.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

E-mail

KECERDASAN LITERASI :

Sebuah Gagasan Awal

Oleh:

Suherman

Di zaman informasi seperti saat ini, hal yang sulit bukanlah mencari informasi, akan tetapi memilih dan mengolahnya sengingga menjadi informasi yang bernilai. Jangan terlalu bangga dengan kuantitas informasi yang dimiliki, bisa jadi itu akan tidak berarti apa-apa atau disfungsional. Dalam skala organisasi, sekarang ini banyak perpustakaan beralih menjadi museum buku dan lembaga repositori menjadi museum informasi. Hal tersebut terjadi karena informasi yang dimiliki tidak termanfaatkan sehingga menjadi idle information. Lebih baik memiliki informasi yang tidak banyak tapi berharga daripada memiliki jutaan informasi tapi tidak berharga. Bukankah lebih baik memiliki segenggam berlian daripada sekarung pasir? Idealnya memang memiliki informasi banyak dan berharga semuanya.

Menguasai informasi merupakan syarat utama untuk menjadi manusia yang berpengetahuan. Akan tetapi banyak informasi belum tentu juga bisa mengakselerasi pemahaman. Bayangkan!, pada tahun 2012 jumlah data dan informasi yang dihasilkan dan direplikasi diperkirakan mencapai lebih dari 2,8 zetabita atau sekitar 2,8 triliun gigabita. Tingkat pertumbuhan data mencapai sembilan kali lipat dalam waktu lima tahun. Angka ini diperkirakan terus meningkat hingga 50 kali lipat pada tahun 2020 (Livikacansera, 2016)

Kita tidak harus mengetahui semua hal tentang sesuatu agar memahaminya. Terkadang terlalu banyak fakta seringkali sama-sama menghambat pemahaman seperti juga terlalu sedikit fakta. Bahkan ada kesan bahwa terlalu dibanjiri oleh informasi sehingga menghancurkan pemahaman. Adler (2011) mengatakan yang dimaksud dengan belajar adalah memahami lebih banyak, bukan mengingat lebih banyak informasi yang tingkat keterpahamannya (intelligibility) sama dengan informasi lain yang sudah Anda miliki. Montaigne berbicara tentang “an abecedarian agnorance that precedes knowledge, and another doctoral ignorance that comes after it.” Yang pertama adalah ketidaktahuan orang-orang yang sama sekali tidak bisa membaca karena buta huruf. Yang kedua adalah ketidaktahuan orang-orang yang banyak membaca buku denga cara yang salah. Mereka, seperti dikatakan Paus Alexander, adalah orang-orang pandir yang banyak membaca buku akan tetapi dengan cara yang bodoh.

Sekarang ini banyak pusat repositori yang terobsesi untuk membangun data yang besar (big data). Tentu saja itu adalah hal yang baik dan positif sepanjang fungsional. Akan tetapi harus dipertimbangkan juga apakah dengan adanya google dan mesin pencari (search engine) lainnya big data yang ada di sebuah lembaga repositori masih diperlukan. Mengapa tidak memanfaatkan fasilitas yang sudah ada saja. Apabila masalah privasi dan eklusivitas masih menjadi pertimbangan, justru akan bertentangan dengan demokratisasi informasi yang apabila dinegasikan akan merugikan diri sendiri.

Supaya tidak terjebak kepada kesia-siaan maka diperlukan keterampilan memilih informasi dan mengelolanya menjadi informasi yang berharaga, yang saya sebut dengan kecerdasan literasi. Bayangkan, setiap hari milyaran informasi diproduksi baik oleh perorangan maupun lembaga, sehingga kita bagaikan berenang di lautan informasi dan mungkin juga menjadi tenggelam di dalamnya. Tanpa kecerdasan informasi alih-alih kita akan mendapat kemudahan malah mungkin akan terlibas dan tertelan gelombang informasi. Kecerdasan literasi ibarat papan selancar yang akan membawa kita mengarungi irama gelombang dari lautan informasi.

Kecerdasan informasi mutlak diperlukan terutama oleh lembaga repositori supaya koleksi informasi yang tersedia dapat disintesiskan, disajikan, dan didesiminasikan menjadi informasi yang aktual dan bernilai. Lebih jauh, dengan kecerdasan informasi, lembaga repositori menjadi lembaga yang antisipatif terhadap perkembangan informasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang akan muncul dan menjadi trend di masa yang akan datang.

Empat Pilar

Lebih dari dua puluh tahun yang lalu seorang futurolog Alvin Toffler mengatakan bahwa sekarang ini adalah dekade gelombang ketiga yaitu gelombang informasi. Pada era ini kegiatan ekonomi akan berbasis kepada pengetahuan atau knowledge based economy, di mana informasi akan menjadi komoditas yang sangat menentukan. President of Microsoft Amerika Latin Herman Rincon bahkan menyamakan data sebagai mata uang baru. Masih menurut Rincon, sekitar 90 persen dari seluruh data yang ada saat ini tercipta hanya dalam waktu dua tahun terakhir. Dari aspek bisnis, nilai pasar global big data diprediksi mencapai 53,4 miliar dolar AS pada tahun 2017.

Seharusnya lembaga yang akan berperan dan tentu saja yang disangka akan mendapat banyak keuntungan adalah perpustakaan dan lembaga repositori. Karena lembag-lembaga inilah yang mengakumulasi pengetahuan dan informasi. Akan tetapi kenyataannya tidaklah demikian. Lembaga-lembaga tersebut tetaplah seperti business as usual, malah semakin hari lembaga ini semakin tergerus peran dan posisinya, bahkan sudah banyak yang mati atau bubar. Hal ini terjadi karena lembaga-lembaga pengetahuan ini hanya mengkoleksi sumber informasi dan pengetahuan bukan mengolohnya menjadi informasi baru yang bernilai. Kebanyakan lembaga repositori yang ada sekarang ini ibarat pasar tradisional yang menyediakan berbagai macam jenis informasi. Dan dengan pasif menunggu pembeli yang datang. Dalam prosesnya, sebagian besar lembaga ini hanya membuat klasifikasi sumber informasi berdasarkan kepada jenis informasi bukan berdasarkan kepada nilai informasinya.

Secara teknis Yanuar Nugroho dan Luis Crouch (2016) memberikan formulasi supaya data dan informasi menjadi fungsional atau berharaga: pertama, gunakan lebih banyak disaggregeted data (data yang dapat dipilah-pilah). Kedua, fokus pada input yang membuahkan hasil kahir positif, berdasarkan bukti, data, ataupun penelitian. Ketiga, mendorong inovasi dan kolaborasi antar berbagai sektor. Keempat, memastikan bahwa masyarakat sipil serta pemerintah pusat dan daerah menggunakan data untuk mengambil keputusan. Empat langkah terknis formulasi tersebut bisa dilakukan apabila dibarengi dengan kecerdasasn literasi yang memadai.

Untuk meraih kecerdasan literasi minimal diperlukan empat pilar utama yang sangat fundamental: pertama, tradisi membaca. Kecerdasan literasi akan dimiliki hanya oleh orang-orang yang memiliki tradisi membaca yang baik. Malah, apabila tradisi membaca sudah terpateri atau sudah menjadi karakter dalam diri seseorang dengan sendirinya pasti orang tersebut memiliki kecerdasal literasi. Tentu saja bukan hanya membaca, akan tetapi dengan sistematika dan perencanaan yang baik. Memiliki banyak informasi kalau tidak fungsional atau tidak saling berkorelasi tidak akan menghasilkan output yang bernilai. Tradisi membaca adalah pilar utama untuk memperoleh kecerdasaran literasi. Jangan bermimpi memiliki kecerdasar literasi tanpa memiliki tradisi membaca yang baik.

Kedua, manajemen pikiran. “Anda adalah apa yang anda pikirkan” kata Carnegie. Artinya pikiran adalah akar dari perilaku manusia. Tindakan atau prilaku seseorang tidak mungkin keluar dari bingkai pikirannya. Oleh karena itu, untuk membangun karakter langkah pertama yang harus dilakukan adalah memperbaiki kualitas pikiran. Dan kualitas pikiran sangat ditentukan oleh kualitas informasi yang masuk ke dalam benak yang kemudian diproses menjadi ide atau gagasan.

Input informasi yang salah otomatis akan mengeluarkan output yang berupa ucapan atau perbuatan yang juga salah. Perilaku seseorang tidak akan keluar dari perintah pikiran, walaupun informasi yang membentuk pikiran kita adalah informasi yang salah. Tidak jarang konflik terjadi karena misinformasi atau mendapatkan informasi yang keliru (hoax) melalui intrik atau isu yang kebenarannya tidak bisa dipertanggung-jawabkan.

Oleh karena itu, biasakanlah diri untuk mengetahui sesuatu sebagaimana ia adanya, secara akurat, dan objektif yang disebut dengan ilmu pengetahuan. Tidak ada sesuatu yang dapat dilakukan secara benar, kecuali jika mempunyai pengetahuan yang benar tentang sesuatu tersebut.

Selain mempunya daya serap yang selektif terhadap informasi, juga harus memiliki kemampuan berpikir secara meluas dengan informasi yang general dan mendalam dengan informasi yang bersifa spesialis. Yang pertama lebih berorientasi pada keluasan cakupannya, sedangkan yang kedua lebih berorientasi pada kedalamannya. Yang pertama berorientasi pada pembentukan wawasan, sedangkan yang kedua lebih berorientasi pada penguasaan detil. Yang pertama memberi efek integralitas, yang kedua memberi efek ketepatan. Idealnya seorang pekerja informasi atau pustakawan memiliki kemahiran dalam menggabungkan kedua metode berpikir tersebut supaya memiliki informasi yang komprehensif, bersifat lintas disiplin, dan generalis dengan penguasaan yang tuntas terhadap satu bidang ilmu sebagai spesialisasinya.

Ketiga, metode analisis informasi. Metode analisis informasi ada dua jenis: kualitatif dengan teknik interpretasi misalnya analisis wacana dan analisis framing, sedangkan metode yang kuantitatif biasanya memakai analisis isi. Metode kualitatif memerlukan keluasan pengetahuan atau referensi (frame of reference) serta kekayaan pengalaaman (field of experience). Sementara metode kuantitatif memerlukan ketepatan perhitungan yang biasanya menggunakan statistik. Tentu saja untuk mendapatakan hasil analisis yang integral perlu memakai pendekatan kedua metode tesebut.

Analisis informasi diperlukan untuk mendaptkan informasi yang lebih mendekati kebenaran dan ketepatan. Karena antara teks dan konteks selalu ada mediasi yang terkadang bisa membuat bias. Kata Barthes (2000) teks terdiri bukan hanya barisan kata-kata yang melepaskan pesan dari pengarangnya, tetapi suatu ruang multidimensi di mana telah dikawinkan dan dipertentangkan beberapa tulisan, tidak ada yang asli darinya. Teks adalah suatu tenunan dari kutipan, berasal dari seribu sumber budaya.

Selain harus memperhatikan pengarangnnya, dalam membaca sebuah karya, Jean Paul Sartre (2000) mengingakan pada kita bahwa teks tidak bisa lepas dari konteksnya. Suatu karya adalah anak kandung zaman. Sebuah buku punya kebenaran mutlak dalam zamannya. Buku muncul dari inter-subjektivitas, ikatan hidup nafsu amarah, kebencian atau cinta antara orang-orang yang menghasilkannya (penulis) dan orang-orang yang menerimanya (pembaca).

Keempat, inovasi. Informasi yang sudah terakumulasi kemudian dipahami dan dicerna secara objektif melalui analisis yang intergral. Informasi yang telah diurai melalui pisau analisis tersebut kemudian dibangun dan diintegrasikan atau menghubngkan bagian-bagian yang terpisah dari peristiwa atau kenyataan menjadi kesatuan yang terkorelasi secara utuh. Maka dari situlah akan melahirkan informasi atau gagasan baru yang merupakan tambahan atas informasi atau pikiran yang semula sudah ada. Itulah inovasi informasi.

Kecerdasan literasi dapat memperlancar dalam pengelolalaan pengetahuan yang pada akhirnya bisa berkontribusi untuk memperlancar pembelajaran organisasi. Pengelolaan pengetahuan adalah perihal bisnis keilmuan. Gagal mengelola pengetahuan akan menjadikan bisnis keilmuan mengalami kebangkrutan substantif. Jika ini terjadi, peradaban sebuah bangsa akan sulit menjauh dari titik nadir. Sebab, menurut Kidwell, Lide, dan Johnsson “mengelola pengetahuan pada prinsipnya adalah mengubah informasi dan aset intelektual ke dalam nilai abadi” (Muzakki, 2016). Oleh karena itu, tidak berlebihan jika kecerdasan literasi merupakan keniscayaan baik bagi individu maupaun organisasi, terutama institusi informasi.

Dengan waktu yang terbatas tidak mungkin untuk mengikuti atau membaca informasi yang tersedia. Akan tetapi dengan memiliki kecerdasan literasi kita bisa mendapatkan informasi yang mememadai. Dengan kecerdasana literasi pula, dalam konteks organisasi, sebuah perpustakaan atau pusat repositori akan mudah dalam melakukan menajemen informasi. Informasi yang masuk melalui kegiatan akusisi diproses berasarkan nalar yang kritis dan objek kemudan direkonstruksi dan akhirnya melahirkan luaran (output) berupa informasi baru yang inovatif dan bernilai.

Sepertinya hanya dengan kecedasan literasi inilah pusat informasi, perpustakaan, dan lain-lain institusi informasi akan terhindar dari kematiannya digilas oleh kemajuan teknologi informasi yang semakin akseleratif dan massif.

 
E-mail

Dari Literasi Ke Revolusi

Basinet (helm militer) bisa melindungi kepala dari peluru. Tapi tidak akan ada alat pelindung kepala secanggih apapun yang bisa melindungi dari tembakan sepotong kata. Atau meminjam kata-kata Sayid Quthub, seorang aktivis Ikhwanul Muslimin yang menjadi martir digantung karena tulisan-tulisannya, “satu peluru hanya bisa menembus satu kepala, tapi satu tulisan bisa menembus ribuan bahkan jutaan kepala."

Kata bisa diucapkan dan didengar (orality) dan juga dilihat atau dibaca (literacy) yang melahirkan pengetahuan, dan ternyata benar apa yang dikatakan oleh Francis Bacon bahwa pengetahuan adalah kekutan (knowledge is power). Bahkan kalau kita renungkan kekuatan para Nabi dan Rasul mereka hanya berbekal Literasi (berupa firman Allah), untuk melakukan perubahan atau revolusi. Bukankah perintah pertama untuk membangun peradaban mulia adalah dengan perintah untuk membaca (Iqro!) ?

Karena kata-katalah yang dapat membangun kesadaran yang akhirnya akan menggerakan tangan untuk menenteng senapan dan kaki untuk berlari menyongsong tank dan rudal. Betapa dalamnya ucapan Rendra, “perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.”

Di belahan bumi manapun dan dipotongan zaman sejarah kapanpun, orang-orang literate (intelektual, intelegensia, cendekiawan) adalah yang selalu menjadi lokomotif perubahan atau pemimpin revolusi. Dan sebaliknya, tahta bisa bertahan bahkan menghegemoni juga karena ditopang oleh pengetahuan. Baik tahta yang membawa sejahtera maupun tahta yang menipakan angkara. Fira’un, sebagai representasi dari diktator yang tidak tertandingi, menopang rezimnya selain dengan senjata (kekutan militer) juga dengan pengetahuan. Dia sendiri adalah seorang literate yang bibliomania (hobi mengupulkan “buku) yang memiliki lebih dari 20.000 “buku.”

Bila kita menengok sejarah pra-Indonesia maka itulah juga yang terjadi. Saya sendiri mengagumi tokoh Ken Arok (abad ke-12) yang kontroversial namun inspiratif. Ken Arok adalah seorang pribadi yang literate. Beliau membangun kekuasaan dengan cara merangkak dari bawah. Ambisi untuk menduduki tahta Tumapel direncanakan dengan sangat apik. Akan tetapi langkah pertama yang dilakukan Ken Arok adalah melakukan revolusi mental atas dirinya sendiri. Arok tahu betul bahwa untuk merebut kekuasaan tidak cukup hanya dengan mengandalkan kekuatan militer, akan tetapi harus didahului dengan penguasaan atas ilmu pengetahuan. Dengan semangat revolusioner kemudian Arok membacai ribuan lembaran lontar yang berisi berbagai ilmu pengetahuan pada zamannya. Akhirnya seorang yang bukan siapa-siapa dari kasta Sudra kemudian naik menjadi Ksatria dan akhirnya menjadi seorang Brahmana yang dipercaya untuk memimpin revolusi (kudeta pertama di tanah Jawa) terhadap singgasana Tunggul Ametung.

Revolusi Indonesia pun terjadi gara-gara literasi. Poltik etis yang dijadikan kebijakan politik kolonial Belanda bisa dikatakan menjadi percikan api yang menerangi kesadaran yang akhirnya api itu membesar dan dapat membakar tatanan kolonialisme. Senjata makan tuan. Pada awalnya politik etis diintroduksi oleh kubu demokrat selain untuk pencitraan juga untuk rekrutmen tenaga administratif birokrasi kolonial dari kalangan pribumi. Kesempatan ini, melalu sekolah-sekolah yang awalnya didirikan oleh Belanda, dijadikan jembatan emas baik untuk melakukan mobilisasi vertikal dengan menduduki jabatan birokrasi maupun mobilisasi horizonatal untuk mendidik masyarakat. Yang pada awalnya pendidikan diberikan kepada kaum pribumi hanya untuk memenuhi kekurangan tenaga administratif kolonial Belanda, ternyata malah dijadikan senjata yang ampuh oleh kaum pribumi untuk membunuh kedurjanaan kolonialisme.

Senjata literasi ini telah menyulut obor api kesadaran yang membakar kejumudan masyarakat pribumi dan menerangi gelapnya realitas kolonial yang menyengsarakan. Literasi telah menimbulkan perasaan untuk mencintai bangsa dan negara sendiri yang disebut dengan nasionalisme. Pelopor dan penggerak gerakan literasi adalah golongan intelegensia yang kemudian hari banyak menjadi pahlawan bangsa. Mereka membawa ilmu pengetahuan, yang diperoleh dari kegiatan literasi (membaca) kepada masyarakat agar mereka sadar akan realitas penindasan yang dilakukan oleh kolonial Belanda.

Akhirnya pijar api kesadaran tentang pentingnya kebebasan telah menerangi akal pikiran masyarakat secara massif dan simultan, maka tembullah kebernian untuk melepaskan diri dari cengkaraman kuku biadab penjajah. Kesadaran ini awalnya hanya sebuah riak kemudian menjadi ombak dan akhirnya menjadi gelombang dahsyat yang tidak ada kekautan lagi untuk membendungnya. Maka terjadilah revolusi untuk merebut kebebasan dan harga diri.

Revolusi tidak akan terjadi manakala tidak ada ide revolusi. Dan ide itu muncul dari banyaknya informasi yang masuk ke dalam memori yang instrumen utamanya adalah membaca. Bagi kolonial dan penguasa diktator budaya literasi atau masyarakat literate adalah ancaman bagi kekuasaannya. Maka tidak heran apabila Hitler mengatakan, “bahagialah seorang penguasa yang memiliki rakyat yang bodoh.”

Kini kolonialisme tidak lagi melalui senjata akan tetapi dilakukan melalui cara yang sangat halus (soft colonialism) terutama melalui pendidikan, ekonomi, dan kebudayaan. Saking halusnya banyak yang tidak sadar bahwa kita tengah dijajah dan diperkosa secara ekonomi dan kebudayaan. Sedihnya sebagian merasa bangga dijajah bahkan mengundang penjajah dan memuluiakannya seolah mereka adalah para mesias yang akan membawa kita ke keadaan yang lebih makmur dan sejahtera.

Watak dan semangat kolonialisme sampai kapan pun tetap sama yaitu mengekploitasi bangsa melalui akal bulus “bantuan” dalam bidang ekonomi (utang), politik, pendidikan, dan kebudayaan. Kalau dulu disebut daerah jajajahan atau koloni maka sekarang berupa pasar untuk menjual produk kebudayaan mereka. Mereka masuk ke Indonesia melalui agen atau komprador yang telah mereka didik, atau lebih tepanya “dicuci otaknya” dengan pengetahuan yang mendewa-dewakan kemajuan mereka. Para komprador ini, yang terdiri dari kaum intelektual dan pejabat yang nirnasionalisme, membawa Indonesia untuk berkiblat kepada negara mereka. Maka kita lihat hasilnya hari ini pendidikan kita tidak membumi, gagal untuk mengindonesiakan dan memanusiakan rakyat Indonesia. Pendidikan telah berhasil memalinkundangkan generasi muda yang durhaka terhadap ibu pertiwinya. Secara ekonomi, akhirnya banyak rakyat yang bukan saja menjadi “koeli di negeri sendiri“ seperti kata Soekarno malah banyak yang menjadi “gelandangan di kampung sendiri” sebagaimana ditangisi Cak Nun.

Sejarah akan terus berualang, maka untuk mengembalikan kedaulatan, kemandirian, dan kembali kepada jati diri bangsa adalah juga dengan revolusi melalui gerakan literasi. Massa harus dibekali dengan kemahiran literasi informasi supaya pandai menganalisis informasi yang menipu dan memperdayakan. Literasi informasi adalah sebuah senjata supaya massa sadar tentang realitas yang sebenarnya. Dengan kesadaran ini maka kita akan sama-sama bangkit melakukan sebuah revolusi gerakan perlawanan untuk kembali kepada diri sendiri. Gerakan literasi mengemban amanah suci dari Pembukaan UUD 45 yang berbunyi “maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan” Merdeka! (Suherman)

 
E-mail

Bukan Literasi Benar Menusuk Kalbu

Oleh:

Suherman

Alhamdulillah literasi akhirnya mendapatkan tempat di ruang publik dan negara pun, yang awalnya terkesan acuh tak acuh, mulai meliriknya. Bukan hanya bidang pendidikan yang mulai mengitegrasikannya kedalam kurikulum, akan tetapi bidang lain pun seperti politik (literasi poltik), finansial (litrasi finansial) , termasuk masalah sosial (biblioterapi) sedang melakukan elaborasi . Dua dasawarsa yang lalu masalah literasi kurang dipedulikan mungkin karena istilah ini belum populer (sampai saat ini kata “literasi” belum ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia). Setelah banyak bukti bahwa budaya literasi ternyata sangat vital dalam proses pembangunan maka mulailah ramai dibahas. Dan untuk menutupi rasa bersalah ini banyak yang menyalahan budaya lisan. Budaya lisan tepatnya kelisanan (orality) dijadikan sebagai tersangkan, untung belum terdakawa, sebagai penghambat tumbuhnya budaya literasi di tanah air. Saya sendiri meragukan adanya budaya lisan ini, karena yang namanya lisan bukanlah hasil budaya akan tetapi sudah ada dari sono-nya (taken for granted). Bukan hasil dari kebudayaan manusia seperti keaksaraan atau literasi (literacy) yang diawali dari ditemukannya tulisan. Kelisanan sama seperti melihat dan mendengar bahkan mugkin juga sama seperti bersin, batuk, dan kentut semuanya berada di luar kuasa rekayasa manusia.

Dalam tulisan ini saya akan membahas hubungan antara literasi dengan masalah kekerasan. Kedua masalah ini sedang menjadi trending topic dalam pertarungan wacana di tanah air. Baik untuk pengembangan kebudayaan maupun hanya sekedar untuk keperluan branding dalam pertarungan politik yang masih jauh dari demokrasi ini.

Kekerasan ada di setiap tempat dan waktu. Sejak manusia diciptakan sampai nanti kiamat akan tetap ada. Sejarah adalah cerita tentang kekerasan. Kekerasan tidak mengenal suku bangsa, semua ras manusia melakukannya. Kekeran tidak mengenal status sosial, dilakukan oleh sorang raja maupaun rakyat jelata, orang kaya atau orang miskin. Dan kekeras tidak mengenal tingkat pendidikan, dilakukan oleh profesor maupun orang-orang rombengan dari bumi yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Kekerasan dilakukan oleh si pintar dan si bodoh. Kekerasan bisa dilakukan oleh siapa saja baik perorangan maupun secara kolektif terorganisasi bahkan oleh negara. Kekerasan bisa berbentuk ideologi, ekonomi, politik, maupun kebudayaan. Oleh karena itu kekerasan hanya bisa dihilangkan atau diminimalisasi hanya dengan antitesisnya yaitu moral.

Belakangan ini ada beberapa penelitian mengenai hubungan antara budaya literasi dengan tindakan kekerasan. Dengan sebuah asumsi atau hipotesis bahwa semakin tinggi budaya literasi di sebuah masyarakat maka akan mengurangi tindakan kekerasan pada masyarakat itu, dan sebaliknya. Misalnya ada yang meneliti hubungan ini di sekolah dasar dengan kesimpulan bahwa semakin banyak seorang siswa membaca ternyata akan mengurangi bahkan menghilangkan perilaku suka bulying. Atau kita sering menyodorkan kisah nyata dari buku atau film Freedom Writers yang menceritakan tentang keberhasilan seorang guru dalam mengelola kelas dengan murid yang super bengal malah sampai kriminal menjadi kelas yang penuh tolerasi, solidatiras, dan prestatif. Untuk menaklukan kelas itu sang guru hanya menggunakan dua senjata yaitu kisah dan buku. Satu lagi tentang Malcolm X, seorang berandalan putus sekolah yang berhasil menjadi cendkiawan—dan akhirnya menjadi seorang politisi bahkan dianggap sebagai pahlawan—di dalam penjara karena keranjingan membaca.

Dengan cerita-cerita seperti di atas lantas kita menyimpulkan bahwa budaya literasi bisa dijadikan sebagai penangkal kekerasan. Akan tetapi menurut saya belum tentu, karena dalam sejarah pun banyak cerita yang justru menjadi antagonisnya. Coba baca buku biografi Karl Marx, Stalin, Mao Zedung, dan Hitler. Para diktator tersebut adalah orang-orang yang literate atau kecanduan membaca buku, malah Marx, sang hantu komunisme inernasional ini, dijuluki sebagai bibliomania atau orang yang tergila-gila dengan buku. Akan tetapi mereka semua adalah jagal manusia dan kemanusiaan yang sangat bengis dalam sejarah peradaban. Orang-orang intlektual yang anti intelektual, dan dalam mencapai tujuan politiknya memakai cara kekerasan yang paling biadab dalam sejarah. Sama biadabnya dengan Jengis Khan yang tidak pernah baca buku. Di ujung jari mereka jutaan manusia mati dengan tragis. Dalam genggaman orang-orang pintar yang tidak bermoral kemahiran literasi justru menjadi mesin kekerasan bahkan mesin pembunuh yang paling berbahaya.

Jangan dikira bahwa orang yang banyak pengetahuannya tidak akan berbuat kekerasan, yang berbeda adalah hanya jenis kekerasannya. Kelas elit beda pendapat, kelas menengah konflik, dan orang yang rendah pengetahuannya bisanya tawuran. Orang tidak berpengethuan mencuri dengan cara merampok atau membegal dengan senjata, orang berpengetahuan mencuri dengan cara korupsi pake ballpoint. Seorang begal hanya membunuh dengan korban berjumlah hitungan jari, tapi seorang intelektual dengan buah pikirannya bisa membunuh sampai jutaan orang.

Kemahiran literasi bukanlah obat mujarab untuk mengobati penyakit masyarakat, kerawanan sosial, atau penolak bala kekerasan. Literasi hanyalah sebuah cara atau alat (tool) untuk mendapatkan informasi atau pengetahuan. Literasi seperti sebuah pisau bisa digunakan untuk menyembelih ayam atau menggorok leher manusia. Oleh karena itu yang harus sangat diperhtikan adalah pesan atau isi dari bacaan. Makanya tidak hanya sekedar membaca akan tetapi harus iqro bismi robbikal lazi khalaq, membaca dengan selalu menyebut atau menyertakan nama Tuhanmu yang menciptakan. Jangan sampai melupakan eksistensi Tuhan atau demensi moral dalam kegiatan membaca.

Literasi bermakna bagaimana seseorang mahir dalam menganalisis informasi. Dari berbagai penelitian dan pendaptan para pakar ada indikasi bahwa siswa Indonesia tidak terbiasa menganalisis informasi. Fenomena hoax yang ramai sekeranga ini adalah cermin bahwa masyarakat Indonesia belum bisa membedakan mana informasi yang yang benar dan yang palsu sehingga mudah ditipu atau diperdaya. Oleh karena itu untuk mengeliminasi informasi hoax pemerintah tidak usah repot mengawasi media sosial dan melarang banyak situs. Jadikan saja masyarakat indonesia menjadi masyarakat yang literate atau pandai menganalisis informasi melalui lembaga-lembaga pendidikan.

Manusia adalah apa yang dia baca atau pikirkan. Oleh karena itu sangat berbahaya apabila tidak hati-hati dalam menerima informasi. Harus ada tabayun (analisis informasi) karena dari informasi yang diterima inilah sebuah keputusan atau kebijakan akan diambil. Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepada orang fasik membawa suatu berita (informasi), maka periksalah dengan teliti (tabayun = analisis informasi ) agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum (audiens) tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu (al-Hujurat: 6).

Untuk membuat analisis informasi yang benar memerlukan metode tersendiri yang harus memperhatikan berbagai variabel. Misalnya yang paling sederhana adalah formulasi komunikasi yang dibuat oleh Harold D. Laswell: who, say what, to whom, what chanel, and with what effect. Bila dirinci bisa menghasilkan satu variabel satu judul buku. Siapa (komunikator), berkata apa (pesan), kepada siapa (khalayak), menggunakan media apa, dan kira-kira apa yang dinginkan komunikator (efek).

Apabila kita membaca buku pernahkah kita menganalsis secara detil tentang penulisnya. Atau dalam sebuah karya ilmiah pernahkan sumber rujukannya dipermasalhkan identitas, kapabilitas, dan integritasnya. Biasanya dalam sebuah karya ilmiah yang penting disebutkan sumber rujukannya tidak peduli dengan keberadaan pengaragangnya. Ada seorang teman yang psikolog bahkan mengaku psikolog muslim yang mengagumi teori psikoanalisis dan merasa bangga bila mengutip nama Sigmund Freud yang membuat teorinya. Dia tidak pernah tahu siapa sebenarnya Freud ini. Ternyata menurut Zilboorg, sepanjang hidupnya Freud dihantui oleh death anxiety, pesimisme, dan memiliki sikap penyedih yang mencerminkan depressive neurosis. Lha, dengan demikian banyak ahli ilmu jiwa belajar dari orang yang sakit jiwa. Apakah ini tidak lebih gila dari orang gila? Bandingkan misalnya dengan proses penentuan kebenaran atau keotentikan sebuah hadits. Penyampainya (perawi) harus dinilai secara ketat identitas, kapabilitas dan integritasnya. Kalau ada caca moral sedikit saja maka tidak akan diterima. Jangankan menipu orang, menipu binatang saja pendapatnya tidang dipercaya.

Kata Bung Hatta buku akan membentuk karakter bangsa. Oleh karenanya menentukan buku apa yang akan dibaca sangatlah penting. Pesan yang tertulis dalam sebuah buku tidaklah bebas nilai, pasti bermuatan idelogi dari penulisnya. Melakukan akuisisi bahan pustaka pada era liberal seperti sekarang ini bukanlah pekerjaan yang ringan. Semua pengarang baik yang bermolah maupun tidak bebas mengekspresikan pendapatnya melalui buku. Apalagi orientasi negara yang semakin kapitalis sangat mempangaruhi pasar yang tidak lagi memperhatikan dimensi moral, pertimbangannya hanya profit bukan lagi “profet.” Misalnya sekarang ini masyarakat sangat mudah untuk membaca atau membeli buku-buku sastra selangkangan atau sastra lendir. Malah buku-buku tersebut menjadi best-seller nasional padahal buku-buku tersebut secara tidak langsung akan memicu terjadi seks bebas dan kekerasan seksual. Menurut para ahli neurologi, fornografi akan merusak syaraf dan jauh lebih berbahaya dari pada narkoba. Pantas bila Imam Asyafi’i berkata “ hari ini setengah hafalanku hilang karena melihat aurat.” Padahal yang dilihat hanya betis perempuan bukan alat vital. Buku-buku berbau fornogarafi tidak ada manfaatnya sedikit pun bagi kehidupan malah buku sastra jahiliyah semacam itu akan menimbulkan pembusukan kebudayaan. Tapi tidak ada tindakan apa-apa dari negara, sangat beda dengan penangan kasus narkoba atau teroris, sekali lagi padahalan dampaknya sama-sama bebahaya terutama bagi genrasi muda.

Knowledge is power kata Francis Bacon, pengetahuan adalah kekautan atau kekuasaan. Kata-ka kata populer yang meliki makna yang hampir sama ducapakan oleh Rene Descarte cogito ergo sum ( aku berpikir maka aku ada). Atau yan paling eksplisit adalah pepatah Latin lego ergo scio (aku membaca maka aku tahu) Jauh sebelum Bacon dan Descartes, Nabi Muhammad bersabda apabila ingin mengusasi dunia dan akherat maka kuasailah ilmu, oleh karena itu mencari ilmu wajib hukumnya. Bahkan Firman pertama yang diturunkan adalah ayat literasi, perintah membaca, maka membaca pun sebuah perintah yang mestinya wajib hukumnya. orang yang banyak pengetahuannya akan menjadi orang kuat atau berkuasa tentsu saja secara intlektual bukan secara fisik. Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan mereka yang beroleh ilmu pengetahuan (Al-Mujadalah 11). Derajat seseorang sebanding dengan kedalam ilmu yang ada dalam dirinya. Apabila seseorang hanya mempelajari aspek teknis maka ia akan menjadi seorang teknisi; apabila yang dimiliki banyak informasi maka ia akan menjadi seorang manajer; apabila informasi itu diolah menjadi pengetahuan maka ia akan menjadi seorang pemimpin, dan apabila kedalaman pengetahuan yang dimilikanya mencapai kebenaran filosifis atau hikmah maka ia akan menjadi seorang master (guru) atau begawan. Salah satu cara untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang paling “gampang’ dan populer adalah dengan membaca buku.

Baik sabda Nabi maupun ucapan Bacon ternyata terbukti kebenaranya di dalam sejarah peradaban manusia, baik dalam taraf individu maupun skala negara. Coba kita perhatikan, bangsa yang maju secara teknologi adalah bangsa yang budaya literasinya tinggi. Sebaliknya, bangsa yang budaya literasinya rendah akan tertinggal. Akan tetapi bagaimana dengan Yunani yang bebrapa tahun yang lalu nyaris saja mengalami kebangkrutan? Padahal Yunani adalah sebuah negara tempat dilahrikannya banyak filosof dunia. Malah Yunani sempat menjadi pusat peradaban dunia. Menurut saya hal itu terjadi karena orientasi literasi Yunani kepada humaniora bukan teknologi. Filsafat berkembang akan tetapi teknologi atau ilmu praktis material ditinggalkan. Sedangkan negara-negara seperti Amerika, Jerman, Jepang, dan China adalah mereka yang mengembangkan ilmu rekasaya material. Bahkan sempat ramai bahwa Jepang akan menghapus ilmu-ilmu humaniora dari pendidikan tingginya karena dianggap tidak berguna dalam kemajuan pembangunan. Dari kasus ini sekali lagi kita melihat bahwa bukan masalah budaya literasi semata yang menjadi pendorong kemajuan akan tetapi isi atau pesan dari materi bacaan itu sangatlah menentukan.

 
E-mail

Babad Padjadjaran Menjadi

Memory of the World ?

 

Setelah Negara Kertagama, La Galigo, dan Babad Diponegoro resmi terdaftar di Memory  of the World (MOW), rasanya sudah  saatnya Babad Padjadjaran menyusul  menjadi nominasi berikutnya.  Bukan karena tuturut munding (ikut-ikutan) akan tetapi warisan budaya literatur asal Jawa Barat ini  adalah kekayaan khazanah budaya nasional yang sangat pantas untuk diketahui  warga dunia.

MOW adalah salah satu program dari UNESCO yang didirikan pada tahun 1992. Program ini  bertujuan untuk melakukan preservasi warisan literasi dunia yang rusak akibat perang atau pergolakan sosial dan melindungi naskah dari pencurian atau penjarahan. Filosofi dari program ini adalah dokumen (warisan literasi) dunia merupakan milik semua dan harus dapat diakses oleh semua.  MOW  membantu akses universal  ke documentary heritage dan juga turut meningkatkan kesadaran dunia tentang keberadaan dan signifikansi documentary heritage.

Ada beberapa hal yang melatari kepantasan Babad Padjadjaran menjadi MOW  tersebut. Pertama, secara substantif Babad Padjadjaran bercerita tentang Kerajaan Padjadjaran yang merupakan kerajaan terbesar di Tatar Sunda. Kedua, Babad Padjadjaran memiliki naskah yang lengkap sehingga secara administratif akan memudahkan pendaftarannya  menjadi MOW. Ketiga,  ini adalah salah satu langkah strategis untuk ngamumule (revivalisasi dan revitalisasi) nilai-nilai luhur  atau kearifan  budaya  Ki Sunda.

Upaya ngamumule sudah lama dilakukan oleh para inohong (tokoh) dengan berbagai pendekatan di antaranya: pertama, pendekatan institusional  misalnya dengan didirikannya Puseur Budaya Sunda dan  Pusat Studi Sunda. Kedua, pendekatan konsitutusional yaitu dengan peraturan daerah atau peraturan kepala daerah tentang berpakaian adat Sunda di hari-hari tertentu atau acara-acara tertentu serta Bahasa Sunda dimasukkan kedalam kurikulum sekolah. Ketiga, pendekatan kultural yang dilakukan dengan cara mengadakan berbagai macam kegiatan misalnya, pasang giri, lomba membaca pupuh, dan lain-lain.

Gerakatan ngamumule melalui MOW adalah juga  bisa menjadikan upaya untuk menghadang budaya bangsa deungeun (Barat dan Utara) yang telah lama meminggirkan bahkan mengubur  sebagian budaya adiluhung Sunda sehingga jati diri bangsa juga ikut hancur (jati kasulih ku junti). Diam-diam banyak masyarakat yang merindukan untuk berjumpa kembali  dengan kearifan lokal  Ki Sunda. Sebagai contoh, anjuran dari pemerintah daerah untuk mengenakan  pakaian khas Sunda (teruma totopong/iket dan pangsi)  disambut antusias oleh masyarakat.


Padjadjaran Center

Tentu saja upaya ngamumule tidak hanya cukup dengan mendaftarkan  menjadi MOW saja.  UNESCO hanya memfasilitasi  pelestarian saja sedangkan  supaya babad ini memiliki nilai tambah, itu sangat tergantung kepada kita semua. Untuk itulah maka  langkah berikutnya adalah  bagaimana babad ini bisa dioptimalisasi atau dikapitalisasi sehingga manfaatnya bisa dirasakan oleh semua orang.  Dalam hal ini penulis megusulkan didirikannya Padjadjaran Center (Puseur Padjadjaran).

Padjadjaran Center dibuat untuk tujuan merekonstruksi  Kerajaan Padjadjaran terutama dalam perspektif literasi. Tentu saja alangkah akan lebih baik apabila bisa direkonstruksi  secara arsitektural dalam bentuk maket atau diorama misalnya.

Ada  beberapa keuntungan apabila pendirian Padjadjaran Center ini bisa terlaksana, di antaranya: Pertama, Padjadjaran Center akan menjadi landmark baru Jawa Barat  sehingga Jawa Barat akan semakin dikenal di tingkat nasional, regional, dan bahkan di mata dunia. Kedua, Jawa Barat menjadi destinasi wisata literasi internasional, bukan hanya terkenal dengan keindahan alam dan kulinernya tetapi juga  memiliki adikarya berupa documentary heritage.  Para wisatawan dapat mengenal kearifan lokal Jawa Barat dari segi sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan. Ketiga, menjadi inspirasi budaya dan ekonomi kreatif sehinga akan menciptakan  lapangan kerja baru terutama dalam sektor industri kreatif,  jasa, dan hiburan. Misalnya,  apabila Padjadjaran Center ini sudah menjadi destinasi wisata literasi maka semua yang bersangkutan dengan budaya Sunda  dapat dikapitalisasi, mulai dari pembuatan merchandise, kuliner, fashion, kursus  bahasa Sunda singkat untuk turis mancanegara, dan lain-lain sampai pementasan seni (termasuk drama dan film)  kolosal yang bertemakan Kerajaan Padjadjaran. Keempat,  Jawa Barat, dalam hal ini Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (BAPUSIPDA)  akan  menjadi model  untuk Indonesia bahkan untuk dunia bagaimana cara melakukan optimalisasi dan kapitalisasi literasi warisan budaya. Kelima, secara tidak langsung  masyarakat disadarkan tentang pentingnya membaca dan arsip dalam kehidupan.

Tentu saja perlu dukungan dan urun rembuk dari banyak pihak untuk mewujudkan cita-cita di atas. Dukungan moral dari para inohong, dukungan konseptual dari para akademisi, dan dukungan finansial dari para pengusaha sukses dan pemerintah daerah. Juga yang paling penting adalah adanya political will dari Gubernur Provinsi Jawa Barat.

Secara teknis perlu beberapa langkah untuk memajukan Babad Padjadjaran menjadi MOW, namun sebelum langkah adminsitratif  ditempuh yang sangat penting adalah diadakannya musyawarah dari para pemangku kepentingan (inohong, akademisi, pengusaha, dan pemerintah) untuk menguji kelayakan babad (Suherman)


Last Updated on Tuesday, 31 January 2017 13:32
 
E-mail

Tradisi Literasi Diponegoro

Setelah menunggu lima tahun, UNESCO akhirnya pada tanggal 20 Juni 2013 memberi pengakuan International Memory of the World (MOW) Register untuk naskah Babad Diponegoro. Naskah ini merupakan   otobiografi atau perjalanan hidup Pangeran Diponegoro yang ditulis selama masa pengasinggannya di Manado, Sulawesi Utara, Mei 1831 hingga Februari 1832 (Kompas, 21 Juni 2013).

Babad Diponegoro menjadi naskah utama penulisan biografi Diponegoro oleh Peter Carey dengan judul Power of Prohecy yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia menjadi Kuasa Ramalan (diterbitan oleh KPG tahun 2012). Dari karya Carey inilah saya dapat mengetahui sosok Sang Pangeran.

Sebagai bangsa Indonesia,  kita patut berterima kasih dan memberikan penghargaan kepada Peter Carey atas kesabaran dan keuletannya  selama 40 tahun mendalami sosok Diponegoro. Satu lagi karya bergengsi tentang pahlawan besar nasional yang ditulis oleh orang asing. Sebelumnya telah terbit juga misalnya Tan Malaka, Pergulatan Menuju Republik karya Harry A. Poeze, seorang sejarawan Belanda, yang juga mendalami Tan Malak selama lebih dari 40 tahun. Bisakah kita, bangsa Indonesia, memilki keuletan sebagaimana Carey dan Poeze? Soekaro Penyambung Lidah Rakyat oleh Cindy Adam  dan Soekarno oleh Bernard Dahm. Biografi Gus Dur ditulisa oleh Greg Barton.   Rasanya malu juga mengenal para  pahlawan dan orang besar bangsa sendiri dari bangsa lain

Dari hasil membaca Kuasa Ramalan,  ada sisi kehidupan Sang Pangeran yang menarik perhatian saya sebagai seorang pustakawan yaitu kebiasaan membacanya. Ternyata Diponegoro adalah seorang otodidak dan kutu buku yang memiliki kegemaran mempelajari sejarah.  Apa yang saya tulis dalam buku saya, Mereka Besar Karena Membaca ( Bandung: Literate Publishing, 2012), “pahlawan tanpa tanda jasa mungkin saja ada, tapi pahlawan tanpa tanda baca akan sulit mencari figurnya dalam sejarah”,  mendapat bukti baru dari buku Kuasa Ramalan ini.

Diponegoro sangat bersemangat mempelajari, dengan cara membaca,  kerajaan-kerajaan yang pernah jaya di nusantara terutama sangat mengagumi sosok  Sultan Agung Raja Mataram yang dianggapnya berhasil dalam memadukan antara alam dunia dan akherat.  Kegemaran lainnya adalah membaca tentang mitologi terutama tentang pewayangan yang juga menjadi rujukan etika dan etiket kehidupan penduduk pada zamannya. Tidak ketinggalan, dia juga mempelajari dengan serius legenda Ratu Laut Selatan atau Kanjeng Ratu Kidul, tokoh legenda yang sangat populer di kalangan masyarakat penghuni Pulau Jawa dan Bali. Legenda mengenai penguasa mistik pantai selatan mencapai tingkat tertinggi pada keyakinan yang dikenal di kalangan penguasa kraton dinasti Mataram Islam (Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta) bahwa penguasa pantai selatan, Kanjeng Ratu Kidul, merupakan "istri spiritual" bagi raja-raja di kedua kraton tersebut.

Semua informasi,  baik mitos, legenda,  maupun ilmu pengetahuan dan fakta sejarah, diramu oleh Sang Pangeran menjadi justifikasi terhadap peran yang akan diembannya dikemudian hari—sesuai dengan ramalan yang telah dibuat oleh dirinya sendiri—sebagai raja Jawa.

Menurut Carey, dibanding dengan perkembangan sebagian besar anak-anak keluarga bangsawan Jawa pada masa itu, pertumbuhan intelektual dan spiritual Diponegro bisa dikatan sangat luar biasa pesatnya. Dia adalah seorang otodidak yang bersemangat. Tidak pernah mengalami pendidikan formal seperti di bangku sekolah. Dia belajar berbagai macam keilmuan dari ulama yang pernah datang ke Yogyakarta.  Diponegoro memperdalam beragam keilmuan dengan cara membaca berbagai ragam sumber bacaan. Di antara kesastraan Islam yang disukainya terdapat Kitab Tuhfah, yang berisi falsafah sufi tentang ajaran “martabat tujuh” yang sangat disukai oleh orang Jawa tatkala merenungkan Allah, dunia, dan kedudukan manusia di dalamnya.

Diponegoro juga sangat akrab dengan karya-karya teologi dan mistik Islam seperti ‘usul dan tasawuf, sebagaimana halnya dengan puisi-puisi mistik Jawa seperti suluk. Sejarah nabi-nabi dan tafsir Alquran. Karya-karya berisi ajaran keteladanan di bidang filsafat politik Islam seperti Sirat as-salatin dan Taj- as-salatin. Malah yang terakhir ia mewajibkan kepada adiknya supaya dibaca ketika ia sedang menyelesaikan pendidikannya di keraton.  Bidang lain yang mendapat perhatian khusunya adalah hukum amaliah atau fikih Islam: Taqrib, Lubab al-fiqh, Muharrar, dan Taqarrub (tafsir Taqrib) semua kitab tersebut sangat dikenalnya, dan dengan rasa bangga ia selalu menyebut kitab-kitab koleksi pribadinya yaitu  kitab tentang fikih Islam-Jawa yang dirawat oleh seorang sahabtnya di Yogyakarta selama berkecamuknya Perang Jawa.

Selain naskah-naskah Islam-Jawa, Dipenogoro juga mempelajari karya-karya kesastraan Jawa yang sifatnya lebih moralis. Di dalamnya termasuk cerita-certia adiluhung tentang hal-ihwal kerjaan dan kenegaraan hasil saduran kisah-kisah klasik Persia dan Arab seperti Fatah al-Muluk (Kejayaan Para Raja), Hakik al-Modin, dan Nasihat al-Muluk (Nasihat bagi Raja), juga kisah-kisah klasik  Jawa Kuno versi  Jawa Baru seperti Serat Rama, Bhoma Kawya, Arjunawijaya, Arjunawiwaha, dan dia juga  akrab dengan kisah-kisah wayang Jawa Baru.

Diponegro juga pernah minta kepada pemerintah kolonialagar disalinkan keseluruhan naskah-naskah wayang purwa hingga ke Bratayuda. Naskah lain yang diminta oleh Diponegro pada masa pengasingannya di Makassar mencakup kisah-kisah kepahlawanan Islam terkenal, Menak Amir Hamza, Asmoro Supi, suatu kisa percintaan yang berkaitan dengan cerita-cerita Menak, Serat Manikmoyo, suatu naskah tentang kosmologi atau kisah asal-usul alam semesta yang berasal dari kurun mistik Islam di Kartasura yang berkaitan dengan dongeng-dongeng pertanian dan tradisi wayang, Serat Gondokusumo (Angling Driyo) dan Serat Angreni, satu bagian dalam cerita Panji.

Satu salinan kisah romantis Jawa populer, Joyo Lengkoro Wulang, yang ditulis dalam kulit kayu ditemukan di markas Diponegoro di Selarong, termasuk koleksi pribadinya. Naskah tersebut berisi tentang aneka ragam seni kenegarawanan dalam bentuk cerita tentang seorang pangeran muda yang berkelana ke seluruh Pulau Jawa dan bertemu dengan banyak guru di banyak bidang kehidupan yang sekolah, yang agamis, dan yang sarat mistik. Inilah jenis kisah yang punya daya tarik menyeluruh di kalangan pembesar keraton masa itu yang mencerminkan pendidikan ideal bagi para satria muda.

Itulah salah satu warisan penting dari Pangeran Diponegoro, dan juga semua pahlawan Indonesia, yaitu spirit  membacanya. Sesungguhnya spirit membaca inilah warisan para pahlawan yang sering terlupakan dan hampir tidak terwarisi kepada rakyat Indonesia hingga sekarang ini. Padahal, apa arti seorang Tjokroaminoto, Soekarno, Hatta, Tan Malaka, dan pahlawan lainnya, tanpa buku, tanpa membaca? Mungkin dapat pula dikatakan bahwa Indonesia merdeka berkat jasa para kutu buku, tentu saja bersama rakyat. (Suherman; This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it )

Last Updated on Monday, 30 January 2017 20:46
 
E-mail

Literasi Di Balik Jeruji  Besi

“Penjara adalah universitas terbaik di dunia ini” kata Malcolm X. Dia berkata seperti itu karena tidak pernah memasuki bangku kuliah bahkan sekolah SMP pun tidak tamat. Satu-satunya tempat ia belajar untuk menjadi seorang intelektual adalah penjara. Selama 10 tahun dia hidup di penjara dan selama itu pula ia bergulat setiap hari dengan buku (otodidak). Selama di dalam penjara dia berhasil mentransformasi diri atau melakukan revolusi mental—dengan  menanamkan tradisi literasi (membaca)—dari  seorang bajingan menjadi seorang intelektual bahkan dianggap sebagai pahlawan.

Dari sejarah para pahlawan nasional kita juga dapat belajar bahwa penjara merupakan salah satu tempat untuk menempa diri  secara literasi. Tanpa dibui ungkin tidak akan lahir Indonesia Menggugat dari Bung Karno dan Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka. Tanpa di buang ke Pulau Buru mungkin tidak akan lahir  tetralogi : Bumi Manusia, Jelek Langkah, Anak Semua Bangsa, dan Rumah Kaca karya Pramoedya  Ananata Toer, dan karya Pulau Buru lainnya. Kalau tidak diasingkan ke Tanah Merah (Digul)   mungkin tidak akaan terbit Alam Pikiran Yunani karya Bung Hatta yang kelak dijadikan mahar untuk menyunting Ibu Rahmi. Bahkan Soekarno sendiri mengakui bahwa dia mengenal lebih jauh tentang  Agama Islam dengan cara banyak membaca waktu beliau dipenjara.  Dan banyak lagi karya intlektual dari penjara.

Dilandasi oleh cerita tersebut di atas maka saya bermimpi apabali suatu hari bisa menyambangi penjara untuk malakukan penyadaran tentang pentingnya membaca di kalangan para napi.  Dan mimpi saya ini menjadi kenyataan. Pada tahun 2012 saya bekerja sama dengan Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Ciamis Jawa Barat mengadakan kegiatan safari budaya baca ke berbagai segmen masyarakat, salah satunya ke penjara. Melalui kegiatan ini diharapkan minat membaca bisa tumbuh di kalangan para napi. Dan apabila sudah tumbuh maka kehidupan di napi akan diisi dengan  kegiatan membaca tentang berbagai bidang yang mereka sukai.  Dari kegiatan membaca ini kelak akan merubah pola pikir dan akihirnya bisa mengubah karakter mereka. Kelak setelah keluar  dari penjara mereka menjadi manusia baru yang siap untuk beradapatsi kembali dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Lebih jauh lagi kami berharap para alumni penjara ini akan  menjadi “Malcolm X” yang lain yang bisa mengubah dunia, ya paling tidak dunianya sendiri.

Dari berbagai cerita ternyata bermacam-macam cara terpidana dalam mengisi hidup di dalam penjara. Ada yang mengasah keahlian kriminalnya dengan berguru kepada napi lain yang lebih ahli. Sehingga  sering terdengar perkataan masuk penjara sebagai penjahat kelas teri dan keluar  menjadi penjahat kelas kakap. Penjara menjadi “sekolah” untuk menaikan kelas atau status kekriminalannya. Tetapi ada juga yang mamanfaatkan penjara sebagai tempat istirahat yang paling sempurna karena tanpa banyak diganggu, sehingga  dalam masa hukuman banyak diisi dengan kegaitan ibadah dan renungan.  Dan yang paling menarik adalah yang dilakukan para politisi. Mereka menjadikan penjara sebagai “kawah candradimuka “ yang mesti dilalui untuk kemudian menjadi orang besar atau pahlawan.

Penjara bukan hanya sebagai lembaga pemasyarakatan atau pembinaan akan tetapi bisa menjadi lembaga pendidikan  yang efektif untuk akselerasi pemembentukan  karakter manusia berbasis literasi. Situasi dan kondisi di penjara sangat mendukung untuk melakukan kontrol yang ketat terhadap proses pendidikan para napi. Para napi sangat mungkin untuk fokus karena faktor pengalih perhatian (nonton, kongkow, dan lain-lain kegiatan yang hanya membuang wakatu) yang terbatas bahkan tidak ada, sedangkan waktu yang tersedia cukup luang.


Di mana-mana penjara melebihi kapasitas, di masa depan semoga tidak semakin panjang  antrian ini. Beragam motif mereka berbuat kriminal. Saya mengimpian penjara menjadi semacam lembaga pendidikan istimewa untuk mendidik manusia yang tangguh. Dengan berbekal keberanian dan kenekatan yang telah mereka memiliki tinggal diarahkan ke perilaku yang positif.

Bertahan menggelosot di atas tegel tanpa alas, dari pagi hingga siang hari mereka bertahan.  Yang dijalankan di lembaga pemasyarakatan terkadang terapi efek jera bukan penyadaran. Sebenarnya mereka bisa diterapi dan direhabilitasi dengan metode literasi yang disebut dengan bibliotheraphy yang dapat menumbuhkan sebuah kesadaran bahwa yang meraka lakukan selama ini hakikatnya hanya merugikan diri sendiri dan orang lain. Tidak ada cara lain untuk meraih kemulian hidup selain dengan  pengetahuan yang salah satu instrumen utamanya adalah membaca.

Duh, Gusti! Anak-anak seusia mereka semestinya tidak dihabiskan di dalam penjara.  Ini terjadi karena mereka tuna-literasi  dan tuna-perhatian orang tua. Hidup mereka  tidak terarah yang akhirnya mereka menjadi “anak-anak zaman”  yang semakin buas menerkam mangsa.

Dengan sentuhan yang mampu membuaka kesadaran, pola pikir,  dan paradigma sebernarnya mereka siap utnuk berubah. Testimoni dari seorang napi, sambil bercucuran air mata berjanji akan menjadi ustadz bila kelaur dari penjara.

Seanadainya di setiap penjara ada buku mungkin mereka akan menjadi “para penghuni penjara yang mengubah dunia.” Mereka bisa “ngapak dunya lantaran maca (keliling dunia karena membaca—bhs. Sunda)” Tidak tersiksa di dalam sempitnya ruang penjara.

 

Suherman; This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

Last Updated on Wednesday, 18 January 2017 15:36
 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  Next 
  •  End 
  • »


Page 1 of 5

Balai Pustaka

1. Di Bawah Lindungan
2. Siti Nurbaya

Selamat Datang Sahabat ^_^
Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

Kemiskinan

Literasi Sains & Teknologi

Artikel Pilihan


The Inspirational Librarian



Get the Flash Player to see this player.

time2online Joomla Extensions: Simple Video Flash Player Module

Statistik Anggota

  • Total Anggota 1,976
  • Sedang Online 15
  • Anggota Terakhir WillArckteesy

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterTotal9034966
DSCF8794.jpg

Kalender & Agenda

February 2017
S M T W T F S
29 30 31 1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 1 2 3 4

Contoh Proposal

Contoh Proposal

Google+ Facebook Twitter mail SC