FILM SYNOPSIS "ALAT BANTU AMBULASI JALAN"”

Kamaludin 11 Jun 2021 Kolom Sivitas 208 Kali

Film dengan judul: Alat bantu ambulasi jalan. Film ini berdurasi 12:16 dengan produser: UPT Balai Informasi Teknologi-LIPI, Dyah Hardini, Sutradara: Kamaludin, Penulis skenario: Penny Sylvania Putri, Kamerawan: Deni Barshani. Diproduksi tahun 2010.

Kota Surakarta adalah salah satu kota yang terletak di Jawa Tengah juga dikenal dengan sebutan Kota Solo yang terletak pada jalur strategis yang dalam perkembangannya dikenal sebagai kota dagang, kota wisata dan kota budaya.

Sejak tahun 1956 Kota Surakarta dikenal sebagai kota Pusat Rehabilitasi di Indonesia yang sejak itu dijadikan sebagai pusat rujukan nasional dalam bidang Ortopedi.

Saat ini terdapat 12 usaha menengah kecil dan mikro (UMKM) yang memproduksi alat bantu ambulansi jalan pasien yang memperkerjakan tiga sampai lima orang sebagai tenaga kerja.

Kegiatan ini berlokasi di Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari.

Apabila ditarik benang merah setiap UMKM memiliki permasalahannya masing-masing, seperti: perbaikan teknologi proses produksi, pembentukan kelompok usaha bersama, dan pembentukan jaringan permasaran atau networking.

Totok Budi Santoso, SSTFT., MPH, Koordinator Pelaksana Kegiatan IPTEKDA memberikan testimoni sebagai berikut :

“Sebagaiman kita ketahui bahwa tingkat kecelakaan lalu lintas, bencana alam, gangguan fisik yang berupa patah kaki, kelumpuhan, kemudian penyakit-penyakit degeneratif seperti stroke, penyakit vadioskuler menyebabkan manusia itu menjadi mengalami gangguan ketika mengalami aktifitas ambulasi.

Disesuaikan dengan ketinggian pasien, untuk kruk ini bisa hand gripnya itu bisa dinaikturunkan, ada lubang ini, lubang kalau nanti ternyata membutuhkan lebih pendek, kita nanti akan rubah lubangnya, posisi atau kedudukannya yang dirubah.

Kemudian juga untuk kaki-kakinya, itu juga bisa dilakukan pemindahan posisi, ini ada lubang-lubangnya, kalau dibongkar nanti masih ada lubang-lubang berikutnya, tapi nanti dibongkar pakai kunci, kemudian dipanjangkan atau lebih dipendekkan disesuaikan dengan ketinggian pasien.

Faktor penting untuk penggunaan walker atau kruk ini adalah factor keamanan jalan, keamanan berjalan bagi pasien; pasien tidak terpeleset, pasien tidak terantuk batu dan seterusnya. Dan juga keamanan pasien, keamanan hasil operasi pasien itu dipastikan aman dengan menggunakan walker atau kruk ini.”

Teknologi proses produksi yang dilakukan bertujuan untuk meningkatkan jumlah produksi dengan menggunakan teknologi tepat guna yang bersifat sederhana, murah, menggunakan bahan dan alat yang mudah didapat di sekitar namun mampu menghasilkan jumlah dan kkkualitas produksi yang lebih baik sehingga diversifikasikan produk yang dihasilkan oleh UMKM akan menjadi lebih banyak setelah alat bantu ambulasi jalan seperti penyangga/gantungan infus, meja dorong, stainless steel.

Sudarsono, Pengrajin alat bantu fisioterapi, untuk rumah sakit, memberikan testimoni sebagai berikut:

“Usaha saya ini saya mulai dari tahun 1998, mula-mula usaha ini dimulai dari ketok tular saudara yang pengrajin yang berhasil. Saya ingin nyoba-nyoba dan akhirnya saya juga mencoba mendirikan usaha ini”.

Cara pembuatan kruk:

  1. Pemilihan bahan baku, terutama pipa aluminum dan perangkat aksesorisnya seperti skrup, mur, baut, aksila support dan karet sepatu pipa
  2. Pengukuran
  3. Pemotongan sesuai kruk (small, medium dan large)
  4. Proses perangkaan
  5. Proses pengeboran
  6. Proses pembuatan canklakan/jok aksila
  7. Proses perakitan dan finishing.

Junaedi memberikan testimoni:

“Perkembangan Yayasan saat ini berjalan dengan baik dan salah satunya adalah industry yang dibina di Kota Solo ini ada beberapa industry ambulasi, kita kembangkan teknologinya dan dari yang tadinya kerja manual sekarang sudah menerapkan beberapa teknologi, mungkin masih teknologi sederhana tetapi sudah ada perkembangan sehingga industry kecil mengambil manfaat dengan peningkatan produktivitas dengan penghematan biaya dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan bagi mereka, disamping itu beberapa industry kecil yang manjadi binaan IPTEKDA LIPI ini yang pada awalnya ada gesekan-gesekan persaingan usaha kemudian bisa kita satukan dalam suatu kelompok usaha bersama sehingga diantara mereka bisa saling bekerjasama, bisa saling mengembangkan teknologi, bisa saling sharing, bagi pengalaman tentang pengembangan usaha mereka sehingga industry ambulasi di Kota Solo turut berkembang, bahkan beberapa industry tidak hanya mengembangkan produk seperti kruk, walker tetapi juga sudah mulai mengembangkan bedtrasi dan sebagainya”.

Pengenalan dan pelatihan kepada para UMKM tentang penggunaan alat proses produksi telah dapat meningkatkan jumlah dan mutu produk alat bantu ambulasi jalan pasien.

Membawa bendera PT. Guyub Rukun Abadi, Bapak Totok Budi Santoso membawa hasil kerja keras dari teman-teman UMKM di Surakarta untuk berpartisipasi dalam Fisioterapi Expo 2010 yang diselenggarakan oleh Ikatan Fisioterapi Indonesia di Bandung.

Diharapkan dimasa yang akan datang, para pengrajin UMKM ini dapat membuat inovasi dari bentuk ambulasi yang sudah ada dan dengan bentuk disain yang lebih menarik.

Pada tahun ini, ketika krisis global melanda UMKM diharapkan sebagai penopang ekonomi sehingga gangguan pertumbuhan ekonomi tidak terlalu besar.

Wahyuni, Universitas Muhammadiyah, Surakarta memberikan testimony:

“Jadi Kota Solo ini dari sejarahnya, Prof. Suharso itu dikenal sebagai kota rehabilitasi, jadi harapan kami nanti bahwa kota ini, itu bisa kembali menunjukkan dulu kota ini bisa menjadi kota rehabilitasi dan itu akan muncul lagi bahwa tidak hanya sekedar Kota Solo itu sebagai kota batik saja, tetapi juga kora rehabilitasi”.

“Harapan kami kedepan, program IPTEKDA ini terus bisa dijalankan oleh LIPI sehingga banyak industry kecil yang lain bisa terus dikembangkan, baik dengan kerjasama perguruan tinggi baik dengan kerjasama penelitian-penelitian ataupun pengabdian masyarakat yang lain.”