarno sampai hari ini belum terwujud malah berubah menjadi “tripetaka.” Mudah-mudahan nasib yang sama tidak dialami oleh program Nawa Cita-nya Jokowi yang mungkin akan menjadi “Nawa Duka apabila budaya literasi tidak dibangun terlebih dahulu di negeri ini.

Menolak Kutukan

Di tengah kebebalan negara dan ketidakseriusan pemerintah dalam membangun budaya literasi, untung saja Indonesia memiliki sebagian masyarakat yang kreatif dan berjiwa besar. Tanpa komando dari negara, yang jarang sekali hadir dalam kegiatan literasi, masyarakat dari Sabang sampai Merauke bergerak sendiri membangun tradisi literasi informasi bangsa, maka tejadilah riak-riak literasi informasi di seantero negeri untuk menolak kutukan literasi.

Dengan dilandasi keinginan untuk menolong sesama, dengan cara dan kreativitasnya sendiri, banyak masyarakat berinisiatif membangun budaya literasi. Terkadang terasa sangat ironis, kesadaran pentingnya budaya literasi bagi kemajuan bangsa ini, bukan muncul atau diinisiasi oleh negara dan juga dari para sarjana lulusan perguruan tinggi. Akan tetapi, api pijar litersi ini justru lebih banyak dipelopori oleh orang biasa yang luar biasa, seperti dari pedagang jamu gendong yang tidak tamat SD, tukang tahu keliling, tukang gorden, dan lain-lain profesi arus bawah yang jarang dianggap penting oleh negara. Bahkan belakangan ini jagat literasi diramaikan dengan munculnya “kuda pustaka” dan “domba pustaka”. Ini adalah 100 persen kreativitas dari masyarakat bawah yang berhasil mensiasati serba kekurangan fasilitas atau infrastruktur. Mereka menggunakan kuda dan domba untuk dijdikan perpustakaan keliling. Mereka bekerja tanpa sorotan media, tanpa gunting pita, bahkan tidak ada seorang pun pejabatan yang mengetahuinya. Mereka hanya disaksikan oleh Tuhan dan tanah ari tempat mereka berpijak untuk berkarya dan turut serta dalam “mencerdaskan kehidupan bangsa” . Mereka bekerja tanpa mengetahui adanya Undang-Undang No. 43 tahun 2007 Tentang Perpustakaan, mereka tidak pernah membaca Peraturan, apalagi Juklak dan Juknis dari Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara. Mereka hanya percaya bahwa semua kegiatannya akan dicatat oleh malaikat yang tidak akan salah. Mereka tidak bekerja sebagaimana kebanyakan para pejabat fungsional yang bekerja semata untuk mengumpulkan angka kredit, yang terkadang manipulatif, hanya untuk mendaptkan dan meningkatkan tunjangan fungsional.

Celah Sejarah

Nah, dihadapan kita saat ini ada sebuh celah sejarah berupa pembangunan budaya literasi melalui gerakan literasi sekolah (GLS) yang digagas oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Akan tetapi, tentu saja peluang ini juga disertai oleh berbagai tantangan. Kalau kita ingin merebut masa depan, dan memang kita harus merebutnya, tantangan-tantangan yang disebutkan di atas harus kita sama-sama cermati. Yang pasti, kita harus bekerja keras, lebih terencana, lebih tepat, dan lebih efisien.

Hari ini para aktivis literasi masih banyak yang mengalami elegi yang berkepanjangan. Sudah waktunya kita mengubah elegi ini menjadi epos yang melegenda. Persoalan-persoalan seperti dibahas di atas merupakan sebuah tantangan sekaligus menjadi celah sejarah untuk kita isi supaya sejarah republik ini juga memiliki narasi dari aktivis literasi. Celah itu adalah bagaimana kita dapat menggiring riak menjadi gelombang literasi supaya kapal nusantara ini dapat berlayar menuju negeri kesejahteraan. Ada beberapa pertanyaan yang harus kita jawab untuk mengisi celah sejarah tersebut:

Pertama, mampukan kita mengisi apa yang ingin saya sebut sebagai “kekosongan konseptual” dalam bidang literasi dalam wacana kenegaraan kita saat ini? Sebab setiap kekuatan baru yang muncul tanpa membawa konsep yang kuat niscaya tdak akan bertahan lama di pangung sejarah.

Kedua, mampukah kita menggalang dan mengkonsolidasikan kekuatan-kekuatan lainnya? Pembangunan budaya literasi adalah sebuah upaya yang memerlukan sinergi dari berbagai bidang atau multidisiplin seperti. Sangat mustahil solusi terhadap problematika literasi hanya dilihat dari perspektif kependidikan dan kepustakawanan saja. Oleh karena itu, selain memerlukan keluasan wawasan juga memerlukan keterampilan komunikasi untuk membangun sinergi.

Ketiga, mampukan kita menyiapkan aktivis atau relawan yang akan menjadi pelopor yang senantiasa memiliki stamina perjuangan yang konstan. Para aktivis harus berjuang di antara opitmisme dan angin pesimisme yang bertiup kencang yang terkadang ditiupkan oleh orang yang mestinya mendukung. Aktivis literesi tidak akan hidup enak dan nyenyak di menara gading, tapi harus membaur dengan masyarakat, bergulat dengan keriangat dan air mata para pegiat literasi di akar rumput.

Keempat, mampukan kita meraih dukungan publik yang luas dan meyakinkan penguasa serta pemangku kepentingan lainnya? Karena sebuah upaya perubahan yang terstruktur, sistematis, dan massif harus dilakukan melalui pendekatan kultural dan struktural (kekuasaan). Upaya yang kita lakukan akan berhasil meraih dukungan dari pengabil kebijakan dan mendapatkan dukungan dari publik apabila kita mampu membaca keinginan rakyat dan membahasakannya dalam agenda-agenda kerja kita.

Celah sejarah mungkin berulang di kesempatan yang lain, tapi tidak dalam waktu yang berdekatan. Jadi sekaranglah waktunya kita untuk beraksi supaya kutukan literasi tidak terjadi. Mari! (Suherman)

Last Updated on Tuesday, 17 January 2017 10:21
 
E-mail

Dari Jeda ke Renaisans

Tanpa jeda tidak akan ada irama dan tanpa irama tidak akan ada makna. Sesungguhnya jeda adalah ruang kosong atau perantara supaya yang telah lalu dan yang akan datang memiliki arti.

Tidak terasa sudah satu tahun lebih melakukan jeda tidak menyentuh situs MLI. Rasanya sudah cukup waktu berhenti untuk memikirkan yang sudah lewat dan yang akan datang.

Banyak hal dan peristiwa yang tidak tertuliskan dan terlaporkan. Banyak juga  pertanyaan yang tidak dijawab.  Situs ini seperti situs atau artefak prasejarah yang memfosil tidak ada dinamika di dalamnya.

Bisa jadi situs ini merupakan cermin dari negeri ini walaupun, tentu saja, tidak kita inginakan. Rasanya sudah terlalu lama bangsa kita meninggalkan jati dirinya sehingga lupa bahkan asing terhadap dirinya sendiri. Bangsa yang pernah melegenda dan  negeri yang bagai di alam surgawi  sekarang banyak rakyatnya bagaikan menjadi  gelandangan di negeri sendiri  atau kata Bung Karno menjadi “koeli di negeri sendiri”. Kami meyakini bahwa jalan literasi ini adalah jalan yang tepat untuk  mengembalikan harga diri bangsa dan merebut masa depan.   Jalan literasi adalah jalan untuk membangunkan kembali  kesadaran  bangsa rajawali yang telah lama tertidur dan mungkin pingsan dibius tipu daya Barat dan Utara.  “Kesadaran adalah matahari, kesabaran adalah bumi, keberaian menjadi cakrawala, dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata“ (WS Rendra)

Kesadaran yang kami bangun adalah kesadaran tentang pentingnya ilmu pengetahuan, yang sangat menentukan untuk kemajuan  manusia. Sejarah hanyalah catatan pembuktian kebenaran kata-kata “pengetahuan adalah kekuatan.” Manusia, bangsa, dan  peradaban yang mampu memimpin adalah mereka yang memiliki pengetahuan lebih banyak dan lebih baik  dari yang lain. Dan kunci utama untuk meraih ilmu pengetahuan adalah membaca atau budaya literasi. Lego ergo scio (aku membaca maka aku tahu)

Ternyata di usia yang ke 5 tahun ini ada 9.027.938 tamu yang berkunjung ke situs MLI dengan 1.875 yang mengiklaskan diri menjadi anggota.  Mohon maaf apabila kami, sebagai tuan rumah, kurang sapa, tidak sopan, dan tidak memuaskan Anda dalam memberikan suguhan.

Kami rasa sekaranglah saat yang tepat untuk melakukan peralihan atau kelahiran kembali atau renaisans. Kini ada secercah harapan karena belakangan ini budaya literasi mulai dilirik oleh masyarakat dan negara.  Literasi mulai diakrabkan di lembaga-lembaga pendidikan dan  di ruang-ruang publik. Para aktivis dan pegiat, yang selama ini  seperti yatim piatu,  mulai disapa oleh negara.

Akhirnya, parsitipasi pembaca  adalah denyut nadi dan api kami untuk bisa terus melangkahkan  kaki meonyongsong masa depan yang lebih baik melalui jalan literasi.   Kami mengajak pembaca untuk sama-sama membuat kembali narasi bagi negeri tercinta ini supaya bangsa kita kembali melegenda. Semoga! (Suherman)

Last Updated on Monday, 16 January 2017 09:57
 
E-mail

Berikut adalah informasi Perlombaan di Festival Literasi Jawa Barat 2015

Iklan Lomba di Festival Literasi Jabar

Last Updated on Sunday, 19 April 2015 15:04
 
E-mail

Membedah Makna Pustakawan Setengah Gila

Di Perpustakaan Universitas Airlangga

 

Tiada orang besar sukses tanpa membaca, coba telusuri tokoh-tokoh dunia yang sukses semua juga karena membaca dan untuk membuat negeri ini keluar dari keterpurukan, membaca adalah kunci utamanya. Bapak Suherman begitu bersemangat memberikan inspirasi agar semua orang mau membaca, karena dengan membaca kita juga dapat menikmati hidup bahkan mampu menghindari kepikunan. Negara-negara maju didunia sangat memperhatikan apa yang disebut membaca. Karena dengan membaca budaya terbentuk bahkan mampu memajukannya secara bersamaan.

Menjadi seorang pustakawan, haruslah out of the box atau keluar dari kotak, demikian makna yang didapat dari Bedah Buku Tulisan Bapak Suherman yang berjudul Pustakawan ½ Gila, bila gila penuh tentunya tidak bisa menulis buku, demikian kelakarnya dan disambut tawa para pustakawan dan pemerhati perpustakaan yang turut hadir di sore kemarin. Pustakawan jika mau dihargai tentunya dapat memberikan banyak kontribusi ke negeri ini.

Pustakawan diharapkan tidak terpatri pada apa yang ditetapkan dalam angka kredit, harusnya lebih dari hal itu. Banyak kegalauan melanda anak muda dari jurusan perpustakaan, akibat moratorium pengangkatan pegawai, namun apakah kita harus berhenti dari situ, dimana dokumentasi dan informasi masih ada, pustakawan pun akan tetap hidup. Bapak Suherman pun menceritakan bahkan banyaknya pekerjaan yang diberikan oleh LSM untuk pustakawan merupakan lahan baru bagi kita.

Pustakawan telah menjadi pilihan hidup beliau, dan sebaran virusnya ditularkan ke rekan-rekan sejawat yang hadir saat itu. Kumpulan cerita-cerita menarik seputar kegiatannya di dunia kepustakawanan dituangkan dalam buku. Kiat menulis pun beliau juga ungkapkan. Bahkan cita-cita beliau yang ingin mendirikan sekolah berbasis membaca ingin segera diwujudkan.

[Agung] Sumber: Perpustakaan Unair

Last Updated on Tuesday, 25 August 2015 16:03
 
E-mail

BEDAH BUKU PERPUSTAKAAN SEBAGAI JANTUNG SEKOLAH

BERSAMA YPPI DAN IPI DI MAKASSAR

KS

Minggu 19 Januari 2014. YPPI terbang ke Kota Makassar. Perjalanan yang tidak lama dari Kota Surabaya. Setibanya di bandara yang pernah memiliki nama "Lapangan Terbang Kadieng" pada tahun 1935 ini menyambut kami dengan hangat. Senin 20 Januari 2014 (besok), kami akan membedah buku "Perpustakaan sebagai Jantung Sekolah" (PSJS) bersama Bapak Suherman, MSi, penulis dan sekaligus peraih Medali Emas CONSAL Outstanding Librarian Award 2012.

Bertempat di Gedung Baruga Telkomsel Jl. AP.Pettarani no. 3 Kota Makassar, buku ini akan menceritakan kondisi perpustakaan sekolah saat ini, dan bagaimana solusinya. Tidak hanya itu, pembaca juga akan tahu bagaimana memulai dari mendirikan perpustakaan dari nol dan kegiatan-kegiatan kreatif menghidupkan perpustakaan.

Rangkaian acara dimulai dengan Pengukuhan dan pelantikan Pengurus IPI Prov Sulawesi Selatan. Dan diberikan ceramah ilmiah tentang "Eksistensi Kepustakawanan Indonesia" oleh Bapak H.T. Syamsul Bahri,S.H.,M.Si, ketua IPI Pusat.

Selanjutnya acara bedah buku dimulai dengan pemaparan isi buku oleh Suherman, M.Si yang merupakan alumnus Ilmu Perpustakaan Universitas Padjadjaran. Menurut beliau di dalam pendidikan, Perpustakaan menjadi "jantung" sekolah. Sebagaimana fungsi jantung dalam tubuh, Perpustakaan sangat menentukan sehat tidaknya sistem pendidikan sekolah. Apabila jantung tidak berfungsi, akan mengakibatkan kelumpuhan, dan apabila sekolah tidak memiliki perpustakaan, sama seperti tubuh yang tidak memiliki jantung alias tidak memiliki daya hidup.

Kang Herman, begitu sapaan akrabnya, beliau menyatakan bahwa perpustakaan memiliki peranan yang signifikan untuk mendukung gemar membaca dan meningkatkan literasi informasi, juga untuk mengembangkan siswa supaya dapat belajar secara independen.

Salah satu hasil penelitian literasi di tingkat internasional menyimpulkan dalam sebuah kalimat: Menemukan cara untuk mengajak siswa membaca merupakan suatu jalan yang sangat efektif untuk perubahan sosial.

Luar biasa antusias peserta yang mengikuti acara bedah buku ini, mereka tidak mau kalah untuk membedah buku tersebut dengan cara memborong buku "Perpustakaan sebagai Jantung Sekolah" yang sebagian besar materinya berdasarkan Buku Pedoman Perpustakaan Sekolah yang diterbitkan oleh IFLA (The International Federation of Library Associations).

[Dicki] Sumber: YPPI

Last Updated on Saturday, 06 December 2014 22:02
 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  Next 
  •  End 
  • »


Page 1 of 4

Balai Pustaka

1. Di Bawah Lindungan
2. Siti Nurbaya

Selamat Datang Sahabat ^_^
Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

Kemiskinan

Literasi Sains & Teknologi

Artikel Pilihan


The Inspirational Librarian



Get the Flash Player to see this player.

time2online Joomla Extensions: Simple Video Flash Player Module

Statistik Anggota

  • Total Anggota 1,943
  • Sedang Online 18
  • Anggota Terakhir oyiaivagu

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterTotal9032318
DSCF8768.jpg

Kalender & Agenda

January 2017
S M T W T F S
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31 1 2 3 4

Contoh Proposal

Contoh Proposal

Google+ Facebook Twitter mail SC